[Sinopsis] Boku To Star No 99 Nichi Episode 8
Baju Kohei ditarik oleh Naoko. "Ada apa?"tanya Kohei.
Yuna yang sedang duduk di sofa melihat Kohei dan salah tingkah, begitu juga Kohei.
Naoko melihatnya dan bertanya,"aku sudah tahu. Ada yang mau kalian akui?"
Yuna dan Kohei diam saja.
Naoko membanting foto-foto ciuman mereka. "Apa-apaan ini?! Jelaskan!"bentak Naoko.
Yuna dan Kohei terkejut.
"Apa yang terjadi Yuna?"tanya Naoko lagi.
"Itu...", Yuna melihat ke arah Kohei.
Kohei akan mengatakan sesuatu namun dia terkejut ketika melihat tulisan nama diamplop. Dia lalu ingat saat Naoko memberikan uang ke Kazuya dan Kazuya mengatakan bahwa mimpi tidak akan mengisi perut.
"Aku akui, aku yakin kau sanggup melindungi Yuna dari apapun. Sejujurnya, aku tidak berpikir hal seperti ini akan terjadi,"kata Naoko sambil menunjuk foto-foto itu.
"Aku minta maaf!"kata Kohei sambil membungkuk.
"Aku akan urus hal ini. Yuna, tolong bersikaplah realistis. Dalam situasi seperti ini kita harus tenang. Jangan tunjukkan kekhawatiranmu."
Kata-kata Naoko terpotong oleh kedatangan Kon-chan.
"Permisi,"kata Kon-chan.
Kohei terkejut melihat Kon-chan.
"Mulai hari ini kau dipecat," kata Naoko. Yuna terkejut dan berdiri. "Aku tidak bisa membiarkanmu berada di samping Yuna bahkan untuk sedetik pun. Bila kau paham, pergilah."
Kohei dan Yuna berpandangan namun tidak ada yang mengatakan sesuatu.
"Baiklah,"kata Kohei lalu membungkuk dan keluar.
Yuna mendatangi Naoko. "Dia tidak bersalah. Aku yang harusnya disalahkan, jadi..."
"Yuna, aku juga kecewa padamu. Kau bilang kau mau menguasai dunia, tapi kau justru tersandung masalah kecil seperti cinta. Aku harap kau akan berubah setelah melihat ini," Naoko mengeluarkan naskah berjudul 'A Near Beauty's Concert'.
"Kau ditawari peran di film produksi Hollywood,"kata Naoko.
"Hollywood?!Menakjubkan!"kata Kon-chan terkesima. Naoko melirik ke Kon-chan dan Kon-chan langsung terdiam. (lagi serius,Kon-chan...)
"Sang sutradara terpesona oleh penampilanmu yang 'bersih dan mudah disukai',"kata Naoko lalu mengambil foto ciuman. "Kalau ada seseorang yang senang dengan menulis skandal dengan pengawal ini, tawaran ini pasti akan hilang."
Yuna diam terkejut dengan tawaran itu.
"Tambahan lagi, Kohei juga tidak akan tenang." Yuna memandang Naoko. "Dia akan dikejar-kejar oleh wartawan juga. Cerita keluarganya yang berantakan juga akan diketahui oleh umum. Dia tidak akan mendapatkan pekerjaan yang baik, apalagi dibiarkan tenang untuk mengejar mimpinya. Dengan kata lain, dia tidak akan mendapatkan pekerjaan di observatorium kan?" (betul juga kata-kata manajer Naoko ini...). Yuna hanya diam karena terkejut.
Di kantor, Emiko sudah menunggu Kohei.
"Aku tahu apa yang akan kau katakan. Aku dipecat kan?"kata Kohei.
"Pertama,jelaskan apa yang terjadi. Jadi itu benar ya?" Kohei tidak menjawab apa-apa.
"Kau bilang kau kembali sebagai pengawal Yuna kan?"lanjut Emiko.
"Ya. Aku masih meyakini hal itu."
"Meskipun kau bilang kau masih yakin bukan, lebih tepatnya membodohi dirimu bahwa kau masih yakin kau kembali sebagai pengawalnya, dia mungkin tidak tahu! Aku punya firasat jelek sejak kalian berdua bertemu. Siapa yang sangka firasatku menjadi kenyataan."
"Aku sebenarnya..."
"Kau dipecat!"potong Emiko. "Kau yang membuat jadi begini."
"Aku mengerti. Permisi,"kata Kohei sambil membungkuk. (kasian wajah Kohei kayak orang udah ga tahu harus berbuat apa..)
Emiko memandangi Kohei yang berjalan keluar, "Jadi ini pembuktianmu, Kohei."
Kohei berlari-lari menemui Kazuya di sebuah cafe dekat pelabuhan. (kayaknya ini kapal dibuat jadi cafe...)
"Aku sudah menunggumu. Untuk seseorang dengan profesi sepertimu, kau termasuk terlambat,"kata Kazuya.
"Apa yang kau lihat di foto itu hanya sebuah kesalahan impulsif. Tolong jangan terbitkan itu,"pinta Kohei.
"Itu tindakan impulsif atau tidak, faktanya hal itu terjadi. Aku sudah pernah mengatakannya... foto tidak berbohong."
"Tolonglah!Aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku. Tapi, Yuna..."
"Tidak bisa menerima komentar?"potong Kazuya.
"Bila bisa kulakukan, aku akan melakukan apapun! Jadi, tolong..."
"10juta."
"Hah?"
