[Sinopsis J-Drama] Boku to Star no 99 Nichi Episode 6
"Jadi, kau tidak keberatan tinggal di bukit terpencil ini sendirian?"tanya seniornya.
"Tentu saja. Bila aku bisa mempelajari tentang bintang, aku bisa menghadapi cara hidup seperti apapun."
"Aku mengerti. Aku menanti saat di mana kita bisa bekerja sama."
"Tentu saja!"jawab Kohei dengan semangat. (dia bener-bener seneng dapet kerjaan di observatorium)
Kohei sedang melihat-lihat tempat kerjanya sendirian. Tiba-tiba ada seorang wanita yang memanggil Kohei. "Senpai!"
"Oh, Kuma!"
"Berhenti memanggilku 'Kuma'. Aku punya nama yang bagus, Kumada Kozue. Aku selalu memintamu memanggilku Kozue,"kata Kozue dengan kesal.
"Memanggilmu 'Kuma' lebih mudah," jawab Kohei dengan acuh. (dasar Kohei, selalu memanggil orang dengan sebutan aneh2)
"Bagaimana? Apa kau beruntung?"tanya Kuma. (ikutan manggil Kuma deh.. ^^)
"Dia bilang dia sudah menunggu bekerja sama denganku,"jawab Kohei.
"Baguslah.. Oh ya, kau belum makan siang kan? Mau makan bersamaku? Di dekat sini ada tempat Soba yang enak. Kau suka Soba kan?"
Kohei bingung menjawab apa karena dia membawa makan siang pemberian Yuna. " Eh, maaf, aku sedikit buru-buru. Kakak perempuan dan anak-anaknya menungguku di rumah."
"Aku mengerti,"jawab Kuma sambil tersenyum, namun sebenarnya dia merasa kecewa. (hmm, kayaknya ada aroma asmara nih..)
Di luar, Yuna yang masih bersembunyi, melihat Kuma dan Kohei yang berjalan keluar sambil berbincang-bincang tentang bintang dengan akrab. Yuna merasa cemburu dan berjalan pergi.
Setelah sampai di luar dan Kuma masuk kembali ke dalam, Kohei mendatangi tempat persembunyian Yuna sambil berharap Yuna masih ada di situ. Tapi, Yuna sudah pergi. (coba satu menit lebih cepet, pasti ketemu)
"Dia sudah pergi ya?"kata Kohei dengan kecewa.
Di stasiun kereta, Yuna bertanya ke petugas kereta apa dia bisa membeli tiket kereta ke Tokyo.
"Tokyo? Keretanya baru berangkat dua jam lagi,"jawab petugas kereta sambil melihat jam dan jadwal keberangkatan kereta.
"Dua jam? Jadi aku tidak bisa berangkat langsung.."kata Yuna dengan kecewa.
Dia lalu berjalan keluar dan melihat spanduk tentang Ladang Miyuki. Yuna melihat spanduk itu dan ingat janji Kohei untuk menunjukkan bintang-bintang di Ladang Miyuki ke Yuna.
"Apa maksud dia dengan 'aku akan menunjukkan bintang-bintang padamu'?" Yuna berbalik pergi namun membalikkan badan lagi dan bertanya pada seorang pria tua di mana ada taksi.
"Di sini tidak ada taksi,"jawab pria tua itu.
"Apa kau tahu di mana letak ladang Miyuki?"tanya Yuna lagi.
Pria tua itu membalikkan badan lalu menunjuk ke arah bukit, "Bukit itu,"katanya.
Yuna memandangi bukit dengan pandangan penuh tekad.
Di suatu restoran, Takanabe, Ren, dan Sumire sedang makan.
Takanabe melarang anak-anak memanggilnya 'Paman Takanabe' karena mereka sedang mengendap-endap. (lucu juga liat Takanabe akrab sama keponakan Kohei hehehe..)
"Tapi, kenapa kau yakin bahwa Yuna pergi ke suatu tempat dengan Kohei?"tanya Sumire.
"Itu karena aku mendapat informasi rahasia,"jawab Takanabe.
Ren dan Sumire memandang Takanabe dengan terpesona. "Mungkinkah kau memiliki koneksi dengan FBI atau CIA?"
"Sssttt... Sudah menjadi peraturan bahwa aku tidak boleh membocorkan sumberku,"kata Takanabe dengan bangga. (paling-paling dia tahu dari Hijin..)
"Menakjubkan,"kata Ren."
"Menakjubkan kan? Kalau kau paham, cepat habiskan udon-nya. Kalian ingin menghentikan Kohei juga kan? Cepatlah,"kata Takanabe membujuk mereka.
