HPK

mesothelioma survival rates,structured settlement annuity companies,mesothelioma attorneys california,structured settlements annuities,structured settlement buyer,mesothelioma suit,mesothelioma claim,small business administration sba,structured settlement purchasers,wisconsin mesothelioma attorney,houston tx auto insurance,mesotheliama,mesothelioma lawyer virginia,seattle mesothelioma lawyer,selling my structured settlement,mesothelioma attorney illinois,selling annuity,mesothelioma trial attorney,injury lawyer houston tx,baltimore mesothelioma attorneys,mesothelioma care,mesothelioma lawyer texas,structered settlement,houston motorcycle accident lawyer,p0135 honda civic 2004,structured settlement investments,mesothelioma lawyer dallas,caraccidentlawyer,structured settlemen,houston mesothelioma attorney,structured settlement sell,new york mesothelioma law firm,cash out structured settlement,mesothelioma lawyer chicago,lawsuit mesothelioma,truck accident attorney los angeles,asbestos exposure lawyers,mesothelioma cases,emergency response plan ppt,support.peachtree.com,structured settlement quote,semi truck accident lawyers,auto accident attorney Torrance,mesothelioma lawyer asbestos cancer lawsuit,mesothelioma lawyers san diego,asbestos mesothelioma lawsuit,buying structured settlements,mesothelioma attorney assistance,tennessee mesothelioma lawyer,earthlink business internet,meso lawyer,tucson car accident attorney,accident attorney orange county,mesothelioma litigation,mesothelioma settlements amounts,mesothelioma law firms,new mexico mesothelioma lawyer,accident attorneys orange county,mesothelioma lawsuit,personal injury accident lawyer,purchase structured settlements,firm law mesothelioma,car accident lawyers los angeles,mesothelioma attorneys,structured settlement company,auto accident lawyer san francisco,mesotheolima,los angeles motorcycle accident lawyer,mesothelioma attorney florida,broward county dui lawyer,state of california car insurance,selling a structured settlement,best accident attorneys,accident attorney san bernardino,mesothelioma ct,hughes net business,california motorcycle accident lawyer,mesothelioma help,washington mesothelioma attorney,best mesothelioma lawyers,diagnosed with mesothelioma,motorcycle accident attorney chicago,structured settlement need cash now,mesothelioma settlement amounts,motorcycle accident attorney sacramento,alcohol rehab center in florida,fast cash for house,car accident lawyer michigan,maritime lawyer houston,mesothelioma personal injury lawyers,personal injury attorney ocala fl,business voice mail service,california mesothelioma attorney,offshore accident lawyer,buy structured settlements,philadelphia mesothelioma lawyer,selling structured settlement,workplace accident attorney,illinois mesothelioma lawyer

Menu Navigasi

[Sinopsis J-Drama] Boku to Star no 99 Nichi Episode 7

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
[Sinopsis Boku To Star No 99 Nichi Episode 7]

Kohei, Yuna dan Hijin seperti biasa berada di gedung RXTV. Yuna dan Kohei bermain kata lagi.
"I.. I.. Ishokenmei (lakukan yang terbaik!),"Yuna memulai permainan.
"I lagi? I.. Isseki ni chou (Dua burung satu batu)"lanjut Kohei.
"U.. Uosao (bergerak dari kanan ke kiri)".
"U.. U lagi? U..U..U..Ukosaben (melihat kanan dan kiri). Ah,"kata Kohei.
"Ah. Kaktusku benar-benar tak berguna". PLAK! Yuna memberi headflick pada Kohei. "Dia tidak bisa menggapai impiannya. Dia juga tidak bisa melakukan permainan kata ini. Dengan begini, kemampuan bodyguardmu juga lama-lama akan menghilang,"Yuna menambahkan.
Kohei tidak terima dan menjelaskan kalau ia sengaja kalah. Yuna tidak mendengarkan, melihat nasib Kohei yang semakin tidak baik, sepertinya ia harus terus mempekerjakan Kohei. Kohei memprotes, tapi Yuna terlanjur masuk ke ruang rias dan menyapa para staf drama. Salah satu dari staf itu mendatangi Yuna dan memberikan Yuna skenario untuk hari ini. Kohei terus memandang Yuna. Kohei teringat kembali ketika Yuna menyemangatinya dan mengucapkan perpisahan padanya.
Yuna lalu duduk ke kursinya dan menyapa Takanabe yang sudah lebih dulu disitu. Takanabe menoleh ke arah Kohei dan Kohei pun juga menoleh. Kohei kaget ketika Takanabe melihatnya dan langsung menunduk. Sekarang Takanabe memandang Yuna. Takanabe merasa mereka berdua memiliki hubungan sesuatu.
Di kantor Emiko, Kon-chan membuat kopi. "Kohei benar-benar kembali dengan cepat,"ucapnya pada Emiko. Kon-chan menyesalkan sikap Kohei karena Kohei sudah menyerahkan tugas menjaga Yuna padanya dan juga sudah menetapkan untuk bekerja di observatorium tapi Kohei malah mengacaukan rencananya sendiri, "Jujur aku benar-benar sedih". "Apakah ia benar-benar mengacaukannya demikian?"tanya Emiko sambil mengecek laporan perusahaannya. Kon-chan tak mengerti maksud pertanyaan Emiko. "Siapa yang tahu?"ujar Emiko. Kon-chan jadi berpikir.
Kembali ke RXTV, Takanabe masih menatap Kohei lewat cermin di depannya. "Benar-benar seperti yang diharapkan dari 'Beautiful bath'. Yuna kau lebih cantik dari sebelumnya,"ucap Takanabe. Yuna diam, tak mengerti arah pembicaraan Takanabe. Takanabe menanyakan lagi bukankah 'beautiful bath' itu adalah nama pemandian air panas di dekat observatorium Gunma. Yuna berpikir sejenak dan lalu mengingatnya. "Bukankah kau mengunjungi pemandian air panas itu? Atau kau kesana dengan tujuan lain?"tanya Takanabe. Yuna menjawab kalau ia tidak punya waktu untuk mengunjungi tempat itu dan juga tidak ada tujuan untuk mengunjungi yang lain. Takanabe mengerti. Yuna lalu memuji tempat pemandian air panas di Jepang yang sangat baik, "Mari semua kita pergi ke sana lain waktu". Takanabe mengiyakan begitu juga staf yang ada di sana, mereka senang mendengar ajakan Yuna.
"Tapi sebelum itu, apakah kau tidak ada rencana malam ini,"bisik Takanabe pada Yuna,"Sudah lama kita tidak makan malam, bolehkah?".
"Maaf. Malam ini aku ada sesuatu,"jawab Yuna.
Hijin memanggil Yuna karena sudah giliran Yuna. Yuna pergi dan Takanabe hanya bisa mengangguk mendengar jawaban Yuna. Takanabe memikirkan jawaban Yuna barusan," 'malam ini aku ada sesuatu'? Mungkinkah ia akan menghabiskan malam ini dengan lelaki yang ia sukai?". Takanabe menerka-nerka. Sementara Yuna malah melanjutkan permainan dengan Kohei.
"Ishin-denshin (jiwa komunikasi). Ah,"kata Kohei. PLAK! Yuna memberi headflick lagi. "Aku sudah bilang padamu kalau ini sangat sakit,"Kohei meringis kesakitan. Yuna berjalan keluar sambil tersenyum. "Benar-benar memusingkan,"cela Kohei, tapi Kohei malah tersenyum dan mulai berjaga di depan ruangan.
Para staf mulai mengambil gambar Yuna. Sutradara meminta stafnya untuk mengencangkan anginnya. Tapi stafnya bilang kalau anginnya sudah cukup. Sutradara menuruti apa kata stafnya. Mereka mulai mengambil gambar Yuna.
Di luar ruangan, Takanabe mondar-mandir masuk ke ruang rias. Ketika sudah sepi, Takanabe keluar lagi, melihat sekeliling dan diam-diam mendekati Kohei. Kohei terkejut Takanabe tiba-tiba mendekatinya, sangat dekat. "Kita harus bicara. Aku menunggumu di kafe di Ginza pukul 7 malam,"pinta Takanabe. Kohei tak mengerti maksud Takanabe. Takanabe menjelaskan kalau ia perlu bicara sesuatu dengan Kohei malam ini, "Aku menunggumu".
Kohei menarik tangan Takanabe, "Malam ini aku ada sesuatu..".
Takanabe dengan cepat berbalik pada Kohei. "Kau juga bilang, 'malam ini aku ada sesuatu'?".
Kohei menjelaskan kalau ia ada janji dan Takanabe menebak kalau itu janji dengan seorang pacar. Takanabe melangkah lunglai masuk ke dalam ruangan.
"Aku bisa ke sana sebelum jam 8,"janji Kohei. Takanabe berbalik lagi dan shock dengan ucapan Kohei. Takanabe mengguncang-guncang tubuh Kohei dan berulang kali menanyakan apakah Kohei benar-benar akan datang. Kohei memastikan akan datang sebelum pukul 8. "Aku akan menemuimu pukul 8. Ini janji,"ucap Takanabe sambil memeluk Kohei. Takanabe sangat senang karena telah berhasil menggagalkan rencana malam spesial Kohei dengan Yuna. "Malam spesial?"tanya Kohei.
Malam harinya, Taesung sedang bekerja di sebuah perusahaan konstruksi (Oh no! Taecyon jadi kuli,, kasian). Kohei memanggil Taesung. Taesung pun menghampirinya. "Semakin malam akan semakin dingin. Bekerja di luar akan semakin sulit. Kau baik-baik saja?"sapa Kohei pada Taesung sambil memberikan makanan pada Kohei. Taesung bilang kalau musim dingin di Korea lebih buruk dari ini dan ia baik-baik saja. Taesung berterimakasih pada Kohei yang selalu melakukan ini padanya.
"Ini akan menghangatkanku,"Taesung lalu menggigit makanannya.
"Untuk ukuran sekecil itu sepertinya tidak akan. Lain kali aku akan membawakan 20 buah dan yang masih baru. Sehingga kau harus meniupnya ketika kau memakannya. Sebenarnya, takoyaki jauh lebih baik,"kata Kohei. (aje gile, Taesung bener-bener gede, dibandingin om Kohei...hehehe..)
Di hotel, Yuna bersiap-siap untuk masak lagi. Kali ini ia akan membuat kue, sepertinya. Hijin datang membawa bahan-bahan pesanan Yuna. Yuna berterimakasih pada Hijin.