"Kalau kau memberiku 10 juta, aku akan melakukan apa yang kau minta. Well, sebenarnya aku ragu kau bisa mengumpulkan uang sejumlah itu." Kazuya kemudian berdiri di dekat bar. "Tidakkah kau pikir kau salah mengartikan situasi ini?"
"Hah?" Kohei tidak mengerti.
"Memperoleh rasa cinta majikanmu, melampaui tugasmu sebagai pengawalnya dengan bekerja sangat keras, dan mengejar 'hadiah'?"
"Tidak sama sekali! Aku tidak mengejar hadiah," Kohei bangkit berdiri juga.
Kazuya membalikkan badan menghadap Kohei. "Jadi, kau mengatakan kau serius?"
Kohei terdiam.
"Seorang bintang yang berkelakuan baik dan terkenal, Han Yuna, 'bermain' dengan pengawal kecil yang naïf. Hahaha.. Headline itu pasti akan menarik. Bagiku, ini adalah mangsa paling empuk. Bagi kalian berdua, ini adalah hasil yang terburuk kan? Kapanpun aku melihat wajah 'pahlawan keadilan'-mu itu, aku ingin memukulnya. Cepatlah pergi." Kohei kesal namun tidak mengatakan apa-apa.
Yuna dipuji oleh sutradara karena aktingnya yang bagus, namun Yuna tidak dengar dan langsung duduk. Dia ingat saat dia terjatuh ke kolam dan Kohei bermaksud menolongnya, namun justru ditarik oleh Yuna.
Takanabe memandangi Yuna yang tidak bersemangat dan melamun terus. Kemudian pandangannya ke arah Kon-chan yang saat itu sedang menguap. Kon-chan merasa dipandangi dan merasa bersalah karena dia baru menguap. Takanabe bangkit berdiri dan mendatangi Kon-chan dengan tajam.
"Tenang!Tenang!" Kon-chan ditarik dan didorong oleh Takanabe.
"Hei,apa itu benar?" Takanabe menarik kerah Kon-chan. "'Momen' antara Yuna dan Kohei dipotret dan foto itu dikirim ke kantormu?"
"Ya,benar. Manajer Serizawa marah dan memecatnya. Lalu menyuruhku menggantikannya," Kon-chan menjawab dengan takut lalu meminta agar dilepaskan.
Takanabe melepaskan Kon-chan dengan wajah kesal.
"Sialan kau, Kohei! Menempatkan Yuna di posisi berbahaya..." Takanabe memandangi lagi Yuna yang sedang melamun.
"Aku tidak bisa membiarkan situasi ini di tangan Kohei. Aku akan... aku akan melindungi Yuna,"kata Takanabe dengan wajah penuh tekad.
Kohei sedang berjalan dan mengingat-ingat perkataan Kazuya tentang Kohei yang mengejar 'hadiah' dan apakah Kohei berarti serius dengan Yuna.
Kohei berhenti tiba-tiba. "Apa yang harus kulakukan?"tanyanya pada diri sendiri.
Kon-chan memeriksa kamar Yuna kemudian mempersilakan Yuna masuk. "Semua bersih. Silakan masuk."
Yuna dan Hijin masuk, namun Yuna berhenti. Tanpa memandang Kon-chan, Yuna bertanya,"Kaktus..?"
"Kohei dipecat dari perusahaan."
Yuna terkejut dan memandang Kon-chan, "Dipecat dari perusahaan?"
"Ya.Tapi hal ini tidak dapat dicegah. Bagi seorang pengawal, memiliki affair dengan bos-nya adalah hal tabu. Umm, jadi kau benar-benar memiliki perasaan pada Kohei...? apakah gambar itu.." Kon-chan ingin bertanya, tapi dipotong oleh Yuna.
"Kerja bagus. Maaf aku menahanmu. Kau boleh pulang."
"Baik. Permisi." Kon-chan pamit dan membungkukkan badan kemudian pergi. Sambil menutup pintu, Kon-chan bergumam, "Itu yang aku pikirkan. Terlalu aneh."
Kohei pulang rumah. "Aku pulang,"katanya.
Duar!Duar! "Kohei, selamat!"kata Sumire dan Ren.
"Selamat!"kata Yukiko.
Kohei terkejut.
"Selamat atas cinta pertamamu!"kata Yukiko, Sumire dan Ren bebarengan sambil menunjuk papan besar.
Ruangan kamar Kohei didekor untuk merayakan cinta pertama Kohei. (hehehe..Kohei dipecat, kok keluarganya malah seneng gara2 Kohei jatuh cinta)
"Apa-apaan ini?"
"Ini kesempatan yang langka,"kata Yukiko sambil memukul lengan Kohei. "Adikku yang berumur 40 tahun akhirnya menjadi seorang pria. Sebagai seorang kakak,bagaimana aku bisa mengendalikan kebahagiaanku?" Yukiko lalu menunjukkan foto ciuman Kohei dengan Yuna yang ternyata juga dikirim ke rumah Kohei. Kohei merebut foto itu.
"Selamat!Selamat!" Sumire dan Ren memeluk Kohei.
"Kohei, kau benar-benar melakukan hal yang baik di saat yang tepat!"kata Sumire.
"Apa maksudmu?!" Kohei berusaha melepaskan diri.
Mitsuya datang. "Kohei, aku tidak tahu tentang hal ini. Aku tidak tahu!" Mitsuya menggoncang-goncang tubuh Kohei.
Kohei marah dan mendorong Mitsuya hingga terjatuh.
