[Sinopsis K-Drama] History of The Salaryman Episode 13
Jang Ryang.
"Apa alasan dia menemuinya ?"tanya Ga Bi.
"Katanya dia ingin bicara dengan seseorang, tapi kita tetap harus mengawasinya"jawab Beom Jeung, lalu menyuruh Ga Bi tak usah khawatir karena supir pribadi Presdir Jin yang akan mengawasinya.
Selesai menutup teleponnya Beom Jeung menyerahkan amplop pada supir Presdir Jin untuk jasa informasinya.
"Tapi hari ini Presiden Jin kemana ? Kenapa dia tak mengajakmu ?"tanya Beom Jeung.
"Beliau kencan dengan Nona Yeo Chi"jawab supir Presdir Jin. Beom Jeung nampak berpikir mendengar jawaban itu.
Sementara itu ahjusi Yoo Bang mempersiapkan diri bertemu dengan investornya yang belum diketahui siapa itu. Yoo Bang menanyakan penampilannya pada Bun Kwae yang setia menemaninya.
"Kau mau menghadiri upacara pernikahan ? Kenapa rapi sekali ?"tanya Bun Kwae.
"Katanya ini investor kelas paus ! Sekali kibas dia bisa membuat sebuah perusahan kecil menjadi enterprise"jawab Yoo Bang. Kalau kelas teri atau hiu gimana ya wkwkwk#abaikan.
Presdir Jin yang di antar Yeo Chi tiba, Han Shin mempersilahkan masuk. Yeo Chi membuka pintu, Yoo Bang dan Bun Kwae pun bangkit dari duduknya sontak keduanya terkejut yang datang Yeo Chi.
"Yoo Bang!", Yeo Chi tak kalah terkejutnya. Sementara Presdir Jin hanya tersenyum.
"Apa yang kau lakukan di sini ?"tanya Yoo Bang pada presdir Jin.
"Pertanyaan apa itu, brengsek ! Kau bilang mau bertemu dengan investormu ?"jawab Presdir Jin.
"Lalu orang yang tertarik dengan perusahaanku adalah...", belum selesai Yoo bang berbicara langsung dipotong Yeo Chi.
"Apa ?, jadi orang yang mau kau beri uang adalah Yoo Bang?"celetuk Yeo Chi.
"Belum diputuskan"jawab Presdir Jin. "Aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri apakah orang ini pantas menerima uangku".
"Jadi kau membuat perusahaan, sementara aku kau perlakukan seperti alien ?"kata Yeo Chi pada Yoo Bang.
Lalu Bun Kwae mengantar Presdir Jin dan Yeo Chi melihat proses produksi. Yoo Bang menelepon Jang Ryang yang sedang fitness. "Kenapa tidak bilang kalau orangnya adalah Presiden Jin ?"tanya Yoo Bang.
"Oh. Aku belum memberitahukanmu, ya ? Oh, maaf, maklum saja, aku kan sudah tua"elak Jang Ryang. "Tapi memangnya kenapa ?".
"Kau benar-benar tidak tahu ? Kau pikir aku bisa percaya dengan Presiden Jin ?"jawab Yoo Bang.
"Pertamanya aku juga curiga, tapi setelah bicara dengannya, kupikir dia serius. Kalau dia mau kan dia bisa melahap begitu saja perusahaan sekelas Paeng Seong Enterprise"jelas Jang Ryang.
"Terimakasih sudah kau ingatkan ! Lalu kenapa dia mau berinvestasi padaku ? Itu lebih mencurigakan lagi. Asal kau tahu saja, aku masih belum sepenuhnya percaya padanya", lalu Yoo Bang menutup ponselnya.
Yoo Bang menemui Yeo Chi dan kakeknya, Yoo Bang menyodorkan kertas dan pena agar dibuat perjanjian tertulis.
"Kau mau kami membuat perjanjian tertulis ?"tanya Presdir Jin yang diiyakan Yoo Bang.
"Janji bahwa kalian tidak akan mengambil perusahaan kami"jelas Yoo Bang.
"Kau sudah gila ? Untuk perusahaan sekecil ini kau minta perjanjian tertulis ?"ledek Yeo Chi melihat ruangan kantor Yoo Bang. "Kakek, bubarkan saja perusahaan ini".
"Jadi kau belum percaya padaku"tanya Presdir Jin.
"Mengingat hubungan kita di masa lalu. Tidak salah kan, kalau aku minta seperti ini ? Untuk jaga-jaga agar sejarah tak terulang lagi. Benar ?".
"Kau memang penuh perhitungan"ujar Presdir Jin yang diiyakan Yoo Bang.
"Setelah berkeliling, kulihat rencana bisnismu lemah, siapa yang mau berinvestasi kalau
caranya keadaannya seperti itu ?"
"Kalau begitu apa lagi yang mau kau lihat ?"tanya Yoo Bang. Presdir Jin mengatakan bahwa ia tidak berinvesasi dengan cara itu.
"Lalu dengan cara apa kau mau berinvestasi ?"tanya Yoo Bang. Presdir Jin menyuruhnya semuanya keluar kecuali Yoo Bang dan Yeo Chi padahal di ruangan itu sudah tak ada siapa-siapa lagi. Yeo Chi menyenggol tangan kakeknya memberi isyarat, Yoo Bang juga berkata bahwa di sana sudah tak ada orang jadi Presdir Jin bisa bicara.
"Aku ingin kau memberikan latihan manajemen kepada Yeo Chi"ungkap Presdir Jin, baik Yeo Chi dan Yoo Bang kaget mendengarnya.
"Kakek ! Aku sudah mendapat pelatihan dari Choi Hang Woo, bukan ? Pelatihan manajemen apa lagi?"keluh Yeo Chi. Yoo Bang tertawa mendengarnya. "Wah, kalau tugas lain, aku akan bekerja keras.
Tapi kalau disuruh menangani Yeo Chi..."ucapnya yang langsung dipotong Yeo Chi.
"Bisa apa dia ! Paling hanya bisa mengajarkan Saturi ! (salah satu Dialek bahasa korea)"ejek Yeo Chi.
"Mulai hari ini. Berapa besar investasi, tergantung hasil, pahami itu"tegas Presdi r Jin.
Yeo Chi mulai belajar manajemen bersama Yoo Bang di ruangannya. Yeo Chi mendapatkan tugas pertama dari Yoo Bang dengan tumpukan banyak kertas.
"Kenapa ruangan ini hawanya dingin ? Apa pemanas ruangannya mati ?"keluh Yeo Chi.
"Kenapa tidak pulang saja ?"balas Yoo Bang.
"Tadi kau melarangku pulang kalau ini belum dijumlahkan semuanya"elak Yeo Chi.
"Masa hanya beberapa lembar, seharian ini belum kelar"ejek Yoo Bang. "Apa kau sengaja ingin selalu dekat denganku ?"tebaknya.
"Apa ? Coba saja ini sendiri. Kau pikir gampang ?"elak Yeo Chi, ketahuan ni oh kamu ketahuan, mau dekaat-dekat dengan ahjusi wkwkwk.
"Ya, sepertinya memang susah. Kau kan tak pernah memakai otakmu seumur hidupmu".
"Apa ?!", Yeo Chi tak terima. "Otakku kupakai untuk memikirkanmu ketika kau hampir mati kedinginan.
Dan memikirkanmu apakah kau kelaparan di jalan. Aku memikirkan hal-hal itu, bajingan tengik!"
"Aku juga banyak memikirkanmu"balas Yoo Bang.
"Benarkah ?", Yeo Chi terpana yang diiyakan Yoo Bang.