Di sebuah kafe, Takanabe duduk menunggu Kohei. "Syuting selesai pukul 6. Jika ia mengantar Yuna pulang dan langsung datang kemari, seharusnya sampai pukul 7," Takanabe melirik arlojinya yang menujukkan pukul 20.07. Teringat janji Kohei yang akan datang sebelum pukul 7. "Apa yang ia lakukan selama 1 jam misterius ini? Dengan siapa?" Takanabe menerka-nerka. Bayangan Yuna ketika menolak ajakannya muncul lagi, Takanabe bangkit dari kursinya, "Mungkinkah ia bilang kalau ia akan datang, tapi kenyataannya mereka berdua...".
"Hei, Ganmo!"panggil Kohei sambil berlari masuk ke dalam kafe. Takanabe shock dan memegang kepalanya lalu duduk kembali. Kohei minta maaf kalau ia terlambat datang.
"Ini bukan toko oden. Jangan memesan Ganmo (tahu goreng) ketika kau baru masuk!"omel Takanabe.
"Hey, sudah lupakan masalah ini kawan,"pinta Kohei, "Aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Aku suka ganmo yang gemuk dan aku suka panggilan 'ganmo' juga. Jadi ganmo, apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

Takanabe melihat ekspresi Kohei yang benar-benar tulus lalu memegang kedua pipi Kohei. Takanabe langsung menjentikkan jarinya. Tiba-tiba di belakang mereka lampu menyala dan muncullah 3 orang wanita yang memainkan alat musik. Kohei terkejut sedang Takanabe melangkah menuju panggung kecil itu. Takanabe mulai bernyanyi.
"Happy birthday to you. Happy birthday to you,"
Dua orang wanita lain menarik Kohei ke atas panggung. Kohei tak tahu dan bertanya-tanya.
"Happy birthday dear Kohei," Takanabe menunjuk Kohei. Semua orang di kafe itu langsung mengerumuni mereka dan ikut bernyanyi. Sebuah kue yang sangat besar dibawa kehadapan Kohei.
"Selamat Kohei!"ucap tamu-tamu yang lain. "Eh? Eh?" Kohei masih bertanya-tanya.
"Ganmo!"teriak Kohei, "Itu benar. Hari ini adalah ulang tahunku". Akhirnya Kohei ingat.
"Eh?" Takanabe kaget.
"Aku tak percaya kau mengingatnya sementara aku tidak".
"Eh eh, tunggu. Kau tidak ingat?"
"Terima kasih. Ganmo, kau terbaik!" Kohei memeluk Takanabe.
"Eh. Bagaimana dengan Yuna?"
"Yuna?"
"Maksudmu, kau tidak melakukan sesuatu hari ini?"
"Kau, ini semua untukku. Besar sekali. Itadakimasu!" Kohei tidak memperdulikan Takanabe dan mulai meniup lilin dan memakan kuenya. Jadi Takanabe sudah salah duga, ia pikir Kohei punya acara bersama Yuna. Pelayan kafe itu memberikan segelas sampanye dan susu. (susu? Pasti itu buat Kohei yang gag bisa minum). Takanabe masih shock dengan segala perkiraannya dan kenyataan sebenarnya yang terjadi. "Mari kita bersulang untuk 'malam spesial' kita," Takanabe langsung menenggak minumannya, berkumur-kumur lalu menelannya.
"Aku tidak bisa makan apapun lagi,"ucap Kohei melangkah pulang ke rumahnya. Kohei mengkhawatirkan keadaan Takanabe. Kohei masuk dan mendapati Momo yang sedang membuat kue. "Momo maaf aku pulang terlambat. Betapa mengejutkan kalau ada seseorang yang ingin merayakannya denganku,"ucap Kohei. Tapi Momo tak menggubrisnya dan menyuruh Kohei menyingkir. Kohei meminta agar Momo jangan marah padanya, tapi Momo tetap diam. Kohei mengguncang-guncang pundak Momo. Momo merasa terganggu, "Sudah kubilang, kau menghalangi jalan! Menyingkir!". Kohei terdorong ke belakang. CREEKK! Kue yang sudah Momo buat tergencet tangan Kohei. Momo kaget dan memandang Kohei sinis. Dengan hati-hati Kohei mengangkat tangannya, kue Momo menempel di tangannya. Kohei lalu mengembalikan potongan kue di tangannya ke tempat semula. Kohei merasa bersalah telah menghancurkan kue Momo. BUAKK! Kohei terlempar di tendang Momo. (Momo sadis). Momo melanjutkan mengocok krimnya.
Yuna selesai membuat kue lalu menyalakan lilin. "Selamat ulang tahun,"ucap Yuna dan meniup lilinnya. Yuna merayakan ulang tahun siapakah? Koheikah? Atau orang lain?
Kohei dipanggil Emiko untuk segera datang ke kantornya. Kohei bergegas datang. Emiko menyerahkan kado ulang tahun untuk Kohei. "Terima kasih banyak, meskipun sudah telat sehari,"ucap Kohei. Kohei membuka bingkisannya dan mendapatkan gantungan bulan dan bintang. "Cocok dengan maniak bintang sepertimu, benar?"kata Emiko. Kohei sangat menyukai hadiahnya.
"Sudah 40 tahun, eh? Kau tak terlihat tua," Emiko memandang Kohei.
"Terima kasih".
"Ini bukan pujian. Ini saatnya kau mengatur hidupmu,"ucap Emiko.
"Ah, maksudmu menikah?"
"Maukah kau berhenti menjadi bodyguard Yuna?"pinta Emiko tiba-tiba.
"Hah?"
"Aku pikir mengizinkanmu pergi ke observatorium adalah baik, akankah kau berhenti menjadi bodyguard Yuna?"