"Kalian semua, keluar sekarang juga!"
Yukiko tetap santai. Dia justru merebut foto di tangan Kohei. "Mencium seorang bintang seperti Yuna.. Kohei, kau benar-benar hebat."
"Berikan padaku!" Kohei merebut foto itu lagi.
"Ada tambahan, aku juga akan menikah dengan bintang sumo!"kata Yukiko mengumumkan berita baiknya. (menurut Yukiko.. Menurut yang lain malah berita buruk..)
"Hah?Tidak mungkin!"kata Ren.
"Jadi kau serius ketika kau bilang akan menikah?"tanya Sumire terkejut.
"Dojo sumo-nya benar-benar besar! Plus, kalian akan dikelilingi oleh murid-muridnya. Dia akan bersikap lebih baik pada kalian dibandingkan Kohei." (hei, Yukiko, udah bikin susah, malah menjelek-jelekkan Kohei..)
Ren mendorong Yukiko. "Aku tidak mau!"teriak Sumire dan Ren.
"Aku tidak mau makan Rebusan Sumo setiap pagi!"kata Ren sambil memukul-mukul Yukiko.
Sumire dan Ren mendatangi Kohei. "Uncle Kohei, katakan sesuatu!"
"Ayolah,Rebusan Sumo bisa kalian tahan! Kalian akan bersama dengan ibu kalian,"kata Kohei melepaskan diri dan duduk makan.
"Itu benar! Kalau tidak ada kalian, bibir Kohei akan menjadi milikku!"kata Mitsuya dan bermaksud mencium Kohei tapi didorong oleh Kohei.
"Mitsy!Lepaskan! Lagipula, aku sekarang tidak ada pekerjaan. Aku tidak bisa merawat kalian."
"Hah?", Sumire dan Ren kaget.
"Mungkinkah foto itu penyebabnya?"tanya Yukiko.
"Jadi,mulai sekarang kau tidak akan bertemu Yuna?"tanya Mitsuya bersemangat tapi tidak dijawab oleh Kohei.
"Hei,kalian berdua, pergilah ke Dojo Sumo,"kata Mitsuya sambil mendorong Sumire dan Ren.
"Tidak,tidak mau!" Sumire dan Ren menjauh dari Mitsuya dan mendatangi Kohei. "Hei,Kohei, aku tidak mau menjadi pegulat sumo!" Ren dan Sumire menarik-narik baju Kohei yang sedang makan."Aaarrghh!"teriak Kohei.
"Jadi itu benar?"tanya Taesung.
"Foto itu dikirim ke rumah kami juga. Jadi, tidak ada keraguan,"jawab Momo. "Aku sudah merasakan ada sesuatu di antara mereka, tapi siapa yang tahu ternyata bisa sejauh ini?"
Taesung menghela napas.
"Hei,apa yang harus kita lakukan? Bila foto itu diterbitkan, kita akan didatangi oleh para wartawan juga kan?"tanya Momo.
Taesung bangkit berdiri.
"Apa yang akan terjadi pada Kohei?! Manajer Serizawa pasti tidak mengijinkan adanya hubungan di antara mereka!"
Taesung hanya diam berpikir.
"Takanabe-san!"panggil Naoko.
"Maaf,memanggilmu tiba-tiba. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan,"kata Takanabe yang sedang menunggu Naoko di atap gedung.
"Apakah tentang Yuna?". Takanabe menganggukkan kepala.
"Maaf,terjadi hal seperti ini." Naoko membungkukkan badan.
"Tidak apa-apa, tapi apa yang reporter itu minta?"tanya Takanabe.
"Dia minta disiapkan 10 juta."
"10juta?!", Takanabe memukul pagar atap gedung.
"Tapi,aku tidak tahu akan terjadi hal seperti ini. Apakah uang benar-benar tujuan sesungguhnya?"
"Bisakah kau membiarkan aku mengurus hal ini?"tanya Takanabe.
"Apa?", Naoko terkejut.
"Aku punya ide. Biarkan aku mengurus hal ini."
"Takanabe-san?"
"Tapi ada hal yang ingin aku sampaikan padamu. Aku mengatakan hal ini bukan demi rating film. Aku mencintai Yuna,"aku Takanabe dengan serius. (wuih...)
Naoko terkejut.
"Aku tidak ada maksud menghalangi karirnya. Bagaimana menurutmu?"tanya Takanabe. Naoko hanya diam memandang Takanabe.
"Kohei,lihat ini,"kata Mitsuya yang memegang nampan di depan celemeknya.
Kohei yang juga mengenakan celemek menoleh.
Mitsuya menurunkan nampan, "Suami-Istri Cumi-Cumi,"katanya.
Kohei memandangi celemek bergambar cumi-cumi itu lalu melanjutkan mengelap meja."Kenapa kau begitu bodoh?! Kalau kau keberatan, jangan melakukan hal itu!"kata Mitsuya, tapi Kohei diam saja dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Aku mengerti. Jadi, kau menunjukkan pendirianmu. Apakah aku harus membiarkanmu membayar sewa?". Kohei mendongak.
"Kau tidak ada pekerjaan. Apakah kau bisa membayar, Kohei?"
Kohei lalu mengangkat piring-piring kotor dan mau membawanya ke dalam ketika Taesung masuk ke kedai.
"Ah,itu adik Yuna!", Mitsuya terkejut.
"Kohei-san,bisakah kita bicara sebentar?"
Taesung menyentuh hadiah Yuna untuk Kohei di atas meja.