"Memikirkan bagaimana kau akan hidup bila kau tak menjadi ahli waris perusahaan. Memikirkanmu kapan dan di mana kau akan mabuk lagi. Memikirkan sumpah serapah apa lagi yang kau ucapkan"cerocos Yoo Bang. "Sudah cukup ! Kau tak perlu memikirkanku sampa sejauh itu, OK ?"sahut Yeo Chi. "Benar ? Makanya aku berhenti memikirkan itu. Karena kau pasti takkan suka"jawab Yoo Bang enteng.
"Barangkali aku memang sudah mulai gila. Duduk di sana lalu berhalusinasi"guman Yeo Chi. Yoo Bang bertanya halusinasi apa itu?.
"Tak usah kau hiraukan ! Kerja saja"jawab Yeo Chi, Yoo Bang lalu melihat jam tangannya dan memperbolehkan Yeo Chi pulang karena ia juga mau tidur.
"Kau tak pulang ?"tanya Yeo Chi. "Ini rumahku, mau kemana lagi ?"jawab Yoo Bang.
"Kau tidur di kantor ? Kau kan sudah jadi Presiden ?"
"Sebelum penjualan mencapai $10 juta, kantor ini adalah rumahku"jawab Yoo Bang. Lalu Yoo Bang menyuruh Yeo Chi datang pagi-pagi sekali karena besok sore mereka akan sibuk. Yoo Bang bersiap tidur di kasur lipatnya, pengen kayaknya praktis ntu hahaha.
"Tapi besok pagi aku harus bertemu Choi Hang Woo".
"Benarkah ? Bagus. Kalau begitu kau ke Hang Woo saja"jawab Yoo Bang.
Asisten Kim memperlihatkan katalog alat pemantau gula darah yang baru mereka terima dari Vietnam. Hang Woo menanyakan produknya, asisten Kim mengatakan bahwa sudah ada orang lain yang mempatenkannya, Hang Woo pun menyuruh mematenkan produk mereka juga.
Patenkan produk kita juga. Asisten Kim tak mengerti maksud Hang Woo.
"Tapi alat kita mirip sekali dengan alat milik Paeng Seong Enterprise"ungkap asisten Kim.
"Dengarkan aku, Deputy Kim. Ini apa ?"tanya Hang Woo seraya memperlihatkan sebuah pulpen.
"Pulpen"jawab asisten Kim.
"Kalau Yoo Bang bisa mempatenkan ini, kita juga bisa mempatenkan biarpun bentuknya kotak dan warnanya berbeda"ungkap Hang Woo. "Kau mengerti maksudku ? Cepat diskusikan ini dengan Bagian Legal !". Asisten mengerti ia pun pamit, namun langkah terhenti saat Hang Woo menanyakan kenapa Yeo Chi belum juga datang. Asistem Kim menjawab bahwa tadi Yeo Chi sudah menelepon dan minta pertemuannya diadakan sore hari saja.
Yoo Bang sarapan seraya memberi pelajaran pada Yeo Chi.
"Tentu saja tiap orang punya cara sendiri untuk menjalankan bisnis. Tapi bagiku, karakter itu sangat penting"ungkap Yoo Bang. Yeo Chi meminta Yoo Bang lebih pelan karena kecepatan.
"Karakter itu penting. Garis bawahi"ulang Yoo Bang lalu menyuruh memberinya warna merah, tebal dan miring. Yeo Chi menulis semuanya.
"Beri tanda saja. Kenapa ditulis semua ?"ujar Yoo Bang, tiba-tiba ponsel Yeo Chi berbunyi . Yeo Chi pun mengangkatnya ternyata Hang Woo yang meneleponnya. Hang Woo bertanya di mana Yeo Chi.
"Oh, sedang di luar"jawab Yeo Chi pelan. Yoo Bang mengingatkan bahwa selama belajar dilarang menyalakan telepon, jadi Yeo Chi harus mematikan ponselnya.
"Bukannya sudah kubilang kalau kau harus datang 10 menit sebelum rapat", Hang Woo mengingatkan.
"Ya, ada hal mendesak mendadak"jawab Yeo Chi. Yoo Bang merebut ponsel Yeo Chi."Hey, aku bilang matikan !"serunya. Yoo Bang lalu melihat nama yang tertera di layar ponsel Yeo Chi, Yoo Bang pun mengangkatnya.
"Aku juga sibuk. Kau pikir aku punya waktu untuk..."seru Hang Woo yang langsung dipotong Yoo Bang.
"Kalau begitu kenapa nelpon, kunyuk !"seru Yoo Bang tak kalah sengit lalu mematikan teleponnya.
"Apa aku tidak salah dengar ? Itu tadi suara Yoo Bang"guman Hang Woo lalu mencoba menghubungi ponsel Yeo Chi lagi namun sudah tak aktif.
"Apa-apaan ini ? Dia mengabaikanku hanya untuk bertemu Yoo Bang ?"guman Hang Woo tak percaya.
Yoo Bang kembali mengajari Yeo Chi mengenai manajemen perusahaan.
"Siapa orang yang paling tolol ? Orang yang bekerja sendiri karena menganggap hanya dirinya yang paling baik"jelas Yoo Bang, nyindir Hang Woo ni hahaha. Yoo Bang menjelaskan bahwa yang mengendalikan mesin disebut teknisi, bukan operator bisnis karena manajer sejati adalah orang yang bisa mengendalikan orang orang lain untuk mencapai tujuannya. Yeo Chi bukannya menulisnya di note hpnya tapi malah menggambar kepala ahjusi wkwkwwk.
Selesai belajar dengan Yoo Bang, Hang Woo kembali belajar dengan Hang Woo mengenai manajemen.
"Kenapa operator bisnis berada di posisi atas ? Karena dia layak untuk ditempatkan di sana.
Dia layak karena dia kemampuannya. Kemampuannya harus melebihi anak buahnya agar benar-benar diakui sebagai operator bisnis"ungkap Hang Woo, Yeo Chi sibuk mencatatnya.
"Pemimpin tertinggi adalah Deokjang (berbudi luhur)"ungkap Yoo Bang. "Kau tahu Deokjang (berbudi luhur), bukan ?".
"Tempat orang berternak ayam ?"jawab Yeo Chi. Yoo Bang memperhatikan Yeo Chi serius.
"Ayam ? Deok? Dok dok ?"lanjut Yeo Chi. Yeo Chi nggak tahu kalau gurunya marah wkwk.
Seperti biasa selesai belajar dengan Yoo Bang, Yeo Chi kembali belajar dengan Hang Woo.
Hang Woo menjelaskan mengenai Deokjang (budi luhur).
"Mengontrol anak buah dengan budi luhur. Dengan kata lain, memimpinlah dengan Kharisma.
Itu kepercayaanku. Kharisma adalah kekuatan tertinggi"ungkap Hang Woo.
Yeo Chi teringat saat Yoo Bang menjelaskan mengenai kharisma,yaitu kotoran yang berlagak.
"Kotoran yang berlagak ? Siapa yang mengajarimu itu ?"tanya Hang Woo. "Kharisma mengalir keluar secara otomatis". Hal itu malah membuat Yeo Chi bingung ditambah Yoo Bang dan Hang Woo menyuruhnya membuangnya, Yoo Bang bermaksud menyuruh Yeo Chi membuang pelajaran mengenai kharisma sedangkan Hang Woo menyuruh Yeo Chi membuang kata-kata kotoran .