"Tunggu dulu. Aku sudah menolak mereka untuk kem.."jelas Kohei, tapi ia tidak melanjutkan kata-katanya.
"Aku mengetahuinya sekarang. Itu sebabnya aku menyarankanmu untuk berhenti. Kau lupa apa yang sudah ku katakan padamu di awal," Emiko menunjuk Kohei.
"Bodyguard adalah orang terdekat sekaligus terjauh dari orang yang dijaganya,"jawab Kohei. Emiko mengangguk.
"Aku mengkhawatirkanmu. Ini sudah terlambat jika terjadi sesuatu," Emiko mengingatkan.
"Sesuatu? Aku kembali padanya murni sebagai bodyguardnya. Apa yang kau khawatirkan tidak akan pernah terjadi. Aku sudah memutuskan untuk tetap melakukan ini sampai janji 99 hariku selesai. Jadi izinkan aku melakukannya hingga selesai. Aku mohon!" Kohei menunduk pada Emiko.

Yuna bersiap-siap pergi dan membawa sesuatu di dalam tasnya.

Sementara Takanabe kembali membuka kotak rahasianya dan mengeluarkan foto masa kecilnya, 'ganmo cilik'. Teringat kembali perkataan Kohei di kafe kemarin. "Ini dan itu adalah hal yang berbeda. Ini mustahil. Mustahil, aku akan kembali ke masa itu,"Takanabe menaiki sepeda olahraganya dan berteriak "FIREEEE!!!".

Kohei pulang ke rumahnya. Ia menemukan planetarium baru di timur kota Mutzu. Tiba-tiba Sumire dan Ren berlari ke arahnya. Mereka kelaparan. Mereka memaksa Kohei untuk mengajak mereka makan di restoran saat Kohei libur. "Aku sudah pergi tadi malam,"kata Kohei. Ren berteriak kalau Kohei tidak adil. Kohei menolak permintaan mereka. "Ah, kue Momo," ingat Kohei lalu mencari kue yang dibuat semalam oleh Momo, tapi tak ada. Kohei lalu menanyakan di mana Momo. Sumire bilang kalau Momo berdandan dan pergi keluar. "Mungkin ia sedang kencan?" Ren menduga. Ren kembali menarik Kohei untuk mengajaknya pergi makan steak. Kohei tetap menolak, malah memberikan sepotong pisang pada mereka. Tapi Sumire dan Ren bersikeras ingin makan di luar.

Di kedainya, Mitsuya sedang membaca majalah. Pintu kedai terbuka.
"Selamat datang,"ujar Mitsuya.
"Selamat siang, Mitsy,"sapa Yuna.
"Yuna! Kau bukan keluargaku, jadi jangan panggil aku seenaknya. Jangan datang seenaknya dan jangan duduk seenaknya,"ujar Mitsuya sambil mengecek keluar.
"Takoyaki lagi! Kau benar-benar pelit,"ujar Ren sambil turun ke kedai Mitsuya.
"Jangan panggil aku pelit!"ucap Kohei, "Yuna! sudah kubilang berhenti berkunjung kemari".
"Aku membuat sesuatu yang cocok dengan takoyaki," Yuna mengangkat tas yang ia bawa dan tersenyum.
JANG! Yuna membuka kotak yang dibawanya. Ternyata kue yang semalam ia buat. Mitsuya berkomentar kalau kue Yuna sangat tidak menarik.
"Apa ini terlihat seperti bintang laut?"tanya Sumire menunjuk hiasan kue buatan Yuna.
"Itu bukan bintang laut. Itu bintang, bintang,"jelas Yuna.
"Bintang?"ujar Ren dan Sumire bersamaan.
"Yuna, jangan bilang padaku ini...," Kohei menebak. Kohei mengira Yuna sengaja membuat kue ini untukknya. Yuna tidak mengerti maksud ucapan Kohei.
"Ah, ada lilin. Apakah seseorang ulang tahun hari ini?"tanya Mitsuya.
"Ini bukan ulang tahun Ren. Bukan juga ulang tahun Momo," Sumire mengingat-ingat. Mitsuya juga bilang kalau hari ini bukan ulang tahunnya. Kohei senyum-senyum, berharap Sumire mengingatnya.
"Ah, kami tahu,"teriak Ren, Sumire dan Mitsuya berbarengan, Kohei semakin senang akhirnya mereka ingat. "Hari ini ulang tahun Yuna, benar?!"
"Salah,"ucap Kohei kesal. Yuna juga bilang kalau itu salah. Yuna mengajak mereka untuk makan dan meminta Mitsuya untuk meminjamkan pisau dan piring.
"Selamat sore! Kohei, ini telat sehari tapi...," Kon-chan datang membawa amplop.
"Telat sehari?!"Kohei kembali senang, mengira Kon-chan datang memberinya hadiah. Tapi Kon-chan tidak melanjutkan perkataannya barusan malah menyapa Yuna. Kon-chan terkaget-kaget melihat ada kue ulang tahun di situ.
"Kon-chan, apa itu yang telat sehari?" Kohei kembali mengingatkan Kon-chan. Mengira hadiah, Kon-chan malah memberikan daftar tugas yang harus Kohei isi untuk mendapatkan upah. Lagi-lagi Kohei kecewa. Kon-chan menyadari ada lubang di kue itu. Mitsuya juga melihat ada beberapa lilin di situ, "Yuna, kau sudah merayakan ulang tahun itu? Eh, jadi ini kue sisa?". Kohei segera mengambil lilin itu dan menghitungnya di sudut, "10, 20... 1,2,3,4. 26. Benar-benar tidak cukup, jadi itu bukan untukku".
Kohei akhirnya sadar dan kembali menoleh melihat kue Yuna. Bintang-bintang yang ada di atas kue itu sama dengan bintang yang ada di gantungan Taesung. Kohei sadar kalau kue itu bukan untukknya tapi untuk Taesung. Kohei sudah geer sebelumnya.