"Aku mengerti. Jadi Momo mengatakannya padamu? Maaf mengkhawatirkanmu. Ini,"kataKohei sambil menyerahkan segelas teh.
"Aku baik-baik saja. Ada batasan apa yang media bisa lakukan untukku. Tapi, dalam kasus Yuna...", Kohei kemudian terdiam.
"Kohei-san,apakah kau menyukai kakakku?", Kohei hanya memandangi Taesung. "Apakah kau menyukainya?"tanya Taesung lagi.
"Aku...Aku... tidak bisa melakukan apapun selain duduk dan menunggu. Menyedihkan bukan?", Kohei membalikkan badan dan duduk.
"Kau yang mengatakan padaku 'hidup di dunia yang berbeda bukanlah masalahnya'."Taesung lalu duduk di samping Kohei. "Kau juga yang mengatakan padaku 'Bila kau berpikir positif, kau bisa mencapai segalanya' kan?". Kohei menundukkan kepala. "Kohei-san,aku ada permintaan."
Ting-tong. Yuna melihat dari lubang pintu dan melihat Kohei di depan kamarnya. Yuna langsung membuka pintu.
Setelah menoleh kanan-kiri, Yuna menarik Kohei masuk.
"Kenapa?Kenapa kau di sini? Apakah kau paham situasi saat ini?"cecar Yuna.
"Aku mengerti. Ini.. sesuatu dari Taesung,"kata Kohei sambil menyodorkan amplop.
"Dari Taesung?", Yuna lalu mengambil amplop itu. "Dia mengkhawatirkanmu,"kata Kohei lagi. Yuna lalu membuka amplop itu. Surat Taesung ditulis dalam bahasa Korea. "Karena kau mengatakan pada semua orang bahwa kau mempercayaiku, aku memutuskan melakukan yang terbaik dan mencoba lagi. Terima kasih, Kak...
Aku percaya padamu juga. Apapun yang orang lain katakan, aku di sampingmu.
Aku harap kau mempercayai perasaanmu sendiri.. Aku mengharapkan kau bahagia".
Yuna memeluk surat itu dan menangis. Yuna memandang Kohei dan mengingat perkataan Naoko tentang Kohei yang tidak akan hidup tenang.
Yuna membulatkan tekad. Tanpa memandang Kohei, dia berkata,"Itu adalah sebuah kebohongan. Jadi, tolong jangan datang kemari lagi. Kau kelihatan tidak berpengalaman dalam hal cinta, jadi aku menggodamu sedikit."
Yuna lalu memandang Kohei. "Itu semua adalah kebohongan."
Kohei tertegun lalu berkata, "Aku mengerti..."
Dengan nada ceria dia melanjutkan, "Aku lega mendengarnya. Aku sudah menduga bahwa kau hanya menggodaku. Tapi kalau kau serius, kita akan berada dalam situasi sulit. Kau lihat... aku hanya orang biasa... Kau bisa mengatakan ini bukan gayaku...atau, aku tidak tahu bagaimana harus bersikap. Ya kan?"
Yuna bingung harus menjawab apa. Dia menundukkan kepala saat matanya berkaca-kaca."Umm..Aku tidak apa-apa kalau ini hanya permainan... Hanya sekali saja, bisakah kau tersenyum untukku? Aku... benar-benar suka saat melihatmu tersenyum. Hadiah karena terjebak dengan aktris yang keras kepala dan tidak dapat diprediksi?"pinta Kohei dengan tersenyum. (mata Kohei berkaca-kaca hiks2...)
Yuna akhirnya tersenyum sebentar."Terimakasih. Aku senang pernah bekerja untukmu! Selmat tinggal", Kohei lalu keluar kamar.
Yuna ingin menyusul Kohei, tapi menahan diri. Dia lalu jatuh terduduk di dekat pintu dan berusaha menahan tangis tapi akhirnya menangis juga.
Di luar, Kohei berdiri memandangi pintu kamar Yuna dengan sedih kemudian berjalan pergi pergi. (hiks.. hiks.. hiks...)
"Benar-benar mengejutkan..."kata Kazuya sambil menuang minuman ke gelas. "Tidak bisa dipercaya seseorang seperti Takanabe Yamato menemui seseorang sepertiku."
Takanabe yang mengenakan kacamata hitam hanya menjawab, "Ya"sambil menganggukkan kepala."Jadi?Apa yang kau inginkan?"tanya Kazuya.
"Aku ingin meminta bantuanmu."
"Bantuan?"
"Sebelumnya,kau mengambil foto Yuna dengan pengawalnya... aku tebak ada cara untuk menutupinya?"
"Menutupinya...kau tidak ingin hal ini berpengaruh terhadap rating drama?"
"Aku tidak bisa bilang hal ini tidak terlintas di pikiranku... Bagaimana pun, bila ada hal yang bisa kukatakan...", Takanabe melepas kacamata hitamnya. "Aku ingin melindungi orang yang aku cintai."
"Orang yang kau cintai?"
"10juta adalah jumlah yang kau minta kan? 10 juta untuk menyingkirkan foto itu?", Takanabe mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jaketnya dan meletakkan dimeja.
Kazuya akan mengambilnya, namun ditarik lagi oleh Takanabe. Takanabe memandang tajam pada Kazuya dan akhirnya menyerahkannya lagi ke Kazuya.
Kazuya mengangkat dan membaliknya. Ternyata itu adalah foto anak kecil gendut sedang memakan es krim.
"Apa ini? Anak kecil yang gendut sekali! Jelas sekali terlalu banyak makan. Jadi,apa ini?"tanya Kazuya ke Takanabe.