"Argg, ya ! akan kubuang kalian semua, *%@#*"umpat Yeo Chi. Yeo Chi keluar dari ruang belajar sampai mimisan. "Yang diajarkan sama, tapi kenapa caranya berbeda ? Apa yang kakek ingin aku pelajari?"guman Yeo Chi. Yeo Chi tersadar hidungnya berdarah.
Presdir Jin kembali menemui Jang Ryang.
"Apakah... antara Yoo Bang dan Hang Woo ada yang ingin kau jodohkan dengan nona Yeo Chi?"tanya Jang Ryang.
"Aku tidak yakin"jawab presdir Jin. "Yang paling penting adalah kompetensi. Tapi aku tak tahu bagaimana perasaan Yeo Chi. Dia sendiri yang bilang kalau dia lebih menyukai karakter".
"Kalau begitu sudah pasti bukan Yoo Bang", Jang Ryang menanggapi. Presdir Jin mengambil gula untuk ditaruh di cangkirnya, Jang Ryang tentu saja kaget melihat Presdir Jin mengambilnya dengan tepat. Jang Ryang pun menyingkirkan cangkir gula tentu saja Presdir Jin tahu, Jang Ryang pun tersadar penglihatan Presdir Jin sebenarnya masih baik.
"Dasi ungumu tidak cocok dengan jasmu"ungkap presdir Jin menyakinkan tebakan Jang Ryang. "Aku belum buta"lanjutnya. Jang Ryang menanyakan alasan Presdir Jin berpura-pura.
"Dalam waktu dekat, penglihatanku akan segera hilang. Aku berpikir-pikir apa yang akan terjadi kemudian"jelas Presdir Jin. Jang Ryang mengerti lalu presdir Jin menunjukkan berkas-berkas yang diminta para direktur untuk ditandatangani begitu mendengar Presdir Jin buta.
"Kau lihat saja sendiri, siapa yang mencoba memperdayaku"ujar Presdir Jin.
"Semua kerjaan ini...adalah pekerjaan Direktur Mo"jawab Jang Ryang. "Jadi, kau pun tak percaya pada Direktur Mo ?"tanyanya. "Direktur yang lain, bukan ancaman buatku. Tapi penghianatan Mo Ga Bi adalah hal yang fatal buatku".
"Ya memang. Karena dia yang paling dekat denganmu".
"Dokumen-dokumen ini. Direktur Mo yang menggantikan tanda-tanganku. Dan karena itu, aku mulai mencurigainya. Alasanku melibatkanmu di sini adalah karena aku masih ingin mempercayai Direktur Mo"ungkap Presdir Jin, Jang Ryang mengerti maksud presdir Jin.
Beom Jeung menelepon supir pribadi Presdir Jin memastikan bahwa Presdir Jin menemui Jang Ryang.
"Apakah sopir itu bisa dipercaya ?"tanya Ga Bi yang sedari tadi mondar-mandir tak tenang.
"Aku yang dulu mempekerjakan dia sebagai supirnya Presiden. Dia akan patuh padaku, tak usah khawatir"jawab Beom Jeung.
"Sikap presiden padaku belakangan ini aneh"ungkap Ga Bi, Beom Jeung bertanya apakah Ga Bi dicurigai?.
"Kurasa dia bertemu Jang Ryang bukan untuk sekedar ngobrol. Coba awasi dengan lebih seksama"pesan Ga Bi.
Hang Woo membagi dua tim untuk mensurvei barang-barang yang akan di jual periode saat itu. Tim satu Yeo Chi dan tim dua karyawan lainnya.
"Jadi aku kerja sendiri tanpa ditemani ?"tanya Yeo Chi.
"Bagi operator bisnis, yang terpenting adalah kemampuan. Sudah lupa ?"tanya Hang Woo.
"Seberapa pentingnya kemampuan itu"ujar Yeo Chi.
"Harus kau tunjukkan Kemampuan diatas yang lainnya"lanjut Hang Woo."Kalau tidak, aku takkan melanjutkan latihanmu"ancamnya. Yeo Chi hanya bisa ngedumel sendiri.
"Kau memberikannya pelatihan yang pantas"ujar Beom Jeung yang memperhatikan Yeo Chi dari ruangannya. "Dia pasti menyerah"jawab Hang Woo.
"Beberapa hari yang lalu, Yeo Chi menghadiri acara perjodohan dengan anak konglomerat"ungkap Beom Jeung."Benarkah ?"tanya Hang Woo.
"Jangan sia-siakan waktu. Introspeksi lagi kenapa kau masuk perusahaan ini", Hang Woo tak suka Beoum Jeung mengungkit-ungkit itu lagi.
"Kalau Yeo Chi jadi bertunangan,kerja keras kita selama ini akan sia-sia"tegas Beom Jeung. "Mulai sekarang, hal ini takkan kusinggung lagi. Kau sendiri yang bisa menilainya". Hang Woo nampak berpikir dengan kata-kata Beom Jeung yang ada benarnya.
Walaupun sendirian tanpa rekan, Yeo Chi bersiap pergi dengan barang-barang yang akan di survey. Ia berpapasana denga Hang Woo belum selesai melanjutkan kata-kata Yeo Chi langsung berkata agar Hang Woo tak usah khawatir. "Aku takkan menyerah seperti yang kau pikirkan"sengit Yeo Chi lalu berlalu.
Ini survey. Yeo Chi mencoba menawarkan produk barunya namun terbata-bata jadi tak seorang pun tertarik. "Ah.. dasar gembel. Masa mau jadi manager harus begini ?"keluh Yeo Chi. "Apa aku harus berkeliling satu persatu". Tiba-tiba Woo Hee datang dan bertanya apa yang dilakukan Yeo Chi. Yeo Chi menyuruh Woo Hee minggir saja.
"Kau melakukan survey, ya ?"tebak Woo Hee. "Kenapa sendirian ?".
"Lebih baik kau pergi saja sana !"jawab Yeo Chi, lalu Woo Hee mengambil beberapa sample dan mulai menawarkan pada orang yang berjalan kaki di sekitarnya. Woo Hee memanfaatkan kecantikannya untuk merayu orang lewat dan itu berhasil. Woo Hee kembali merayu pejalan kaki lain, Yeo Chi memperhatikan apa yang dilakukan Woo Hee.
"Wow. Sedingin ini dia bisa membuat orang lumer. Tetap saja tak ada yang istimewa di wajahnya"guman Yeo Chi. Orang tadi pun tertarik, sudah empat orang yang mengisi formulir.
Tiba-tiba ponsel Woo Hee berbunyi sepertinya Hang Woo yang menelepon. Woo Hee pamit masuk ke dalam kantor dan berpesan pada Yeo Chi melakukan seperti apa yang dia lakukan tadi.
"Fighting !"ucap Woo Hee memberi semangat. Yeo Chi melepaskan ikatan rambutnya agar tergerai.
"Udaranya dingin, ya ?. Kami punya banyak contoh, tolong formulir surveynya diisi. Akan kuberi kalian banyak hadiah"ucap Yeo Chi dengan gaya seimut mungkin. Namun orang-orang tadi bukannya tertarik malah pergi hahaha.
Direktur radiasi Taeyang Group sekaligus putra Presiden Taeyang Group datang ke kantor Yoo Bang.
Begitu tahu itu Yoo Bang lalu mempersilahkan orang itu duduk dan menyuruh wakil presiden Yoon aka Bun Kwae membelikan kopi dengan memberi Bun Kwae receh wkwkwk.
"Presiden, masa dia diberikan kopi dari 'vending machine' ?"bisik Bun Kwae.
"Tak usah, aku tidak minum kopi"potong direktur radiasi Taeyang group. "Kau sudah menerima faxku, bukan?", yang diiyakan Yoo Bang.