"Yes, Sir!"jawab Ren dan Sumire dengan bersemangat sambil mengacungkan jempol pada Takanabe. Takanabe juga ikut-ikutan mengancungkan jempol. (lucu... ^^)
"Kelihatannya, 'FBI'ku kadang-kadang berguna juga,"kata Takanabe dengan bangga.
Di suatu tempat, Hijin dan Junkichi baru sampai.
"Berkatmu, aku mendapatkan liburan tak terduga,"kata Junkichi pada Hijin.
"Tapi, hal ini tidak baik. Aku sudah berbuat kesalahan,"kata Hijin dengan wajah menyesal.
=Flashback=
"Aku akan meninggalkan pesan ini untuk manajer. Kau ambilah istirahat dan lakukan apa yang kau mau,"kata Yuna pada Hijin.
Hijin lalu menelepon Junkichi yang sedang berada di mobil bersama Takanabe.
"Yuna pergi kabur!"kata Hijin.
"Yuna kabur lagi?"tanya Junkichi dengan kaget. Takanabe yang sedang makan juga ikut kaget.
"Kabur?!"teriak Takanabe. (ati-ati muncrat, Takanabe...)
=Flashback End=
"Tidak usah khawatir. Yang lebih penting, setelah ini kita akan menyusur jalur menuju Ishidian,"hibur Junkichi.
"Tentu saja!"kata Hijin dengan semangat.
Di pinggir danau, Kohei merasa lapar dan ingin makan makanan pemberian Yuna di situ. Dia lalu membuka kotak makan dan melihat makanan yang diatur Yuna dengan lucu.
"Wah, lucu.. Terima kasih untuk makanannya,"kata Kohei. Dia lalu mulai makan dan merasa keasinan. (hahaha.. kayaknya kemampuan masak Yuna belum berkembang)
Di hotel, Momo menemui Naoko.
"Mengapa kau tiba-tiba ingin menemui aku?"tanya Naoko pada Momo.
Momo menoleh lalu Taesung muncul.
"Ah, kamu.."kata Naoko dengan salah tingkah.
"Maaf, kalau aku menimbulkan masalah bagimu,"kata Taesung sambil membungkukkan badan.
"Tidak usah khawatir. Aku akan melakukan apapun demi Yuna."
"Tetap saja aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku karena kau sudah melindungi kakakku. Lebih-lebih, mungkin permintaanku agak aneh, tapi..." Taesung lalu mendorong Momo maju, "Aku ingin kau melihat latihan rutin Momo."
"Hah?" Momo terkejut.
"Sekali saja. Aku mohon,"kata Taesung lagi sambil membungkukkan badan.
Naoko diam saja. Momo merasa kaget, namun dia juga ingin Naoko melihat tariannya.
"Terima kasih untuk makanannya,"kata Kohei setelah selesai makan. "Sepertinya aku makan terlalu banyak."
Kohei lalu mendengar suara mobil datang dan itu ternyata mobil Takanabe.
"Kohei!"teriak Ren dan Sumire dengan bersemangat.
"Sumire! Ren! Ganmo?!", Kohei kaget.
"Diam kau Kohei!"teriak Takanabe sambil berlari mendatangi Kohei. "Di mana Yuna? Aku tidak akan membiarkan kau kabur berdua dengannya!"kata Takanabe sambil berputar-putar mencari Yuna.
"Kabur?"tanya Kohei dengan heran. (muka Kohei lucu ^^)
"Tentu saja. Untuk apa kami kabur berdua? Tidak masuk akal,"jawab Kohei. "Baguslah, ayo beri kami tumpangan ke Tokyo,"lanjut Kohei.
"Tunggu,"kata Takanabe sambil menarik baju Kohei. "Dia benar-benar tidak kabur kan?" Takanabe masih tidak percaya.
"Dia bilang sesuatu tentang pergi ke pemandian air panas... lalu meninggalkan kotak makan siang. Kelihatannya, pemandian itu bangkrut, jadi aku pikir dia sudah pulang ke Tokyo."
"Ayo kita pergi ke stasiun kereta,"usul Sumire. "Kita bisa bertanya di sana apa ada yang melihat dia."
"Betul juga. Ayo kita ke sana. Lalu kita bisa melihat apakah yang kau katakan betul atau tidak,"kata Takanabe sambil menunjuk Kohei. "Ayo pergi ke stasiun!"
"Yes, Sir!"jawab Ren, Sumire, dan Kohei bersamaan lalu naik ke mobil Takanabe.