"Sebenarnya...Itu..." Kazuya memasang lagi kacamata hitamnya. "Masa lalu Superstar Takanabe Yamato yang tidak diketahui."
"Hah?"
"Aku tidak heran dengan keterkejutanmu. Foto itu berbeda jauh dengan diriku yang sekarang."
"Jangan bilang... kau memberikan ini padaku sebagai pengganti?"
"Simpan kembaliannya,"kata Takanabe sambil minum.
Kazuya terdiam lalu mengangkat foto itu dan menghadapkannya ke Takanabe dengan senyum sinis. Kazuya kemudian menjatuhkan foto itu.
"Foto ini... berharga tidak lebih dari 500 yen,"katanya.
"Apa?!"
"Maaf kalau aku tidak bisa memenuhi harapanmu,"kata Kazuya sambil beranjak pergi.
"500yen?"tanya Takanabe tidak percaya sambil melepas kacamatanya. (hobi banget lepas-pakai kacamata) "Satu koin?"
"Oh ya," Kazuya membalikkan badan. "Aku punya ide bagus. Kau mungkin juga bisa menyelamatkan orang yang kau cintai. Bagaimana menurutmu? Apakah akan kita lakukan?". Takanabe memandang Kazuya dengan serius.
"Kira-kira Kohei bertemu dia tidak ya?"kata Momo sambil keluar dari kedai Mitsuya bersama dengan Taesung.
"Aku yakin segalanya akan baik-baik saja,"kata Taesung menenangkan.
"Jadi,apa yang kau tulis di surat itu, Taesung?"
Taesung hanya tersenyum memandang Momo dan tidak sengaja menabrak seorang wanita yang sedang berdiri di pinggir jalan hingga buku wanita itu terjatuh. "Ah...maaf," kata wanita itu. Taesung membungkuk memungut buku wanita itu dan memberikannya."Terimakasih,"kata wanita itu lagi.
Momo dan Taesung berjalan lagi. "Jadi apa yang kau tulis?"tanya Momo.
Kamera menyorot wajah wanita yang ditabrak Taesung yang ternyata adalah Kuma.
Kuma sedang membaca tulisan di buku dan seperti mencari-cari alamat.
Mitsuya mencuri-curi lihat Kuma yang sedang makan di kedainya dengan pandangan tajam.
"Umm!Ini enak!" kata Kuma tidak sadar sedang diperhatikan.
"Kemunculan rival lain?" Mitsuya berbicara sendiri sambil melihat Kuma. "Plus, yang satu ini sepertinya orang biasa. Tapi.. dia kelihatannya imut." Kohei membuka pintu. "Oi,Kuma. Kenapa kau tiba-tiba datang?"tanya Kohei.
"Senpai!Bukankah aku sudah bilang untuk memanggilku Kozue?"omel Kuma.
"Lebih mudah memanggilmu Kuma,"jawab Kohei santai.
"Kozue?", Mitsuya menatap dengan curiga.
Lampu luar kedai Mitsuya dinyalakan. Mitsuya mengintip dan mencuri dengar pembicaraan Kuma dan Kohei. "Senpai..Kau bohong kan?" Kohei memandang ke bawah, "Ya,"katanya."Apa maksudmu menjawab 'ya'.. Ini kesempatan baik bagimu untuk bekerja di observatorium lagi.. Dan kau sendiri menolaknya.."
"Maaf.."
"Menolak pekerjaan di observatorium.. Apakah ini karena Yuna-san?"
"Hah?"
"Apakah ini berarti Yuna-san lebih penting bagimu daripada bintang?"
Kohei salah tingkah. "Ee.. tidak, ini bukan soal mana yang lebih penting.. Ini karena aku sudah berjanji menjadi pengawalnya selama 99 hari."
"Berarti,aku punya kesempatan juga kan?"
"Kesempatan?"tanya Kohei tidak mengerti.
"Aku...Aku sudah memikirkannya selama sebulan ini... Terus berpikir.. dan menyadari bahwa aku tidak bisa bersikap seperti ini lagi. Bahwa aku harus mengatakan perasaanku atau aku tidak bisa maju.. Karena itu.. aku sudah menentukan." Kohei menganggukkan kepala mengerti.
"Aku..suka...".
Namun perkataan Kuma terpotong kedatangan anak-anak dan Yukiko.
"Ah..Aku lapar!"teriak Sumire dan Ren. "Mitsy! Berikan aku oden,"kata Sumire dan Ren."Kan aku sudah bilang isi dulu perut kalian!"kata Yukiko sambil memukul kepala Ren.
"Aduh!"
"Kita ada tamu. Tamu!"kata Mitsuya memperingatkan. Sumire dan Ren menoleh.
"Sumire-chan. Ren-chan,"sapa Kuma.
"Gadis dari observatorium. Kuma!"sapa anak-anak dengan semangat.
Yukiko menyambut Kuma dengan antusias dan melirik Kohei. Kuma memperkenalkan diri."Ah..ee.. aku, Kumada Kozue. Aku bekerja dengan Kohei di observatorium sebelumnya,"kata Kuma memperkenalkan diri.
"Senang bertemu denganmu. Aku kakak Kohei, Yukiko."
Yukiko mendatangi Kohei dan berbisik, "Pertama aktris, dan sekarang ahli astrologi?Kau benar-benar hebat ya?"
"Kakak apa maksudmu? Kuma adalah juniorku,"kata Kohei.