"Kau bilang hendak memasukkan sistem deteksi kesehatan di dalam handphone?"tanya Yoo Bang.
"Makanya aku ke sini untuk memastikan apakah program pengecek gula darahmu bisa diinstall.
Itu tujuanku ke sini"ungkap direktur Taeyang group. "Apakah menurutmu itu mungkin terjadi?"tanyanya. "Ya, tentu saja ! Kita perlu kreatifitas. Percayakan saja kepada kami"jawab Yoo Bang bersemangat. Tiba-tiba ponsel direktur Taeyang group berbunyi ternyata Hang Woo yang meneleponnya. Direktur Taeyang group bertanya untuk apa Hang Woo meneleponnya.
Direktur Taeyang group akhirnya menemui Hang Woo.
"Pendeteksi kesehatan dalam handphone? Idenya bagus"puji Hang Woo.
"Kau setuju, kan ? Produk utama perusahaan kami".
"Aku perlu sedikit waktu untuk mendesainnya"ungkap Hang Woo.
"Tapi tidak akan lama. Sebuah perusahaan kecil sudah melakukannya", Hang Woo bertanya perusahaan kecil pa itu?.
"Tapi tidak terlihat kecil. Yang kulihat seperti toko kelontong"jawab Direktur Taeyang group.
"Tapi mereka memang beruntung"ucap Hang Woo lalu bertanya nama perusahaan itu. Direktur Taeyang group belum sempat menjawab Woo Hee tiba membawakan minuman. Nampaknya direktur Taeyang group tertarik dengan Woo Hee.
"Apakah dia nona yang mau kau bawa ke reuni ?"tanya direktur Taeyang group yang ternyata teman Hang Woo. Woo Hee di ruangannya mencoba mencuri dengar pembicaraan keduanya.
"Semua teman-teman penasaran ingin melihatnya sejak kau ingin mengajaknya".
"Kenapa penasaran ? Aku cuma bawa sekretarisku, jadi tak usah dibesar-besarkan"jawab Hang Woo.
"Sekretarismu cantik dan seksi. Berita itu sudah menyebar di teman-teman alumni", Woo Hee tersenyum mendengar pujian direktur Taeyang.
"Mereka itu seleranya rendah"ucap Hang Woo, mendengar itu Woo Hee tak terima.
"Stanford? Lihat saja nanti...Siap-siap hidung kalian mimisan"tekad Woo Hee.
Woo Hee mencoba gaun seksi di sebuah butik, ia pun membelinya dan memastikan bahwa butik itu tutup sampai jam 8 malam. Woo Hee juga langsung memakainya tanpa labelnya dilepas.
"Dia mau membuatku menunggu berapa lama ? Jam berapa ini !"gerutu Hang Woo yang melihat jam tangannya. Tiba-tiba semuanya cowok bahkan Hang Woo yang hadir situ terpesona dengan kedatangan Woo Hee dengan gaun seksinya di tambah gaya jalannya yang menggoda. Kuakui Woo Hee memang seksi wkwkwk.
"Maafkan aku Wakil Presiden. Apakah aku terlambat ?"ucap Woo Hee tersenyum. Teman-teman Hang Woo segera mengerubunginya.
"Tidak. Tidak terlambat"ucap Hang Woo tersadar dari lamunannya. Direktur Taeyang dan lainnya mempersiapkan kursi untuk Woo Hee namun Woo Hee mengambil kursinya sendiri.
Hang Woo ingin memperkenalkan Woo Hee namun Woo memperkenalkan dirinya sendiri.
"Cha Woo Hee. Sekretaris Wakil Presiden. Hubungan kami hanya sebatas pekerjaan. Jadi jangan salah mengerti"ujar Woo Hee lalu ia melepaskan mantelnya karena kegerahan dan Woo Hee pun terlihat semakin seksi. "Pakai saja. Di sini dingin"ucap Hang Woo lalu memakaikan mantel Woo Hee kembali.
"Tadi aku agak tergesa-gesa. Jadi merasa sedikit panas", Woo Hee memberi alasan lalu kembali membuka mantelnya yang semakin membuat teman-teman Hang Woo klepek-klepek, jyah bahasa apaan ini wkwkkw. Hang Woo kembali memakaikan mantel Woo Hee dan beralasan nanti Woo Hee bisa kena flu.
"Aku merasa panas, Pak Wakil Presiden"tegas Woo Hee lalu kembali membuka mantelnya dan menyuruh Hang Woo melap keringatnya. Hang Woo melap keringatnya dengan saputangan dan Woo Hee pergi ke meja lain bersama direktur Taeyang dan teman-teman cowok Hang Woo lainnya untuk minum. Hang Woo yang bisa memandangnya dengan cemburu?.
Woo Hee terlihat mesra minum bersama Direktur Taeyang dan teman-teman lainnya.
Hang Woo yang terlihat cemburu menghampiri Woo Hee dan memakaikan mantel Woo Hee.
"Maaf mengganggu. Tapi Woo Hee dan aku..."ucap Hang Woo namun segera dipotong Woo Hee yang pamit pergi.
"Pergi ? Tapi pestanya baru mau mulai"ujar direktur Taeyang. Woo Hee beralasan karena dia ada janji.
"Dengan siapa ? Apakah... kau sudah punya pacar, nona Woo Hee ?"tanya direktur Taeyang.
"Aku sangat menikmati hari ini"ucap Woo Hee lalu pamit pergi..
"Aku tak menyadari waktu ketemu dia di kantormu tadi siang. Tapi dia begitu atraktif"ujar direktur Taeyang. "Bolehkan aku memacarinya ?"tanyanya.
"Tapi kau kan sudah punya pacar, brengsek"jawab Hang Woo.
"Pacar kan boleh berganti-ganti. Kecuali kalau sudah jadi istri", Hang Woo tak mengubris ucapan temannya ia pun bergegas pergi menyusul Woo Hee.
Woo Hee nampak terburu-buru menuju butik tempat ia membeli baju tadi.
Ternyata Woo Hee ingin mengembalikan baju yang dipakainya tadi. Hang Woo melihatnya dari kejauhan. Pakaian itu sudah tak bisa dikembalikan karena sudah ada noda walaupun baru saja di beli dan labelnya masih ada. Woo Hee pun meminta pakaian tadi lalu mencoba membersihkan nodanya.
Tiba-tiba Hang Woo menelepon butik tersebut dan bilang pada pelayan toko dan menunjukkan kartu kreditnya bahwa ia akan membayarnya dan berpesan agar jangan bilang pada Woo Hee.
"Katakan apa saja, tapi jangan cerita tentang aku. Berikan juga dia 10 model pakaian untuknya..."ujar Hang Woo ditelepon.
Woo Hee nampak frustasi karena noda tak dapat dihapus, ia pun meminta kelonggaran dengan pembayaran tunai tadi diganti dengan cicilan 36 bulan. Pelayan toko mengatakan bahwa Woo Hee tak perlu membayarnya karena ia adalah pelanggan ke 10.000. Pelayan toko juga bilang pakaian itu jadi miliknya ditambah 10 pakaian lagi. Woo Hee pun memilih baju untuk dicobanya, dan kesempatan itu digunakan untuk Hang Woo membayarnya dulu. Tapi tiba-tiba Woo Hee kembali, Hang Woo segera bersembunyi di balik meja.
"Apakah harga tidak masalah ? Aku boleh ambil apa saja ?"tanya Woo Hee yang diiyakan pelayan toko setelah konfirmasi ke Hang Woo. Woo Hee pun memilih baju-baju yang bagus, Hang Woo yang melihatnya menahan tawa.