Yuna membagi kue itu menjadi 5 potongan besar. Mereka mulai memakannya. Dan rasanya sangat manis, cocok untuk anak kecil seperti Ren dan Sumire, tapi tidak untuk Mitsuya. Mitsuya menyuruh Kohei untuk segera memakan kue itu, karena dari tadi Kohei hanya memandangnya.
"Jika kau tidak mau, buatku saja,"ucap Ren, menarik piring kue Kohei.
"Tidak boleh," Kohei mempertahankan piringnya.
"Karena kau tidak mau, lebih baik buatku saja," Ren memaksa. Kon-chan juga menyuruh Kohei untuk memberikan pada Ren. Tapi Kohei tetap tidak mau, dan bilang kalau ia akan memakannya nanti. Kohei berjalan ke dapur Mitsuya dan mencari-cari plastik untuk membungkus kue itu.

Malam harinya, Kohei menunggu Taesung selesai kerja. Kohei membawa bingkisan. Taesung pun datang dengan membawa bingkisan juga.
"Apakah kau bertemu dengan Momo?"tanya Kohei.
"Eh?" Taesung lalu melihat bingkisan yang ia bawa, "Ah. Ya".
"Aku mengerti. Jadi itu untuk ulang tahunmu. Ini untukmu," Kohei menyerahkan bingkisan yang ia bawa.
Taesung mengeluarkan sepotong kue dalam bingkisan itu. Kohei memberitahu kalau kue itu buatan Yuna. "Menurutku, Yuna membuatnya berharap kau dapat memakannya. Hari ini ulang tahunmu bukan?"kata Kohei. Taesung mengatakan warna kuenya tidak bagus dan mulai memakannya. "Terlalu manis,"komentar Taesung. Taesung mulai cerita kalau dulu Yuna selalu membuatkan kue di hari ulang tahunnya dan Yuna tidak bisa melakukannya dengan baik, tapi kue yang ini benar-benar manis dan enak. Mata Taesung berkaca-kaca mengingat kenangan masa kecilnya bersama Yuna saat ia ulang tahun. Air mata Taesung mulai menetes dan ia tetap melanjutkan makannya sambil sesekali mengusap air matanya. Kohei terharu melihatnya.

Di kamar hotelnya, Yuna memandangi gantungan kunci milik Taesung. Lalu memasukkannya ke dalam kotak perhiasannya.