"Ooo..Tentu saja..", Yukiko tersenyum memandang Kuma.
Sumire dan Ren memesan makanan ke Mitsuya. Kohei menyuruh mereka meminta ibu mereka membelikan untuk mereka. Tapi Yukiko tidak mau. Kuma memandang keributan itu dan tersenyum.
Kohei mengantarkan Kuma yang akan pulang.
"Apakah selalu seperti itu? Kelihatannya menyenangkan. Aku iri melihatnya,"kata Kuma.
"Betulkah?"
"Betul-betul terasa seperti keluarga."
"Keluarga yang aneh sebenarnya."
Kuma terdiam sebentar. "Senpai.. Apakah kau tidak ingin membangun keluargamu sendiri? Apakah kau... berencana menikah?"
"Menikah?". Kuma berhenti berjalan.
"Aku..menyukaimu, Senpai."
Kohei mengangguk-angguk, lalu "Apa?!" (lemot..)
"Aku menyukaimu... melebihi bintang. Apakah ini hanya sebuah janji atau tidak..Kalau kau menyukai Yuna-san melebihi bintang-bintang.. aku akan menyerah. Tapi bila tidak... Bisakah kau memberiku kesempatan?". Kohei diam terkejut.
"Aku akan berada di Tokyo untuk pelatihan selama seminggu. Tolong beri jawaban sebelum aku kembali. Sampai jumpa." Kuma membungkukkan badan dan berjalan pergi dengan cepat.
"'Suka'?'Lebih dari bintang'? Apa?!", Kohei terkejut sendiri.
Yuna melihat ke arah bintang di langit.
"Polaris,"katanya. Yuna lalu mengingat permintaan Kohei agar Yuna tersenyum karena Kohei benar-benar suka saat melihat Yuna tersenyum.
Mata Yuna berkaca-kaca. Lalu dia melihat pantulannya di kaca jendela dan tersenyum, namun menyadari bahwa dia tidak bisa tersenyum.
Takanabe sedang berolahraga sambil mengingat pembicaraannya dengan Kazuya.
=Flashback=
"Kau bisa menyelamatkan orang yang kau cintai,"kata Kazuya.
"Bagaimana?"tanya Takanabe penasaran.
"Tapi,tetap ada kemungkinan imejmu buruk selama proses itu. Apakah kau sanggup menerimanya?"
=Flashbackend=
"Bisakah aku? Apa yang harus kulakukan?" Takanabe lalu berdiri. "Tidak apa-apa bila hanya aku... tapi Yuna juga akan terluka selama proses itu." Takanabe menjatuhkan diri dan memeluk bola besar di lantai.
"Tapi Yuna juga akan kesal padaku! Tapi, bila aku hanya diam saja, keadaan sulit Yuna tidak akan selesai!", Takanabe membanting bola dengan kesal lalu salto ke sofa."Apa yang harus kulakukan?! Apa yang harus kulakukan?! Aaaarrrggghh!!" (kesal, tapi ekspresi Takanabe lucu... hehehe)
"Jangan biarkan foto itu muncul ke permukaan. Kau harus janji,"kata Takanabe dengan muka serius.
"Tentu,aku berjanji."
"Baiklah."
"Bagus. Aku akan segera menghubungimu mengenai detailnya." Kazuya akan menutup telepon,tapi Takanabe berbicara lagi.
"Aku ada satu persyaratan. Pastikan Yuna terfoto dengan baik. Itu syaratku."
Kazuya hanya tersenyum.
Kohei sedang membersihkan teleskopnya saat dia melihat jepitan baju tergeletak dibawah. Ingatannya kembali saat Yuna memakai jepitan baju untuk menahan rambutnya saat melihat bintang dengan teleskop, lalu saat Yuna menciumnya, dan berlanjut saat dia mengantarkan surat Taesung ke Yuna dan Yuna mengatakan bahwa semuanya adalah kebohongan dan meminta Kohei tidak datang lagi.
Kohei lalu mengingat pernyataan suka dari Kuma.
Kohei mendengar suara Ren dari arah kamar. "Kohei, ada yang ingin kami katakan."
Kohei masuk ke kamar dan kaget melihat Yukiko, Sumire, dan Ren berlutut.
"Kohei,kami ingin menyampaikan salam perpisahan kami,"kata Sumire.
"Meskipun hanya dua bulan.. terima kasih untuk segalanya,"kata Yukiko sambil tersenyum."Karena kau telah mengabaikan kami, kami memutuskan untuk meninggalkan tempatmu,"lanjut Ren.
"'Mengabaikan'?Ah, tempat pejudi sumo itu..."kata Kohei.
"Terimakasih karena telah merawat kami,"kata Sumire. Lalu Yukiko, Sumire, dan Ren membungkukkan badan dan kemudian bangkit berdiri sambil membawa tas-tas mereka."Kalian terlalu berlebihan,"kata Kohei dengan bingung.
Yukiko dan yang lain kemudian keluar dari kamar Kohei. Di pintu, Yukiko menoleh dan berkata, "Kohei, mari bersama-sama menemukan kebahagiaan. Berpikirlah dengan keras." Yukiko tersenyum lalu keluar.
Kohei lalu turun ke bawah. Mitsuya sedang memperhatikan kertas yang dipegangnya.
"Mereka akhirnya pergi. Maaf merepotkanmu sekian lama, Mitsy. Mulai sekarang, situasi akan sepi, jadi kau bisa santai,"kata Kohei ke Mitsuya sambil memasang celemek."Bagaimana kalau kita membuat kondisi benar-benar sepi?"kata Mitsuya.