Woo Hee keluar dengan barang belanjaan banyak. Hang Woo yang memang sudah menunggunya pura-pura melewati jalan itu. Hang Woo keluar dari mobilnya dan bertanya kenapa Woo Hee membeli begitu banyak barang.
"Aku dapatkan ini semua gratis !"jawab Woo Hee senang, Hang Woo sedikit tak percaya.
"Sungguh !. Aku nasabah ke 10.000. Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Biasanya nasibku selalu malang"cerocos Woo Hee.
"Kurasa kau suka barang gratisan"ucap Hang Woo. "Siapa yang tidak suka ?"balas Woo Hee. Hang Woo menawarkan mengantarkan Woo Hee pulang karena barang bawaan Woo Hee yang banyak. Woo sempat menolak namun Hang Woo mengatakan tak masalah karena Woo Hee sudah jadi partnernya menemaninya di acara reuni alumni kampusnya. Hal itu dilihat Ga Bi dan Beom Jeung yang selesai dari minum-minum, Ga Bi segera melepaskan gandengan tangannya dengan Beom Jeung.
"Itu sekretarisnya Choi Hang Woo, bukan ?"tanya Ga Bi yang diiyakan Beom Jeung. Hang Woo membantu Woo Hee meletakkan barang bawaan di bagasi mobil.
"Apa mungkin dia menghindar menikah dengan Yeo Chi karena wanita itu ?"tebak Ga Bi.
"Mana mungkin. Mungkin ini hanya kebetulan"jawab Beom Jeung tak percaya.
"Kau tak bisa lihat mereka ? Mereka sedang kencan".
Di lain tempat terlihat Yoo Bang ditemani Bun Kwae memilih-milih syal, topi dan sarung tangan di pedagang kaki lima.
"Hey, kau tak hendak membelikan itu buat Baek Yeo Chi, kan ?"tanya Bun Kwae.
Yoo Bang memutuskan apa yang dibelinya. "Hey, kalau kau berikan dia ini. Kau bisa ditampar bolak-balik olehnya"lanjut Bun Kwae.
"Ini buat Woo Hee. Sebagai tanda terimakasih atas jasa-jasanya"jawab Yoo Bang. Yoo Bang membayar belanjaannya yang seharga $30. Lalu ia meminjam uang pada Bun Kwae untuk ongkos ke rumah Woo Hee yang sebelumnya menyisakan satu lembar untuk Bun Kwae ckckckc. Yoo Bang pamit pergi mengantar hadiah untuk Woo Hee.
"Ya ampun...Kau begitu menyukai Woo Hee ?!"guman Bun Kwae, Bun Kwae bergegas pergi namun pedagang mengingatkan bahwa yang dibayar Yoo Bang tadi masih kurang $10, terpaksa $10 dolar yang dikembalikan Yoo Bang tadi diberikan, kasian Bun Kwae hahaha.
Yoo Bang sampai di rumah Woo Hee namun lampunya masih mati, ia pun berpikir Woo Hee belum pulang. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki Hang Woo dan Woo Hee, Yoo Bang pun segera bersembunyi.
"Kau tak berniat untuk pindah ? Kenapa tinggal di tempat tinggi begini ?"tanya Hang Woo. Bukannya menjawab Woo Hee malah meminta barangnya yang dibawakan Hang Woo.
"Aku sudah tak ada gunanya lagi ?Kau ini sudah matre, tak tahu terimakasih pula".
"Kenapa kau terus mengatakan aku matre ?"tukas Woo Hee.
"Kenapa ? Ekspresimu itu. Cewe Matre. Lugu dan naïf"jawab Hang Woo. "Aku hanya punya air dingin".
"Tidak apa-apa ? Kalau kau berikan, aku tak menolak"ucap Hang Woo. Yoo Bang memperhatikan barang belanjaan yang ditenteng Hang Woo.
"Moodku sedang bagus. Jadi, hanya minum segelas air dingin saja, OK ?"ucap Woo Hee.
Hang Woo bertanya segitu gembiranya Woo Hee.
"Kau tahu berapa nilainya semua ini ? Setahun gajiku !"beber Woo Hee senang. Keduanya lalu menuju rumah Woo Hee.
"Aigo, dasar. Cari cowok bukannya yang lebih tampan seperti aku. Tapi mencari cowok yang lebih kaya?"guman Yoo Bang tak percaya. Jyah ahjusi ngaku tampan wkwkwk, percaya deh ahjusi :P.
"Tapi biarpun begitu...Aku juga tidak pantas, berterimakasih pada jasanya, hanya dengan hadiah
seharga beberapa dollar. Aku juga orang yang tak tahu malu"gerutu Yoo Bang melihat barang yang dibelinya untuk hadiah Woo Hee yang tak seberapa. Tiba-tiba ponsel Yoo Bang berbunyi Bun Kwae menelepon mengatakan bahwa Yeo Chi juga berada di dekat rumah Woo Hee karena Bun Kwae lewat sana.
Yoo Bang memberikan kopi panas pada Yeo Chi yang kedinginan.
Yoo Bang bertanya sudah berapa survey yang Yeo Chi dapatkan.
"Berapa ? Tentu saja tak satupun"jawab Yeo Chi.
"Kau memang aneh. Apakah seseorang pernah mengutukmu ?"pikir Yoo Bang memeprhatikan wajah Yeo Chi. "Kenapa semua orang menjauh setiap melihatmu?"
"Itukah kata-kata seseorang kepada teman yang telah menyelamatkannya dari kelaparan?"balas Yeo Chi. "Terus saja, mengumpat terus !".
Lalu Yoo Bang mengeluarkan syal yang tadinya ingin diberikan pada Woo Hee dan memakaikannya pada leher Yeo Chi. Yoo Bang juga memberikan sarung tangan yang dibelinya."Kau memberiku barang-barang fashion murahan ?"
"Ini bisa menahan dingin. Buat apa fashion ?"jawab Yoo Bang seraya memakaikan topi ke kepala Yeo Chi."Bagaimana ? hangat, kan ?"tanya Yoo Bang. "Tapi ini sarung tangan wanita".
"Kau protes kalau seorang wanita kuberikan sarung tangan wanita ? Kalau sarung tangan pria,
aku takkan memakainya"elak Yoo Bang. Yeo Chi bertanya kapan Yoo Bang beli itu.
"Kau sengaja beli ini... untukku ?"tebak Yeo Chi.
"Tentu saja kubeli untukmu. Masa kubelikan buat kakekmu ?"jawab Yoo Bang dengan alasan membalas kebaikan Yeo Chi walau tadinya pertanyaan itu sempat menohok Yoo Bang hahaha.
"Karena hari ini dingin. Akan kupakai hanya sekali, menghargai kebaikanmu"jawab Yeo Chi gengsi walaupun sebenarnya senang dengan pemberian Yoo Bang wkwkkw.
"Jangan bicara yang tidak-tidak"ucap Yoo Bang tertawa. Yoo Bang memperlihatkan bahwa itu buatan tangan asli, jadi seperti barang mewah gitu. "Ya, ini cantik. Cantik"ucap Yeo Chi tersenyum senang.
"Tapi survey-survey ini...kapan bisa kuselesaikan ?"keluh Yeo Chi. "Lebih baik mati daripada melihat Hang Woo menertawakan kelemahanku. Dan aku tak ingin mengecewakan kakek lagi".