Di kamar hotel, Momo sudah selesai menari, namun Naoko menyuruhnya menari sekali lagi. Taesung dan Momo merasa terkejut namun Momo melakukannya.
Naoko mengamati tarian Momo dengan seksama. (kayaknya sih tertarik..)
Kohei dan yang lain sampai di stasiun kereta. Mereka bertanya pada penjaga stasiun apakah Yuna pernah ke sana.
"Ah, ada. Dia datang dua jam lalu dan bertanya kereta menuju Tokyo, setelah itu dia pergi."
"Pergi ke mana ya?"tanya Kohei dan Takanabe sambil memandang satu sama lain.
"Kohei, ini adalah kompetisi,"kata Takanabe.
"Kompetisi?"tanya Kohei dengan heran.
"Siapa yang akan menemuka Yuna lebih dulu."
"Jangan bicara aneh-aneh, ayo cepat.."
"Mungkin ini adalah potongan puzzle yang ditinggalkan Yuna."
"Hah?"
"'Datanglah dan carilah aku. Lalu akan menjadi milikmu selamanya..'"kata Takanabe dengan gaya teatrikal. "Sesuatu seperti itu?"
"Tidak mungkin Yuna bermaksud seperti itu,"bantah Kohei.
"Tetap saja, supaya efisien, sebaiknya kita berpisah. Kita cari Yuna sendiri-sendiri,"kata Takanabe sambil menuju mobil.
"Baiklah, bagaimana dengan Ren dan Sumire?"tanya Kohei.
Ren dan Sumire masuk ke mobil. "Dengan cara ini kita akan menemukan Yuna-san lebih cepat,"kata Ren sambil melemparkan tas Kohei ke arah Kohei. "Hanya ini cara terbaik,"lanjut Ren sambil menganggukkan kepala penuh keyakinan diikuti Sumire. (dasar keponakan pengkhianat...)
"Sampai jumpa,"kata Takanabe sambil melambaikan tangan dan menjalankan mobil,
Kohei hanya terpana.
"Hei, Takanabe-san,"panggil Sumire. "Kenapa kau tidak menelepon Yuna-san saja?"
Takanabe terdiam lalu menekan rem dengan tiba-tiba.
"Aku tidak bisa,"kata Takanabe.
"Hah?" Sumire dan Ren tidak mengerti.
"Pertandingan ini akan berarti bila kami sama-sama berusaha keras untuk menemukan Yuna,"kata Takanabe sambil melepas kacamata hitamnya. (sok keren nih ceritanya...) "Kau tidak bisa menggoyahkan perasaan seseorang dengan mengambil langkah mudah. Kalian berdua ingatlah hal itu. Ayo berangkat,"kata Takanabe sambil memasang kembali kacamatanya dan menjalankan mobil.
"Mencurigakan,"kata Sumire dan Ren sambil berbisik-bisik. "Aku pikir dia tidak memiliki nomer telepon Yuna."
"Go!!!"teriak Takanabe bersemangat.
Sementara itu, Kohei sambil berjalan berusaha mengira-ngira ke mana Yuna akan pergi. Kohei lalu duduk di sebelah pria tua yang tadi ditanyai oleh Yuna. (masih aja makan sesuatu.. kok ga selesai-selesai Kek? ^^)
"Ah, aku menelepon Yuna saja,"kata Kohei lalu mengeluarkan hp-nya. Dia menekan nomer Yuna dan mendengar suara telepon Yuna di dekat-dekat situ. Kohei lalu berlari menuju kantor kereta tepat saat hp Yuna diangkat oleh petugas kereta.
"Halo, siapa ini?"tanya petugas kereta.
"Eh, telepon ini.."
"Ah, iya! Kelihatannya milik orang yang kau cari,"kata petugas kereta itu. (hahaha... mereka telepon-teleponan, padahal udah hadap-hadapan..)
Di lain tempat, Yuna sedang berjalan sambil makan anggur yang dibelinya dengan santai. (Mbak, banyak yang nyariin tuh...)
Yuna kemudian membaca papan penunjuk jalan menuju ladang Miyuki. "5 km lagi. Sepertinya masih jauh." Yuna kemudian melanjutkan perjalanannya.
Kohei lalu menuju ke Ladang Miyuki. Dia bertemu dengan ibu penjual anggur yang tadi dibeli Yuna dan menanyakan tentang Yuna. Kohei kemudian berlari menuju arah yang ditunjuk oleh ibu itu.
Di tengah jalan, Kohei menemukan sebuah anggur. "Anggur? Pasti dia.." (insting detektif tajam..)