"Apa?"
"Well..Toko ini sudah mulai menua.. dan lantai 2 juga bocor.. Jadi aku berpikir untuk merenovasinya dan menjadikannya restoran yang baru,"kata Mitsuya sambil berdiri dan menunjukkan kertas desain restoran baru yang dibawanya.
"Keren.."kata Kohei. "Tapi, bagaimana nasibku?"
"Kamarku akan berada di lantai dua. Kau bisa tinggal di lantai dua dengan satu persyaratan..", Mitsuya memandang Kohei dengan tajam. "Menjadi suamiku.
Kohei semula diam lalu berkata, "APA?!"
"Aku sudah mempersiapkan diriku,"kata Mitsuya sambil memeluk Kohei namun ditepis oleh Kohei. "Tapi kau melakukan hal yang sama. Jadi kekasihku atau pergilah ke gadis observatorium itu!"
"Gadis observatorium?"
"Atau,kau bisa pergi ke gadis lain." Mitsuya berjalan mundur hingga ke pintu yang memajang poster Yuna sedang memegang minuman. Lalu Mitsuya menoleh ke arah Kohei. "Tentukan dalam satu minggu ini." Mitsuya berdiri dengan pose menghalangi pintu."Satu minggu? Satu minggu juga?" Kohei berbicara sendiri. (kasian, didesak sana-sini ya.. hehehe..).
Yuna berlari-lari menemui Takanabe.
"Takanabe-san?!Ada apa? Kau bilang kau ingin bicara tentang Kaktus-ku? Apakah dia melakukan sesuatu yang salah lagi? Kesalahan apa kali ini?" Yuna bertanya dengan panik. "Yuna-san..Kau benar-benar menyukainya, kan?" Yuna menunduk, bingung menjawab apa. "Tapi,kau lihat, dia tidak bisa melindungimu. Satu-satunya orang yang bisa melindungimu saat ini adalah aku." Takanabe melepas kacamatanya dan maju memeluk Yuna, lalu menciumnya.Yuna terkejut dan tidak sempat bereaksi. Dari kejauhan, Kazuya mengambil foto mereka.
Yuna mendorong Takanabe lalu menamparnya.
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa melakukan hal seperti ini?" Yuna emosi.
"Yuna-san,tolong mengertilah. Aku menyukaimu. Aku mencintaimu dari dasar hatiku."
"Kau salah. Ini.. semuanya salah." Yuna lalu berbalik dan pergi dengan berlari.
"Yuna-san.."(kok, kayaknya mata Takanabe berkaca-kaca...)
Kazuya memperhatikan Yuna yang berlari pergi lalu memandang Takanabe.
Di depan hotel Yuna, banyak wartawan berkumpul.
Naoko menunjukkan majalah yang menampilkan adegan ciuman Yuna dengan Takanabe. "Bagaimana bisa?" Yuna kaget.
"Dengar. Jangan menyangkalnya. Bila yang menciummu adalah Takanabe, bukan pengawal itu,orang-orang akan berpikir kalian cocok satu sama lain. Pasangan yang setara. Dengan begini, foto yang lain tidak akan muncul. Yuna, kau bisa melindungi pengawal itu dengan tidak menyangkal foto ini. Kau paham?", Naoko lalu berjalan keluar.
Yuna yang merasa kaget tidak bisa menjawab apa-apa.
Di tempat tinggalnya, Takanabe memandangi foto ciumannya dengan Yuna.
"Dengan cara ini semuanya akan baik-baik saja. Baik-baik saja," Takanabe berbicara sendiri lalu merasa marah dan membanting majalah itu ke lantai.
Mitsuya masuk ke kedai dan menunjukkan majalah itu ke Kohei.
"Kohei,lihat ini! Apa menurutmu?"
Kohei terkejut lalu merasa marah. Dia menyerahkan majalah itu ke Mitsuya dan melepaskan celemeknya lalu pergi dengan terburu-buru tanpa pamit.
"Ada apa sebenarnya?" Mitsuya merasa heran.
Kohei berlari cepat menuju suatu tempat.
Yuna hanya diam dan terus berjalan menuju mobil.
Naoko menjawab bahwa saat ini mereka belum bisa berkata apa-apa dan seandainya benar Naoko meminta dukungan untuk hubungan Yuna dan Takanabe.
Pernyataan itu semakin membuat wartawan penasaran.
"Ini tidak mungkin! Benar-benar aneh,"kata Momo sambil menunjuk-nunjuk foto ciuman Yuna dan Takanabe. "Melepaskan kacamata agar wajahnya kelihatan. Benar-benar aneh. Taesung, tidakkah kau merasa aneh?". Taesung hanya diam lalu berjalan pergi dan disusul oleh Momo. "Hei, Taesung! Taesung!"
Di luar tempat Takanabe, wartawan juga sudah berkerumun.
Mereka meminta kepastian hubungannya dengan Yuna dan bertanya apa maksud 'memberikan dukungan' untuk hubungan mereka.
"Kalau pihak Yuna berkata seperti itu, maka aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Lain kali, aku akan mengadakan wawancara. Permisi,"kata Takanabe dengan tersenyum dan masuk ke mobil.
Saat di mobil, Takanabe menerima telepon dari Kohei. Takanabe lalu melihat keluar dan melihat Takanabe berdiri di belakang kerumunan wartawan.
"Menjauhlah dari wartawan dan temui aku. Ada yang harus kita bicarakan,"kata Kohei.Takanabe memandang tajam ke arah Kohei.