Yoo Bang melihat selebaran survey dan menyuruh Yeo Chi membawanya ke kantornya besok. Yeo Chi bertanya kenapa."Kalau instrukturmu menyuruh datang, datang saja. jangan banyak tanya !". Lalu Yoo Bang berkata bahwa ia akan mengantar Yeo Chi, Yeo Chi pun segera merapikan dandanannya sementara Yoo Bang membawa barang-barang milik Yeo Chi.
Yoo Bang menghentikan langkahnya dan bertanya pada Yeo Chi ."Kapan kau akan memberiku investasimu ?".
"Lihat saja dulu hasil pekerjaanmu"jawab Yeo Chi. "Aku sudah susah payah begini,awas kalau kau tidak berikan !"ancam Yoo Bang lalu menyuruh Yeo Chi cepat.
Keesokan harinya di kantor Yoo Bang membawa obat-obatan yang disurvey Yeo Chi. Yoo Bang membagikannya kepada karyawan Chun Ha diantara ke manager Kim Yoo Bang memberikan perawatan kulit, pemutih dan penghilang kerut untuk istrinya. Untuk Bun Kwae atau wakil presiden Yoon Yoo Bang dan semua itu gratis. Dan untuk kepala seksi Han aka Han Shin Yoo Bang memberikan obat diet penurun berat badan. Lalu Yoo Bang menyuruh sisanya dibagikan ke para pekerja pabrik dan mereka harus mengisi survey.
"Bagaimana ? Cepat, kan ? Ini namanya pelajaran manajemen secara langsung"ujar Yoo Bang.
"Kau memang hebat, Presiden Yoo"puji Yeo Chi tersenyum.
Malamnya Yeo Chi datang ke apartemen Hang Woo seraya membawakan snack padahal Hang Woo sedang enak-enaknya tidur malah diganggu.
"Aku tak biasa makan snack malam, tahu !"ujar Hang Woo.
"Tetap saja... aku takkan kemana-mana sampai kau selesai memeriksa hasil kerjaanku"ungkap Yeo Chi memperlihatkan hasil pekerjannya. Mau tak mau Hang Woo pun memeriksa hasil pekerjaan Yeo Chi.
Hang Woo memeriksa hasil pekerjaan Yeo Chi di temani Yeo Chi yang mengemil sandwich yang dibawanya.
"Memangnya kau ikan cupang ?"tanya Yeo Chi yang melihat Hang Woo memicingkan mata ke arahnya."Kenapa wajah kedepan, mata ke samping ?". Hang Woo bertanya apa itu dikerjakan Yeo Chi sendiri?. "Periksa sajalah, Wakil Presiden"jawab Yeo Chi. Lalu Hang Woo mengambil sandwich selai kacang seraya membaca lembaran survey milik Yeo Chi. Beberapa detik kemudian tangan Hang Woo gemetaran, dengan suara seperti orang tercekik Hang Woo bertanya apakah itu kacang.
"Kenapa kau tiba-tiba begini ? Jangan membuatku takut !"ujar Yeo Chi. "Ya, Selai kacang. Kenapa ?".
Dengan suara tersisa Hang Woo mencoba mengatakan bahwa ia alergi, Yeo Chi pun tersadar.
"Alergi !"seru Yeo Chi, Hang Woo pun pingsan di kursi.
"Ya ampun. Bagaimana ini ? Apa yang harus kulakukan ?", Yeo Chi panik melihat Hang Woo pingsan dan mencoba membangunkannya. Yeo Chi segera mengambil ponselnya dan menelepon 119 bertanya apa yang harus dilakukan pada penderita alergi kacang. Yeo Chi segera memeriksa badan Hang Woo mencari jarum suntik setelah mendapat instruksi dari 119 namun tak ada ia pun menemukannya di kotak obat yang ada di bawah meja. Yeo Chi pun menyuntikkannya namun Hang Woo belum juga tersadar, Yeo Chi pun memutuskan memberi Hang Woo nafas buatan. Hang Woo membuka matanya saat Yeo Chi memberinya nafas buatan.
"Leganya. Kurasa kau akan mati tadi!"gerutu Yeo Chi, Yeo Chi segera menanyakan keadaan Hang Woo begitu ia duduk. Hang Woo ingin menyentuh bibir Yeo Chi namun diurungkannya.
"Jangan sentuh tubuhku lagi"ujar Hang Woo.
"Kau sudah kuselamatkan dari kematian. Kau berkata begitu ?", Hang Woo malah menyuruh Yeo Chi cepat keluar. "Kau...Jangan pernah datang ke sini lagi. Pelajaran manajemen dariku. Cukup sampai di sini!"cerocos Hang Woo.
"Tidak perlu marah-marah begini. Aku tak tahu kalau kau alergi kacang. Sungguh"ungkap Yeo Chi membela diri. Namun Hang Woo malah mengeluarkan Yeo Chi dari apartemennya, begitu selesai melempari barang-barang Yeo Chi Hang menutup pintu apartemennya.
"Hey! kau beneran memperlakukanku seperti ini ? Aku sudah menyelamatkanmu ! Kau pikir aku sengaja?"teriak Yeo Chi di luar pintu. Hang Woo terlihat mengelap bibirnya.
"Awas kalau ketemu lagi kulumuri kau dengan selai kacang"ancam Yeo Chi, OSTnya familiar ni.
Beom Jeung dan Ga Bi minum bersama, Beom Jeung mengatakan sulit rasanya membujuk Hang Woo.
"Apakah karena Cha Woo Hee?"tanya Ga Bi.
"Bukan itu. Sejak ayahnya mati karena Presiden Jin. Hubungan kakek dan cucunya jadi bermasalah"jawab Beom Jeung. "Aku tak tahu itu apa, tapi...Aku merasa sedikit frustasi".
"Kenapa ? Kau takut Presiden Jin tiba-tiba bisa melihat lagi ?"tanya Beom Jeung. "Kita harus segera merubah surat wasiatnya. Hanya itu caranya"lanjutnya. Ga Bi teringat saat ia menukar obat insulin Presdir Jin dengan dosis tinggi.
"Aku sudah memasang jebakan"ungkap Ga Bi. "Apa yang kau bicarakan ?"tanya Beom Jeung.
"Kita lihat saja...Apa yang akan terjadi"jawab Ga Bi.
Terlihat Presdir Jin menyuntikkan sendiri insulinnya tanpa tahu bahwa telah diganti dengan dosis yang lebih tinggi. Ga Bi yang melihatnya menunggu dengan gelisah sampai ia memperkirakan waktu yang tepat ia segera ke ruangan Presdir Jin yang ternyata Presdir Jin sudah terkapar. Ga Bi pun segera pura-pura menolongnya dengan memberikan sebuah permen yang tersedia di laci meja Presdir Jin.
"Tadi kau menggunakan...suntikan insulin itu ?"tanya Ga Bi seraya memijit Presdir Jin.
"Sepertinya sudah tidak efektif.Nampaknya,hari Pernikahan Yeo Chi . Aku takkan sanggup sampai ke sana"ungkap Presdir Jin.
"Apa yang kau katakan, Presiden ?"ucap Ga Bi.
"Aku harus memperbaiki surat wasiatku. Setelah itu baru aku bisa rileks".
Woo Hee tanpa sengaja menabrak Hang Woo yang baru saja keluar dari lift. Woo Hee meminta maaf, Hang Woo ingin melihat majalah bisnis yang dibaca Woo Hee. Di majalah itu terpampang foto besar Yoo Bang yang memberitakan bahwa Paeng Seong Enterprise, mendirikan korporasi baru dengan teknologi baru. Hang Woo pun teringat kata-kata temannya Direktur Taeyang yang bekerja dengan perusahaan kecil. Hang Woo bergegas menelepon temannya itu dan mengajaknya bertemu.
