Lambang Untuk Kesetiaan, Gil Jae

Gunung Ju Zu Yang Tidak Hancur Walaupun Sungai Yalu banjir
Walaupun ada banyak orang yang beriman, tidak begitu banyak yang menjaga kesetiaan. Namun, Pak Gil tetap menjaga kesetiaan. Dengan melepaskan kejayaan dari jabatan tinggi, dia mengundurkan diri menuju kampung halaman sambil tinggal di rumah jerami. Ah! Walaupun kejayaan dari dinasti Zhou tinggi seperti langit, mereka tidak dapat menghibur Boyi and Shuqi yang menjalani hidupnya dengan menggali paku di gunung. Saat dinasti Han menikmati masa keemasan, mereka membiarkan Yan Ziling yang menghabiskan waktu sambil memancing di sungai Tong. Walaupun seribu tahun berlalu, kita tidak dapat bertentangan dengan hati mereka.
Tulisan tersebut ditulis oleh sarjana Gwon U pada akhir kerajaan Goryeo dan awal Joseon untuk memperingati Gil Jae dengan mengandung rasa hormat terhadap Gil Jae. Secara nyata, setelah kerajaan Joseon didirikan, Yi Bang-won, yaitu raja Taejong memberikan jabatan kepada Gil Jae, namun Gil Jae menyatakan tidak dapat melayani dua orang raja. Dengan demikian, dia menolak jabatannya dan mengundurkan diri menuju kampung halaman untuk menjaga kesetiaan terhadap kerajaan Goryeo. Kesetiaan Gil Jae serupa itu diibaratkan sebagai gunung Ju Zu yang tidak pernah hancur walaupun sungai Yalu banjir. Nah, pada hari ini, mari kita cermati kehidupan Gil Jae yang menjadi lambang untuk kesetiaan.
Bawahan Dari Kerajaan Goryeo
Gil Jae lahir pada tahun 1353 menjelang akhir kerajaan Goryeo sebagai putra dari bupati Geumsan, Gil Won-jin. Saat dia berusia 8 tahun, ayahnya memegang jabatan di daerah Boseong, Jellla. Namun, gaji ayahnya tidak mencukupi, sehingga Gil Jae berpisah dengan keluarga dan terpaksa tinggal di rumah orang tua dari ibunya. Karena itu, Gil Jae melewati masa kecil yang miskin dan sepi, namun Gil Jae yang pintar itu menimba ilmu sekeras-kerasnya. Khususnya, dia belajar di bawah asuhan oleh beberapa sarjana seperti Yi Saek, Jeong Mong-ju, Gwon Geun, dll. yang mengembangkan Neo-konfusianisme.
Gil Jae yang berbakat tinggi di bidang ilmu mulai memegang jabatan setelah lulus ujian dalam usia 31 tahun. Gil Jae memegang jabatan pada bidang yang berkaitan dengan pendidikan, namun dia mundur dari jabatannya setelah Yi Seong-gye berencana untuk mendirikan kerajaan baru.
Tidak Akan Melayani Dua Orang Raja
Walaupun jabatan diberikan kepadanya sebanyak beberapa kali, Gil Jae tidak menerimanya. Setelah raja terakhir dari Goryoe, raja Gongyang wafat, dia melakukan perkabungan tiga tahun. Raja Taejong yang merupakan teman Gil Jae, Yi Bang-won memberikan jabatan kepada Gil Jae, namun dia menolak anjuran itu karena dia menyatakan tidak akan melayani dua orang raja.
Demikianlah, Gil Jae menjalani hidupnya dengan menjaga kesetiaan, sehingga banyak sarjana muda ingin menimba ilmu dengannya. Kim Jong-jik, Jo Gwang-jo, dll. yang menjadi akar untuk sarjana Sarim pada kemudian hari merupakan murid-murid dari Gil Jae. Gil Jae membuka kelas di pegunungan Geumo dan menyampaikan pengalaman atau prinsip sebagai pejabat setia pemerintah. Setelah itu, banyak murid dari Gil Jae berhasil memegang jabatan di dalam pemerintahan, sehingga gunung Geumo dijadikan sebagai mekah untuk ilmu Neo-konfusianisme pada abad ke-15. Katanya, sarjana tertinggi di bidang Neo-konfusianisme Yi Hwang juga sangat menghormati gurunya Gil Jae.
Demikianlah, Gil Jae tetap menimba ilmu sampai meninggal dunia pada tahun 1419 terlepas dari kejayaan, kekayaan, dan jabatan tinggi. Dia menjalani hidupnya seperti pohon bambu yang tidak layu pada musim dingin, sehingga generasi berikutnya tetap memperingati kesetiaan dan pengetahuannya yang tinggi dari Gil Jae.
Source :kbsworld
Shared by IniSajaMo
Share on Facebook