Takanabe menemui Kohei di sebuah jembatan. Kohei maju jalan menuju Takanabe lalu meninjunya. "Aduh!Kau.. siapa yang berani memukul aktor tepat di wajahnya?"kata Takanabe dengan kesakitan dan berusaha bangun.
"Kohei,kenapa? Kenapa kau memukulku?"
"Kau berpura-pura bodoh? Setelah bermain seperti ini, kau ingin mundur?"
"Memangnya apa yang aku lakukan? Mencium Yuna maksudmu? Atau karena foto itu muncul di majalah?". Kohei mencengkeram kerah baju Takanabe.
"Kohei!Hentikan sikap tidak pedulimu itu. Inilah cara bersikap bila kau menyukai seseorang." Takanabe mencengkeram pergelangan tangan Kohei. "Inilah arti mencintai seseorang! Yuna benar-benar menyukaimu." Kohei terkejut dan melepaskan cengkeramannya. "Namun kau justru mengatakan 'Aku tidak bisa melakukan apa-apa!' atau "Aku akan menjadi masalah baginya!' Sikapmu yang plin-plan itu membuatmu menjadi pria yang tidak bisa diharapkan dan tidak berharga!"
Takanabe ganti mendorong Kohei. "Foto ciuman Yuna denganku tidak akan menghancurkan reputasi Yuna. Itulah kenapa aku melakukan hal ini. Aku yakin aku tidak pernaha da di hati Yuna. Jadi aku tahu apa yang aku lakukan adalah hal yang kejam."Takanabe maju ke Kohei. "Tapi, aku ingin melakukan apa yang aku bisa untuk melindungi Yuna dengan caraku. Selama kau tetap bersikap seperti ini, aku akan melindungi Yuna dengan caraku sendiri. Ingat itu." Takanabe lalu berjalan pergi meninggalkan Kohei yang masih syok.
Yuna tiba di kamarnya dan membaca lagi surat dari Taesung. Dia lalu mengambil gantungan kunci Taesung yang disimpannya. Yuna mengingat-ingat saat Kohei mengatakan akan menemukan orang yang Yuna cari.
"Kohei..."kata Yuna sambil memeluk surat dan gantungan kuncinya. Yuna lalu melihat ke arah cermin.
Kohei masih duduk di jembatan sambil menunduk. Tiba-tiba Hijin meneleponnya. "Ya?"kata Kohei.
"Kohei,Yuna menghilang!"lapor Hijin dengan panik. "Yuna menghilang?"
"Ya,aku punya firasat buruk."
"Ada apa?"tanya Kohei.
"BigDipper hilang. Penunjuk Yuna hilang. Kohei kau satu-satunya orang yang bisa menemukannya."
"Aku paham,"kata Kohei lalu mematikan telepon. "Ke mana kau pergi?"tanya Kohei.
Kohei lalu berlari menuju tempat-tempat yang pernah dituju Yuna saat dia kabur. Namun tidak menemukan Yuna.
Momo dan Taesung membuntuti Kazuya yang baru keluar dari pub.
Kohei akhirnya berlari-lari menuju tempat kontrakannya.
Di depan, Yuna sudah menunggu Kohei.
"Yuna-san.."Kohei mendatangi Yuna dengan terengah-engah.
Yuna berdiri dan memandang Kohei. "Aku sudah berpikir untuk menyerah jika kau tidak segera datang. Tapi kau selalu menemukanmu. Sebelum dan sesudah kau menjadi pengawalku. Bahkan kau bisa menemukanku hari ini. Karena itu, aku memutuskan untuk memberitahumu pera.."ucapan Yuna terpotong karena Kohei berjalan maju dan memeluknya.
"Aku tidak punya apa pun. Tidak ada uang, status, atau kebanggaan. Membandingkanku dengannya, seperti membandingkan malam dan siang. Aku tidak tahu cara terbaik untuk melakukannya, tapi.. aku akan melindungimu. Aku tidak akan memberikanmu kepada siapa pun. Karena aku ingin melindungimu,"kata Kohei sambil memeluk Yuna.Yuna menangis bahagia. "Terima kasih, Kohei. Terima kasih".
Momo dan Taesung memperhatikan sambil menguping pembicaraan Kazuya di telepon."Belum,ini belum selesai. Masih ada lagi yang akan muncul. Aku punya sesuatu untuk gebrakan final,"kata Kazuya sambil memegang foto ciuman Yuna dengan Kohei.
"Ya,ha ha ha. To long pastikan." Kazuya lalu menutup telepon dan melanjutkan berjalan.Taesungdan Momo terus memperhatikannya.
"Kau jelas punya sesuatu,"kata Yuna. "Kau punya mimpi. Mimpi yang indah."
Kohei diam saja lalu menunduk dan mencium Yuna. Tangan Yuna yang memegang gantungan kuncinya balik memeluk Kohei.
Bagaimana kelanjutan kisah Kohei dan Yuna?
Ikuti terus ya... Kurang 17 hari lagi...
Image by Ari Arata @PelangiDrama
Shareb by PelangiDrama.Net
Dont' Repost to Other Site!!!!!!!!!!!
Author_blog 06 Mar, 2012
-
Source: http://www.pelangidrama.net/2012/03/sinopsis-boku-to-star-no-99-nichi.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com Share on Facebook





















