Esok harinya Yuna kembali syuting. Kali ini adegan dimana Ayaka mempertanyakan sosok sang dokter. Sepertinya Ayaka sudah mengingat kembali kecelakaannya itu. Tapi ia menyangkalnya.
"Baik! CUT! Ok! Kita akan cek,"teriak sutradara.
Hijin berlari memayungi Yuna. salah satu staf mengumumkan istirahat makan siang. Yuna berjalan ke tempat duduknya. Dari kejauhan Momo, Sumire dan Ren berlari mendekati Kohei.
"Kalian, bukankah aku sudah pernah bilang jangan datang ke lokasi syuting?" Kohei menegaskan kembali.
"Hari ini aku dipanggil oleh manager Serizawa Naoko,"jawab Momo.
"Manager?"tanya Kohei.
"Manager bilang kalau ia melihat tarian Momo," Yuna ikut berbicara, "mungkin manager punya beberapa ide?".
"Lihat kan? Oh iya, ini untukmu," Momo menyerahkan bingkisan untuk Kohei.
"Ah? Momo...," Kohei senang diberi hadiah. Tapi ketika dibuka isinya adalah kue yang semalam ia hancurkan. Momo minta maaf karena tidak mengingat hari ulang tahun Kohei. Ren dan Sumire bergantian mengucapkan selamat ulang tahun pada Kohei. Yuna menyimak pembicaraan mereka dan mengingat kejadian semalam ketika ia datang ke kedai Mitsuya. Yuna teringat ucapan Kohei yang menyangka kalau dirinya membuatkan kue itu untuk Kohei.
Ponsel Kohei berbunyi. Ada pesan video dari kakaknya. Kohei melihat bersama ketiga ponakannya.
"Kohei selamat ulang tahun. Aku berada di tempat yang tak terlihat. Pacarku kali ini adalah orang yang sangat penting. Aku mungkin akan melaporkan beberapa berita baik. Daaahh..,"kata Yukiko dalam videonya.
Sumire tak mengerti maksud ibunya dengan berita baik. Momo menambahkan bahwa bukankah ibunya jelas-jelas sedang berada di luar penjara. Kohei kecewa kakaknya telat dua hari untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya. "Apapun itu. Meskipun begitu, kau tidak menikmatinya bukan?"ucap Momo.
Junkichi yang berada di dekat situ menyimak juga pembicaraan Kohei dengan ketiga ponakannya. Yuna pun tiba-tiba berpikir sesuatu. Takanabe mendekati Junkichi, "Ada apa itu?". Junkichi menjelaskan kalau mereka adalah keponakan-keponakan Kohei. Takanabe sudah tahu tentang mereka. "Hadiah, hah? Dia secara langsung memberi Yuna petunjuk dengan menerima hadiah di depannya. Sialan kau Kohei!"umpat Takanabe sambil melepas jasnya. "Memakai trik murahan,"cela Takanabe lagi. Junkichi memanggil nama Takanabe mencoba bertanya apa masalah Takanabe dengan semua ini. Namun Takanabe menjawab dengan setengah bersin setengah mencela Kohei, "HATYS.. Kohei bodoh!".
Kohei, Sumire dan Ren duduk di taman. Mereka berebut hadiah yang seharusnya untuk Kohei. Sementara Momo duduk berhadapan dengan Yuna. Momo memakan jatah makan siang Yuna dan berterima kasih pada Yuna. "Manager adalah orang yang sangat keras. Jadi makanlah yang banyak supaya kau lebih energik,"kata Yuna. Momo berterimakasih lagi pada Yuna dan memuji Yuna yang sangat baik. Momo cerita kalau Taesung senang mendapat kue dari Yuna. Yuna kaget karena ia tidak pernah menyerahkan kue pada Taesung. Momo bilang kalau Kohei yang menyerahkan kue itu pada Taesung.
"Taesung bilang kalau kuenya manis dan enak, dan mengingatkannya pada kenangan dulu,"lanjut Momo. Yuna mengerti. Momo bertanya-tanya mengapa Kohei tiba-tiba jadi cerdas seperti ini. Yuna pun tak tahu sambil memandang Kohei dari jauh yang sedang memakan kue ulang tahunnya. "Tidak ada waktu untuk kau bersantai dan makan siang,"ucap Naoko tiba-tiba datang. Naoko menanyakan apa Momo serius ingin melakukannya dan Momo jawab iya. Naoko pun pergi dan meminta Momo untuk mengikutinya. Momo pamit pada Yuna dan segera menyusul Naoko. Kohei melihat Momo pergi bersama Naoko.
Yuna tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Takanabe yang sedang makan di belakang bersama Junkichi terus bersin dan menjatuhkan makanan Junkichi. Yuna memanggil Hijin dan menyuruh Hijin untuk mencarikannya sesuatu. "Baik.. Apa itu?"tanya Hijin. Yuna hanya tersenyum.
Kohei keluar dari hotel dan bergegas pulang. Langit sudah mulai gelap. Tetes-tetes hujan tiba-tiba turun. Kohei berlari kehujanan hingga ke rumahnya. "Seharusnya aku beli payung," Kohei sampai di rumahnya.
"Aku pulang," Kohei memberi salam ketika masuk. "Ah, dingin! Apa ini?"tanya Kohei ketika ia menginjak genangan air. Rumahnya kebocoran. Panci, mangkuk dan peralatan lainnya digunakan untuk menampung air hujan yang menetes dari atap.
"Kohei, akhirnya kau pulang juga,"ucap Momo sambil menyerahkan teko ke Kohei, "Bantu kami juga".
"Kami sedang mengumpulkan air,"kata Ren.
"Baiklah,"Kohei lalu memindahkan air dari mangkuk ke teko yang dipegangnya dan membuangnya di wastafel.
"Pasti ini karena badai sebelumnya. 2 atau 3 atap hilang terbawa angin. Baik atap ini maupun orang yang tinggal di dalamnya sama-sama punya kekurangan,"kata Mitsuya.
"Mengapa selalu membicarakan itu di saat seperti in? Oh, Momo. Apa yang manager katakan?"tanya Kohei.
"Dia mengambil videoku ketika menari. Mungkinkah aku bisa memiliki kesempatan untuk bisa meraih mimpiku?"jawab Momo.
"Memang baik. Tapi dunia seperti itu bukanlah sebuah 'cake walk',"ujar Kohei.
"Malam ini kita tidur di mana?"keluh Ren, melihat tak ada ruang yang tak bocor.
Ponsel Kohei berdering. Momo merogoh saku jas Kohei dan mengangkat telepon. "Ah, ini Yuna,"kata Momo sambil tersenyum.
"Momo? Apa Kohei ada?"tanya Yuna di ujung telepon, "Ini sangat terlambat, tapi aku ingin menyerahkan hadiah ulang tahun pada Kohei...".
Terdengar teriakan Kohei, Sumire dan Ren. "Apa yang terjadi?"tanya Yuna pada Momo.
"Atap rumah kami bocor,"jawab Momo.
"Bocor?"
"Selamat datang!"sambut Yuna sambil membuka pintu kamarnya.
"Kami mengganggu!"balas Ren, Sumire dan Momo sambil membungkuk.
Yuna mempersilahkan mereka masuk. Ada Kohei dan Mitsuya juga. Ren takjub dengan kamar Yuna yang sangat besar dan Momo sudah memberitahu kalau kamar Yuna jauh dari yang bisa Ren bayangkan. Mitsuya juga sama hebohnya karena ini pertama kalinya ia masuk ke hotel, "Nanti kita akan menginap di sini untuk bulan madu kita, ok?"ucap Mitsuya pada Kohei. Mitsuya berbicara seperti itu seolah ia dan Kohei benar-benar sepasang kekasih. Mitsuya pun berlari ke arah kamar Yuna. Kohei minta maaf karena membawa orang begitu banyak dan memastikan apakah ini tidak mengganggu Yuna. Yuna malah senang, ia bisa menolong orang yang sedang kesusahan.
"Woah! Kasurnya benar-benar besar!"teriak Ren dari dalam kamar. Kohei bergegas menghampiri Ren. Ren malah melompat-lompat di atas kasur. Kohei berusaha menurunkan Ren dan menyuruh Mitsuya agar tidak berada di kasur itu.
"Di mana aku bisa tidur?"tanya Sumire.
"Aku akan membawa kasur tambahan,"jawab Yuna, "Anak-anak bisa...".
"Ah, tidak usah," Momo menyela,"kita akan tidur di sofa saja".
"Aku dan Ren akan tidur di sebelah sana," Sumire menunjuk sofa yang besar.
"Lalu siapa yang mendapat kasur yang besar itu?"tanya Ren.
Mitsuya mendekat dan menempelkan badannya ke Kohei.
"Ah aku tahu. Itu untuk Kohei dan Yuna,"ucap Ren polos sambil menunjuk Yuna dan Kohei bergantian. SING! Tiba-tiba semua diam. Yuna dan Kohei saling berpandangan.
PLAKK! Kohei memukul kepala Ren. "Apa yang kau bicarakan?! Emm, aku akan kembali untuk membetulkan atap rumah. Jangan khawatirkan aku. Aku benci melakukan ini, tapi tolong jaga anak-anak,"kata Kohei langsung pamit pergi. Yuna hendak memanggil Kohei tapi Kohei keburu pergi.

Mitsuya menggunakan baju handuk duduk, dengan anggunnya di atas sofa sambil memegang segelas anggur. Ren berlari di belakang Mitsuya, "Ah Momo ketemu!". Yuna keluar dari tempat sembunyinya dan menendang kaleng di tengah ruangan. Itu artinya Ren kalah. Yuna dan Sumire ber'high-five'. Yuna, Sumire dan Momo kembali bersembunyi. Ren menghitung sampai 10 dan mulai mencari mereka lagi. (aduh permainan ini dikampungku apa ya namanya. Bukan pake kaleng tapi tumpukan pecahan genting..). Yuna bersembunyi di balik lemari. Di sana ada bingkisan kado untuk Kohei. Yuna memandang bingkisan itu dan teringat kalau ia harus memberikannya pada Kohei.