"Kupikir kau sudah memutuskan hubungan dengan Paeng Seong Enterprise"ujar Hang Woo."Perusahaan itu berisi orang-orang yang dipecat dari pabrikku. Lalu mereka membuat alat pemantau gula darah itu"ungkapnya.
"Apa yang ingin kau katakan ?"tanya direktur Taeyang. "Begitu kami membuat tuntutan terhadap Paeng Seong Enterprise...Kau pasti akan sakit kepala".
"Kau mau turut campur dalam bisnis kami ?"tanya direktur Taeyang lagi.
"Kami berencana hendak membuat paten atas produk yang serupa. Aku hanya ingin menyarankan agar kau memilih pilihan yang aman"ungkap Hang Woo.
"Itu bisa diputuskan nanti. Tapi tentu saja tidak ada alasan untuk tidak bekerjasama dengan Chun Ha Group"jawab direktur Taeyang.
Hang Woo berdiskusi dengan Beom Jeung di apartemennya.
"Mereka sudah kuhentikan, tapi kewaspadaan kita tidak boleh turun. Tentang teknologi...Kita tidak bisa menjamin bahwa kita yang terbaik"ungkap Hang Woo. Hang Woo juga berkata bahwa mereka harus meyakinkan anggota direksi bahwa project itu harus jatuh ke tangan Chun Ha.
"Dalam strategi militer, ada yang disebut Bu-Jeo-Chu-Shin *(Menarik kayu bakar dari tungku) atau mengalahkan strategi musuh, dari akarnya"jawab Beom Jeung.
"Menarik kayu bakar. Dan mendinginkan tungku ?"tanya Hang Woo. Beom Jeung memberitahu bahwa kayu bakar Yoo Bang adalah Peng Wol.
"Peng Wol?"tanya Hang Woo. Beom Jeung menjelaskan bahwa Peng Wol orang yang mendanai pabrik, Yoo Bang memanfaatkan buruknya hubungan Hang Woo dengan Peng Wol.
"Kalau begitu masalahnya mudah diatasi"ujar Hang Woo.
"Kau hanya perlu mengobrak-abrik Peng Wol. Ini akan memotong sumber dana Yoo Bang".
"Ini akan seperti,balita yang diambil botol susunya"tukas Hang Woo. Beom Jeung mengatakan agar hal itu diserahkan saja padanya karena ia ada cara untuk mengatasi masalah itu.
Di kantornya Peng Wol bersama Yoo Bang , Bun Kwae dan Han Shin merayakan keberhasilan mereka.
"Kalian telah bekerja keras"puji Peng Wol. "Kau bilang Taeyang Group?"tanyanya.
"Ya, perusahaan elektronik Korea kelas dunia"jawab Bun Kwae.
"Kalau kita bisa kerjasama teknologi dengan mereka...Bisnis ini kuakui hebat. Sebodoh-bodohnya aku...Hal itu sih aku tahu"ungkap Hang Woo. Semuanya tertawa bersama.
"Ini belum sepenuhnya terealisasi. Baru permulaan. Masih banyak gunung yang harus didaki"ujar Yoo Bang.
"Jangan kuatir, saudaraku"tukas Peng Wol karena ia semalam bermimpi yang hebat. Bun Kwae bertanya mimpi apa itu. Peng Wol pun menceritakan mimpinya bahwa sekelompok orang berseragam
datang ke kantornya lalu membawa dokumen-dokumennya. "Dokumen?"tanya Yoo Bang yang diiyakan Peng Wol. Han Shin mengatakan bahwa ia bisa menerjemahkan mimpi itu yang berarti mereka akan mendapatakan rejeki nomplok !. Keempatnya kembali bersulang.
"Mereka bukan hanya satu atau dua orang. Mereka menyerobot masuk"ungkap Peng Wol, belum selesai menceritakan kembali mimpinya, mimpi Peng Wol menjadi kenyataan namun bukan rejeki nomplok yang datang. Dari pihak Kantor Pelayanan Pajak datang menerobos masuk membawa surat penggeledehan atas tuduhan penggelapan pajak . Semua dokumen-dokumen di kantor Peng Wol diangkut dan dibalik itu semua siapalagi kalau bukan Beom Jeung.
Di sebuah kedai Yoo Bang dan Bun Kwae segera menemui Peng Wol yang akan menarik dukungan finansialnya.
"Kenapa kau tiba-tiba menarik dukunganmu atas pabrik kami?"tanya Yoo Bang langsung. Peng Wol mempersilahkan Yoo Bang duduk lebih dulu.
"Maafkan kalau begini jadinya"ucap Peng Wol.
"Kalau sekarang kau tarik semua investasimu, sama saja dengan menyuruhku menutup pabrik"seru Yoo Bang. "Sainganku ingin menjatuhkanku...Jadi maafkan aku, aku harus menarik semua uangku dari pabrik"jelas Peng Wol. "Aku tak tahu ada fenomena apa sekarang. Pihak bank sudah tak mau memberiku pinjaman. Dan juga mana mungkin, aku melipat bisnisku hanya untuk menyelamakan kamu".
"Daripada menarik investasimu...Apa tidak ada jalan lain ?"tanya Bun Kwae
"Makanya aku minta maaf sebesar-besarnya. Melihat masalah pabrik, rasanya hatiku pun ikut terbakar"ucap Peng Wol, Yoo Bang nampak berpikir.
Akhirnya Yoo Bang memutuskan meminjam pada Presdir Jin, mereka pun bertemu di sebuah restoran. Kok kebanyakan model tatami gitu ya seperti restoran-restoran Jepang gitu :P.
Yoo Bang menyuapi sayuran organik ke Presdir Jin.
"Makanan rasanya lebih enak kalau mataku begini"gurau Presdir Jin, ketiganya tertawa.
"Kalau mau makan yang lain, tinggal bilang saja, Presiden"ujar Bun Kwae. Yoo Bang menawarkan udang namun Bun Kwae berkata kerang lebih baik.
"Kau sedang dalam masalah keuangan ?"tebak Presdir Jin tepat sasaran.
"Darimana kau tahu ?"tanya Yoo Bang.
"Biarpun mataku tak dapat melihat jelas. Tapi pendengaranku sangat tajam"ujar Presdir Jin.
"Karena itu, aku tak perlu basa-basi lagi untuk meminta tolong kepadamu"mohon Yoo Bang yang diikuti Bun Kwae. "Apakah $4 juta ( 4 milyar won) cukup ?"tanya Presdir Jin, Bun Kwae dan Yoo Bang terpana mendengar nominal itu. Lalu Presdir Jin menyerahkan surat perjanjiannya. "Tinggal kau stempel. Periksa lagi nilainya". Bun Kwae mulai menghitung nolnya pada berkas yang dibuka Yoo Bang.
Dan ternyata nominal yang tertari bukan $4juta tapi $40juta, Yoo Bang ingin mengatakannya namun mulutnya segera dibekap Bun Kwae.
"Sudah yakin ?. Sudah benar $4 juta kan ?"tanya Bun Kwae.
"Kau lihat sendiri kan ?", Presdir Jin balik bertanya, Yoo Bang ingin mengatakan sejujurnya namun Bun Kwae kembali membekap mulut Yoo Bang. Bun Kwae beralasan bahwa stempelnya tertinggal di mobil ia pun pamit mengambil setempel dulu bersama Yoo Bang. Nampaknya Presdir Jin sedang menguji kejujuran Yoo Bang.