Di luar masih hujan. Yuna nekat pergi menemui Kohei di rumahnya dan membawa bingkisan tersebut. Yuna berjalan sambil tersenyum, terlihat senang sekali. Tiba-tiba Takanabe muncul di depannya.
"Takanabe?"
"Yuna... Apakah kau sangat menyukai Kohei?"tanya Takanabe langsung pada sasaran.
"Hah?!" Yuna kaget Takanabe bertanya seperti itu. "Ah, tidak seperti itu. Dia hanya seorang bodyguard. Dia selalu pergi untukku. Hanya itu,"jelas Yuna.
"Jika ia benar hanya bodyguardmu, mengapa kau selalu terus menerus pergi menemuinya?" tanya Takanabe penasaran. Takanabe melepas kacamata hitamnya, "Sama seperti dia. Jika Kohei tidak memiliki perasaan apapun padamu, mengapa ia menolak kesempatan di observatorium itu padahal sudah lama ia memimpikannya? Bukankah ini aneh? Sepertinya ia ingin bersamamu?".
"Apakah itu benar?" Yuna balik tanya, "Kohei mundur atas kemauannya sendiri? Apakah itu benar?".
Yuna kaget dengan penuturan Takanabe. Takanabe gelagapan ketika ingin menjawab petanyaan Yuna. Takanabe mendekati Yuna dan memegang tangan Yuna.
"Bukankah kau pergi untuk menghentikannya? Aku sudah tahu kebenarannya. Pemandian air panas itu adalah kebohongan. Aku tahu dari awal kau pergi untuk menghentikan Kohei...".
"Aku tidak menghentikannya,"ucap Yuna. Kini giliran Takanabe yang heran. "Tapi aku menyemangatinya. Aku memberinya semangat dan mengucapkan perpisahan. Jadi mengapa?" Yuna berpikir. Sedetik kemudian Yuna berlari pergi meninggalkan Takanabe yang berteriak memanggilnya.
Dari kejauhan, tampak mobil Kazuya. Jadi sedari tadi ia bersiap dengan kameranya. Berharap terjadi sesuatu yang bisa ia manfaatkan dengan kameranya. Kazuya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Takanabe dan Yuna. Takanabe kesal dan melempar payungnya, "Kohei!". Air hujan membasahi seluruh tubuh Takanabe.
Di rumahnya Kohei sibuk membetulkan atap rumah. Kohei memasang terpal biru dan hampir terjatuh. Setelah itu Kohei mengelap bagian yang basah dan menambalnya. Pintu rumah terbuka. Yuna menerobos masuk.
"Yuna!" Kohei kaget Yuna tiba-tiba datang. "Mengapa kau datang kemari? Masih banyak genangan air dimana-mana,"lanjut Kohei. Tapi Yuna malah membanting bingkisannya ke lantai.
"Mengapa kau lakukan itu?"tanya Yuna tapi Kohei tak mengerti. "Mengapa kau menolak pekerjaan di observatorium itu? Bukankah itu impianmu? Mengapa? Mengapa kau berbuat seperti itu?" Yuna semakin mengeraskan suaranya.
"Karena aku belum menyelesaikan janji 99 hariku,"jawab Kohei.
"Mimpimu lebih penting daripada janji itu".
"Tapi aku ragu tidak akan ada bodyguard yang bisa menangani kepribadianmu. Ditambah lagi, aku tidak akan tahu apa yang akan kau lakukan nanti, jadi aku mengkhawatirkanmu," Kohei memperjelas alasannya. Yuna terdiam dan matanya berkaca-kaca. Kohei menyuruh Yuna minggir dan tersandung oleh bingkisan yang dibawa Yuna, "Owh! Apa ini?".
Di luar hujan sudah berhenti. Kohei baru saja selesai membetulkan langit-langit kamarnya.
"Keren, ini adalah planetarium tingkat tinggi. Kau bisa melihat 120.000 bintang,"kata Kohei menjelaskan hadiah yang diberikan Yuna. Kohei menyalakan alat itu, dan langsung berbaring. Begitu juga dengan Yuna, yang berbaring di samping Kohei.
"Kau bisa lihat? Di sebelah sana kau bisa melihat Draco. Ia terbagi di antara Ursa Mayor dan Ursa Minor,"jelas Kohei sambil menunjuk letak bintang yang ia bicarakan.
"Aku gagal,"ucap Yuna.
"Hah?!"
"Kau menyebutkan dengan lantang jika itu berhubungan dengan bintang. Aku lupa akan hal itu".
"Pastikan kau tidak akan melupakannya".
"Seperti yang kupikirkan, ini tidak akan menyamai benda aslinya".
"Itu tidak benar. Terima kasih atas hadiahnya,"ucap Kohei.
"Bintang-bintang di Ladang Miyuki benar-benar cantik. Aku juga berpikir impianmu sangatlah hebat. Tapi, apakah kau mendengarkan ketika aku memberikan semangat padamu?" Yuna menoleh ke arah Kohei, "Apakah kau pikir aku terlalu memaksakan diriku? Itukah sebabnya kau kembali?".
"Aku merasa kau membutuhkanmu sebagai bodyguard. Lebih dari yang bintang".
"Sebagai seorang bodyguard?" Yuna memastikan.
"Ya. Itulah sebabnya aku kembali,"jawab Kohei.
"Sebagai seorang bodyguard," Yuna berkata pada dirinya sendiri. Kohei menoleh pada Yuna.