Di luar Bun Kwae dan Yoo Bang berdebat.
"Kenapa kau ini ?"tanya Yoo Bang.
"Lihat ini. Ini bukan $4 juta tapi $40 juta. Kelebihan nol satu"ujar Bun Kwae.
"Kita harus memberitahukannya"tegas Yoo Bang. Bun Kwae menahan Yoo Bang yang akan segera kembali. "Kau sudah gila ? Kalau kita stempel, kita akan dapat $40 juta. Ini bukan hadiah dari Presiden
Tapi hadiah dari Tuhan"beber Bun Kwae. "Tutup matamu, ini uang. Hanya orang bodoh yang tak mau menerimanya. Sekarang, yang penting kita selamat dulu". Yoo Bang nampak berpikir.
Di dalam Presdir Jin kembali menyuntikkan insulin ke tubuhnya, ia segera menyembunyikan begitu Yoo Bang dan Bun Kwae masuk. Presdir Jin menyuruh segera menyetempelnya kalau sudah membawa stempelnya.
"Aku akan stempel diatasnya, tapi sebelumnya akan kustempel di tempat lain dulu"ujar Yoo Bang mengeluarkan stempel."Apa yang kau bicarakan ?"tanya Presdir Jin. Lalu Yoo Bang menyetempel jidat Bun Kwae sampai terpelanting hahaha.
"Aku tak bisa menandatangani kontrak ini"tegas Yoo Bang. Presdir bertanya kenapa?.
"Perjanjian kita $4 juta tapi tertulis $40 juta. Menurutmu apa yang harus kulakukan ?"jelas Yoo Bang lalu merobek-robek surat perjanjiannya dan melemparkannya ke Bun Kwae.
"Besok, bawa kontrak yang benar. Nanti kita ketemu lagi"tukas Yoo Bang.
"Anak bodoh. Kalau kau terus seperti ini, bagaimana kau akan menggaji karyawanmu ?"ucap presdir Jin.
"Dirimu sendirilah yang harus kau khawatirkan ! Kau tak punya orang untuk membuat kontrak yang benar ?". Presdir Jin menjawab tak ada.
"Tak seorangpun di kantor yang bisa kupercaya. Belakangan ini, aku selalu dipecundangi"kata Presdir Jin lemah. Tiba-tiba Presdir Jin kejang, Yoo Bang membantunya dan menyuruh Bun Kwae memanggil ambulans.
Ga Bi mendapat telepon bahwa Presdir Jin di rumah sakit, ia pun bergegas ke sana. Ia berpapasan dengan Beom Jeung, Ga Bi pun memberitahukan bahwa Presdir Jin pingsan karena penyakit gulanya.
"Lebih baik kau jangan ke sana"ujar Bun Kwae menahan Ga Bi yang bergegas pergi.
"Apa katamu ?"tanya Ga Bi.
"Supir itu baru saja menelepon dan bilang bahwa Presiden Jin sudah tahu tentang korupsi para pejabat di kantor ini"jawab Beom Jeung. Ga BI bertanya darimana Presdir Jin tahu.
"Dia telah meminta Jang Ryang menyelidiki", lalu Ga Bi bertanya di mana Jang Ryang, Beom Jeung mengatakan bahwa Jang Ryang sedang menuju RS.
"Presiden Jin masih belum sadar. Kita harus ke sana duluan dan menahan Jang Ryang"tegas Ga Bi.
Presdir Jin menelepon Yeo Chi dan mengatakan bahwa ia tak apa-apa dan menyuruhnya bertemu Yoo Bang. Begitu menutup teleponnya Presdir Jin menyuruh Yoo Bang menemui Yeo Chi untuk tanda tangan kontraknya. Yoo Bang dan Bun Kwae mengucapkan terimakasih. Tiba-tiba Jang Ryang tiba.
Lalu Ga Bi bertanya bagaimana dengan Jang Ryang, Bun Kwae mengatakan bahwa Jang Ryang sedang berbicara dengan Presiden.
Jang Ryang memberikan dokumen-dokumen yang diberikan Presdir Jin untuk diperiksa, Jang Ryang mengatakan bahwa Presdir Jin telah ditipu. Dana dukungan bisnis ada selisih beberapa juta won antara pengajuan dan realisasi.
"Pada akhirnya, Mo Gabi menghianatiku seperti yang lainnya"ucap presdir Jin kesal. Presdir Jin menelepon Ga Bi yang sudah duduk di ruang tunggu. Presdir Jin bertanya di mana Ga Bi, Ga Bi mengatakan sudah berada di dekat RS dan segera sampai.
"Kau sudah tandatangani kontrak investasinya ?"tanya Han Shin.
"Mereka hampir sampai ke sini. Jangan khawatir"jawab Yoo Bang. Han Shin melarang Yoo Bang melakukannya. "Jangan mau berinvestasi dengan mereka". Han Shin pun menjelaskan bahwa yang memblokir sumber dana Peng Wol adalah Chun Ha Group.Dan juga, Chun Ha Group telah mempatenkan
"Jadi semua tawaran mereka...Mereka hendak 'menelan' bisnis kita"ujar Bun Kwae. Tiba-tiba datang Yeo Chi menyapa dengan ceria tanpa tahu permasalahannya.
Di rumah sakit Presdir Jin nampak gelisah, Ga Bi nampak gemetar mengentuk pintu kamar rumah sakit Presdir Jin.
"Terimakasih telah menyelamatkan kakek"ucap Yeo Chi. "Kau bawa stempelmu ?"tanyanya. Namun Yoo Bang tak mengubris ia hanya mengaduk-aduk kopinya semantara Bun Kwae memalingkan muka.
"Ada apa dengan ekspresi kalian ? Apa ada sesuatu yang membuat kalian tak senang ? Atau apakah ada masalah ?"tanya Yeo Chi tak mengerti. Yoo Bang memandang serius Yeo Chi.
Epilog episode 13.
Yeo Chi dengan gembira mengaca memakai topi, syal dan sarung tangan pemberian Yoo Bang. Bun Kwae yang masuk berkata barang yang dibeli untuk Woo Hee diberikan pada Yeo Chi. Yoo Bang yang keluar ruangannya bertemu Yeo Chi dan memuji bahwa aksesoris itu cocok dipakai Yeo Chi. Yeo Chi pun melepaskan syalnya dan mengalungkannya pada Yoo Bang yang memasak air. Yeo Chi yang kesal pun mencekik Yoo Bang dengan syal pemberian Yoo Bang hahaha.
Lalu ada trailer History of Salaryman, yang ceritanya seperti peperangan beda banget ama kisahnya, apa gara-gara taktif bisnisnya diambil dari istilah-istilah peperangan ya ?
Salut dengan kejujuran Yoo Bang, menolak dana $40juta won karena yang dipinjam hanya $4juta. Dan kasian juga dengan Presdir Jin yang dikelilingi dan dihianati para eksekutifnya. Jadi penasaran sebegitu burukkan kepemimpinan Presdir Jin? Sampai mereka tega menusuk Presdir Jin dari belakang?.
Jadi penasaran versi novelnya? Bisa dibeli dimana ya? :P.
Written & Images by Ari Arata
Indosub Thanks to Papario @islandsub
siennra 10 Mar, 2012
-
Source: http://www.pelangidrama.net/2012/03/sinopsis-k-drama-history-of-salaryman_10.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com Share on Facebook












































