Yuna sudah pulang. Kohei masih menatap langit-langitnya. Teringat tanggapan Yuna ketika mereka sedang ada di Ladang Miyuki. Yuna tidak menganggap remeh mimpi Kohei. "Terdekat sekaligus orang terjauh, hah?"ucap Kohei sambil menoleh ke tempat Yuna tadi duduk. Kohei pun mematikan planetarium mininya.
Esok harinya, Yuna pamit pada Mitsuya dan ketiga ponakan Kohei. Mitsuya kembali berterima kasih pada Yuna atas segalanya. Yuna bilang agar mereka tidak perlu khawatir dan nikmati saja. Mitsuya tanya apakah tidak apa-apa. Namun Momo mengingatkan kalau atap rumah sudah selesai dibetulkan, jadi mereka bisa pulang hari ini. Yuna ingin agar mereka main lagi ke kamarnya dan meminta untuk bermain 'menendang kaleng' seperti tadi malam. Sumire dan Ren mengiyakan. Mereka berempat terlalu sibuk dengan sarapan lezat, yang jarang mereka nikmati. "Enak sekali. Lebih baik dari takoyaki".
Yuna keluar kamar. Kohei menyapanya, "Selamat pagi". Yuna membalas sapaan Kohei dan jadi sedikit kikuk dengan Kohei. Yuna pun bergegas pergi. Kohei berteriak dari pintu, mengingatkan ketiga ponakannya agar cepat pergi ke sekolah.
Tiba di lokasi, salah satu staf memberi tahu Junkichi agar pindah ke minibus yang telah disediakan. Junkichi pun langsung mendatangi Takanabe yang masih berada di dalam mobilnya. Pintu mobil terbuka, Takanabe berselimut dan dikompres kepalanya. Saking panasnya, ada uap yang keluar dari kain kompresannya.
"Apakah kau baik-baik saja? Haruskah aku bicara dengan sutradara?"tanya Junkichi. Namun Takanabe menyuruh Junkichi untuk tidak bilang apapun dan mengatakan kalau ia baik-baik saja.
Mobil Yuna tiba. Yuna pun keluar dari mobilnya dan menyapa staf yang lewat. Yuna menyapa Junkichi. Tiba-tiba Takanabe melepas selimut dan kain kompresnya, keluar ingin menyapa Yuna juga. Takanabe juga meminta maaf pada Yuna atas kejadian semalam. Takanabe berusaha menutupi kondisi badannya yang sedang sakit di depan Yuna. Dan Yuna malah bilang kalau Takanabe lebih bersemangat hari ini. Takanabe overacting, "Benar. Moodku sedang baik. Aku penuh semangat". Junkichi memanggil Takanabe tapi tidak dihiraukan oleh Takanabe. "Hari ini aku akan bersemangat!"seru Takanabe mengangkat kedua tangannya dan berjalan ke arah gedung.
"Ah, Takanabe. Kita pindah ke minibus,"jelas Junkichi. NGEK! Takanabe pun langsung putar arah sambil terus mengangkat kedua tangannya.
Yuna dan Takanabe kembali syuting. Kali ini Ayaka sedang menatap langit. Dokter mendekat dari belakang dan menyentuh pundak Ayaka. Dokter bilang kalau Ayaka tidak perlu memikirkan masa lalunya. Ayaka harus terus hidup, menatap masa depannya. "Dokter,"ucap Ayaka sambil memegang tangan dokter.
"Baiklah. CUT! Ok!"teriak sutradara.
Yuna menatap Takanabe, "Kau panas sekali".
Takanabe menghindar dari Yuna. Junkichi menghampirinya dan memberikan Takanabe jaket dan termometer. Yuna memandang cemas pada Takanabe.
Termometer berbunyi. Junkichi mengambil termometer itu dan shock ketika melihatnya, "41°C. Aku pikir aku harus bilang...". Tapi Takanabe menarik Junkichi dan bilang kalau ia pernah sampai 49°C sebelumnya. Jadi Junkichi tak perlu khawatir karena Takanabe masih dalam taraf aman.
Sepulang syuting Kohei menelepon Junkichi, "Jadi tidak ada perubahan". Junkichi bilang kalau Takanabe sudah ke dokter dan sekarang Takanabe sedang tidur , tapi suara rintihannya terdengar. Junkichi juga bilang kalau dokter sudah memberi Takanabe suntikan, tapi demam Takanabe tidak turun juga. Kohei mengerti dan menutup telepon. "Bagaimana dengan Takanabe?"tanya Yuna khawatir. Kohei menjelaskan kalau Takanabe masih demam. Kohei membukakan pintu dan mengecek ke dalam. Setelah aman, Kohei mempersilahkan Yuna masuk. Tapi Yuna tetap berdiri di depan pintu. Diam.
Yuna tiba di depan rumah Takanabe. Kohei membukakan pintu dan mengambil bingkisan untuk Takanabe. Di belakang mereka Kazuya membuntuti.
Junkichi membukakan pintu rumah dan kaget melihat Yuna datang menengok Takanabe. Junkichi mengantarkan Yuna ke kamar Takanabe. Begitu masuk Yuna langsung mendekati Takanabe, "Apakah kau baik-baik saja?". Kohei menyerahkan bingkisan buah pada Junkichi.
Takanabe membuka matanya perlahan. Samar-samar ia melihat wajah Yuna.
"Yuna? Mengapa?"tanya Takanabe.
"Aku akan berada di sini untuk sementara. Istirahat saja,"jawab Yuna.

Yuna mengompres Takanabe. Yuna hendak membuang air kompresan tapi Kohei berdiri, "Biar aku saja". Kohei mengambil baskom dari tangan Yuna. Yuna menoleh dan pandangannya tertuju pada selembar kertas di bawah sofa. Yuna mendekat dan mengambilnya. Ternyata itu foto Takanabe kecil.
"Ah,"Kohei langsung mengenalinya. Yuna menoleh ke arah Kohei dan Kohei menoleh ke arah Takanabe. Dengan isyarat mata memberitahu kalau anak kecil di foto itu adalah Takanabe.
Kohei keluar rumah untuk mengambil sesuatu dari dalam mobil. Dengan sigap Kazuya memasang kameranya. Melihat hanya Kohei yang keluar, Kazuya menurunkan kameranya lagi. "Laki-laki itu lagi? Bodyguard itu benar-benar merusak pemandangan,"cela Kazuya.

Yuna mengangkat kain kompresan di kepala Takanabe dan mengecek panas Takanabe. Merasakan tubuh demam Takanabe yang mulai turun, Yuna lega. Takanabe terbangun.
"Yuna?"tanya Takanabe.
"Demammu sudah turun. Kau baik-baik saja sekarang".
"HUH?! Yuna? Junkichi?" Takanabe kaget dan terduduk begitu melihat Yuna masih ada di kamarnya menjaganya, sementara Junkichi sudah tidur.
"Dia sedang istirahat, sepertinya ia juga lelah,"jawab Yuna.
"Begitu kah. Syukurlah, aku pikir ini hanya ilusi. Yuna kau benar-benar datang".
"Aku sangat mengkhawatirkan 'ganmo'".
"Jangan katakan ganmo! Hah? Hah?" Takanabe kaget lagi mengapa Yuna bisa tahu tentang ganmo.
"Takanabe adalah ganmo," Yuna menunjukkan foto Takanabe kecil yang ia temukan.
"AH! AH! Hah? Mengapa? Hah? Bagaimana?" Takanabe panik.
"Kau menjatuhkannya. Itu benar-benar lucu," Yuna memuji Takanabe kecil.
"Lucu? Ini?" Takanabe tak percaya.
"Benar-benar lucu,"kata Yuna.
"Aku mencoba mengunci rapat-rapat kenyataan bahwa seseuatu yang jelek ini adalah aku di masa lalu. Chubby. Burung yang gemuk. Ganmo. Mereka semua tertawa,"ujar Takanabe, sedih mengingat masa lalunya.
Yuna memegang tangan Takanabe dan bilang kalau itu tidak apa. Ganmo juga lucu. Takanabe jadi teringat kembali ucapan Kohei mengenai dirinya. "Dia juga bilang hal yang sama. Lucu hah?".
"Takanabe dulu lucu. Takanabe saat ini benar-benar hebat. Kau bekerja keras untuk mengubah dirimu menjadi apa yang kau inginkan. Ditambah hari ini, meskipun kau sedang sakit, tapi kau tidak menampakknya di hadapan yang lain. Aku pikir itu benar-benar hebat. Tidak pernah mengatakannya pada orang lain pasti sangat berat. Aku pikir kau sangat hebat kau bisa menanggungnya sendiri".
Takanabe terharu mendengar ucapan Yuna. Takanabe pun menyandarkan kepalanya ke Yuna dan menangis merangkul Yuna, "Terima kasih". Yuna menepuk-nepuk pundak Takanabe, berusaha menenangkan.
Tiba-tiba Kohei masuk membawa minuman. Kohei melihat Yuna dan Takanabe sedang berpelukan. "Per- Permisi," Kohei segera pergi, merasa kalau dirinya mengganggu. Atau sebenarnya ia yang terganggu oleh itu. Yuna sadar dan langsung bangkit berusaha mengejar Kohei. Tapi Takanabe menarik tangannya, "Dia hanya bodyguardmu bukan?". Yuna terdiam dan akhirnya memutuskan untuk mengejar Kohei.
Kohei berjalan keluar. Kazuya masih mengamati sambil merokok. Yuna berlari mengejar Kohei.
"Kohei,"panggil Yuna.
"Maafkan aku. Waktuku tidak tepat. Jangan hiraukan aku. Kembali saja, kembali,"jawab Kohei tanpa berbalik menghadap Yuna. Kohei melangkah lagi.
"Kohei!" Yuna terus memanggil.
Kali ini Kohei membalikkan badannya. Yuna mendekati Kohei.
"Kaktusku benar-benar tidak berguna".
"Maafkan aku,"ucap Kohei.
"Kau tidak bisa mengerti perasaan orang lain. Keras kepala, aneh, buruk!"
"Aku tahu itu. Tapi kau tak perlu pergi sejauh itu...".
"Kau tidak tahu apa yang ingin kukatakan atau apa yang aku pikirkan, bukan?" Yuna berbicara dalam bahasa Korea, jelas Kohei tak paham. "Ini bukan yang aku inginkan. Karena kau kembali, aku berharap kita akan bersenang-senang seperti sebelumnya. Tapi ini tidak baik".
"Tunggu apa yang sedang kau bicarakan?"tanya Kohei.
"Aku.. Aku pikir aku menyukaimu. Jadi ketika seseorang bilang 'dia hanya seorang bodyguard', itu membuatku sedih. Mengapa tidak kau katakan?" Yuna menyatakan perasaannya pada Kohei. "Mengapa begitu? Mengapa?" Yuna kembali memakai bahasa Jepang.
"Mengapa apanya?" Kohei semakin tak mengerti.
Tiba-tiba Yuna mendekat dan mencium Kohei. Mata Kohei terbelalak saking kagetnya. Begitu juga dengan Kazuya yang sedang mengawasi dari dalam mobil.
"Bodoh,"kata Yuna pada Kohei, dan pergi begitu saja. Kohei masih shock, "Apa?!". Kohei hanya mampu memandang Yuna yang semakin jauh.
Junkcihi akhirnya bangun dan mendatangi Takanabe, menanyakan bagaimana demamnya. Namun, Takanabe tak ada di tempat. "Takanabe?"panggil Junkichi.
Kohei benar-benar shock, mematung tak bergerak. Di atasnya, Takanabe melihat semuanya. Mata Takanabe semakin berkaca-kaca memandang Yuna yang pergi menjauh.
Keesokan harinya, Yukiko tiba di rumah Kohei. "'Hot-pot' di pagi hari?"teriak Momo, "Kau pasti dicampakkan lagi bukan?". Yukiko mengiyakan dan bilang kalau ia akan didaftarkan jadi anggota keluarga tahun depan. "Pendaftaran keluarga?!"teriak ketiga anaknya. Ketiga anaknya melarang ibunya untuk menambah jumlah ayah lagi. "Hey, Kohei katakan sesuatu,"pinta Momo. Tapi pikiran Kohei entah di mana. Ia terlihat kosong, melamun saja dari tadi. Kohei benar-benar tidak menyimak apa yang mereka bicarakan. "Sejak pagi dia sudah seperti itu,"ujar Sumire. "Sejak semalam," Yukiko menambahkan. Mereka berempat menerka-nerka apa yang terjadi pada Kohei sehingga Kohei jadi begini. "KOHEI!"teriak Momo. "Eh?"respon Kohei beberapa detik kemudian.
Di depan kamar Yuna pun Kohei masih melamun. Sampai akhirnya Naoko datang membawa selembar amplop coklat. Naoko berhenti di depan kamar Yuna. Kohei menyingkir, tapi Naoko bukannya langsung masuk malah menarik jas Kohei. Menyuruh Kohei masuk. "Apa-apaan ini?!"tanya Kohei. Kohei memandang Yuna dan sebaliknya, keduanya langsung memalingkan wajah.
"Aku tahu. Kamu punya sesuatu untuk diakui?" Naoko menarik Kohei dan berdiri di hadapan Yuna. Naoko melempar amplop itu di hadapan Yuna. Yuna tidak mengerti mengapa managernya begitu. Yuna pun membuka amplop itu. Betapa kagetnya ia ketika melihat foto-foto ciuman Yuna semalam pada Kohei. Kohei mencoba melirik foto itu dan ia pun shock, "Apa maksudnya ini?"
"Itu seharusnya aku yang menanyakan. Apa maksud semua ini?!" Naoko benar-benar marah. Yuna bingung mengapa foto itu bisa ada.
"Benarkah ini?"teriak Momo. Foto-foto itu tidak hanya dikirim ke Naoko, tapi juga ke rumah Kohei.
"Cinta pertamanya adalah seorang bintang?!" Sumire tak percaya.
"Kohei, kau benar-benar hebat!"teriak Ren.
"AAAAAaaaaaahhhh!" Mitsuya stres, merobek celemeknya dan terjatuh saking shocknya.
"Bagus, Kohei," Yukiko memuji Kohei, "Aaah, jadi ini alasannya".
"AAAAaaaarrrrgggghhhhh......"T akanabe juga shock dengan kejadian semalam. Ia menangis, berteriak sambil memeluk bantal di atas kasur.
Sementara Kazuya benar-benar puas dengan kejadian semalam. Ia melihat kembali hasil jepretannya dan tertawa puas. Puas sekali.

Kembali ke kamar Yuna. "Tolong jelaskan semua ini!" Naoko sudah habis kesabaran. Yuna dan Kohei masih diam. Yuna tak habis pikir mengapa bisa seperti ini.

Jadi bagaimana nasib hubungan Yuna dan Kohei? Akan berlanjutkah?
Apakah foto-foto tersebut akan tersebar luas?
Bagaimana juga dengan nasib pekerjaan Kohei dan Yuna? Karir mereka dipertaruhkan.
Simak terus lanjutannya ya. Masih tersisa 25 hari lagi.

Written and image by Ima @PelangiDrama.Net
Shared by PelangiDrama.Net
Don't Repost to Other Site!!!!!!!!!!!!!

Author_blog 01 Mar, 2012


-
Source: http://www.pelangidrama.net/2012/03/sinopsis-j-drama-boku-to-star-no-99.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com Share on Facebook