Sementara itu, Yuna menumpang kendaraan pengangkut jerami. Pengangkut jerami mengingatkan Yuna tentang bahaya beruang yang berkeliaran di Ladang Miyuki, namun Yuna tidak mengerti karena logat orang itu aneh.
Di lain tempat (kayaknya tempat belanja), Takanabe, Sumire, dan Ren berkeliling mencari Yuna.
Takanabe menyapa orang yang dia pikir Yuna tapi ternyata bukan. Wanita itu langsung menyadari bahwa itu adalah aktor Takanabe Yamato dan berteriak histeris. Orang-orang langsung mengejar Takanabe.
"Lari,"kata Takanabe, dan mereka langsung berlari sambil dikejar para fans Takanabe.
Saat berlari, Takanabe melewati Hijin dan Yunkichi yang sedang makan di pinggir jalan.
"Takanabe-san?"kata Hijin.
"Kenapa dia membawa anak-anak bersamanya?" Yunkichi terpana heran.
Momo sudah selesai menari entah untuk keberapa kalinya. Dia kelelahan.
"Sekali lagi,"kata Naoko.
"Tidak bisa,"kata Momo dengan terengah-engah.
"Momo..." Taesung memperingatkan.
"Aku tidak bisa menari lagi. Apa-apaan ini? Berapa kali aku harus menari? Ini penindasan kan? Kau senang melihatku berusaha keras. Kalau memang begitu, aku sudah selesai." Momo lalu membalikkan badan dan akan keluar kamar.
"Momo!"panggil Taesung.
"Apa ini hanya ini yang kau lakukan untuk mimpimu?"tanya Naoko. Momo berhenti dan melihat ke arah Naoko.
"Kau berhenti dan pergi hanya karena aku memintamu mengulangi beberapa langkah? Apa itu komitmenmu? Kalau iya, betul tebakanku.." Naoko menggeleng-gelengkan kepala lalu berdiri. "Lebih baik kau berhenti. Mimpi hanya membuang-buang waktumu. Silakan pergi."
Taesung melihat ke arah Momo. Momo merasa tertantang dan menari lagi.
Naoko kembali duduk dan memperhatikan Momo lagi.
Taesung tersenyum melihat semangat Momo (manis... ^^) lalu dia keluar dari kamar hotel. Di luar Taesung berjalan pergi dengan penuh tekad (hmm, mau ngapain ya?)
Kohei melewati kendaraan pengangkut jerami dan melihat batang anggur bekas Yuna. Kohei lalu mendatangi pengemudi yang sedang memberi makan hewan.
"Permisi, apakah kau bertemu wanita bermantel hitam dan bersepatu bot?"tanya Kohei.
"Ah, wanita yang bernama aneh itu."
"Ya, Yuna. Apakah dia bilang dia akan pergi ke Ladang Miyuki?"
"Ya, padahal aku sudah memperingatkannya tentang beruang yang berkeliaran di sana."
"Beruang?" Kohei terkejut.
"Di sana ada beruang kelaparan yang berkeliaran. Baru saja ada penyuka bintang yang diterkam oleh beruang-beruang di sana."
"Baiklah, aku akan segera ke sana!" Kohei lalu menelepon Takanabe. "Hei, ganmo!"
Takanabe saat itu sedang menyetir dan langsung mengerem mendadak. Wajah Sumire dan Ren belepotan terkena es krim yang sedang mereka makan. (hehehe...)
"Apa? Beruang? Maksudmu beruang betulan? (ya iyalah...) Baiklah, aku mengerti. Lapangan Miyuki kan?" Takanabe lalu menutup telepon. "Kohei, tetap saja kau naïf. Memberi rivalmu informasi penting. (nyangkut nyawa tau...) Aku tidak akan kalah darimu,"kata Takanabe berbicara sendiri.
"Baiklah, sepertinya kita akan memenangkan kompetisi ini,"kata Takanabe pada Sumire dan Ren.
"Semangat!"kata mereka.
Takanabe akan menjalankan mobil, tapi... mesinnya mogok (hahaha...)
Takanabe baru memperhatikan bahwa bensinnya habis.
"Kenapa kau bisa tidak tahu? Tidak bisa dipercaya!"kata Sumire kesal.
Yuna sudah di dekat Ladang Miyuki, namun dia tidak memperhatikan tanda bahaya beruang.
Saat sampai di Ladang Miyuki, saking gembiranya, Yuna tersandung dan terkilir.
"Aduh.." Yuna tidak memperhatikan pohon di belakangnya yang bergerak-gerak. "Sakit..."
Kohei berlari-lari menyusul Yuna. Dia berusaha menghubungi Takanabe tapi tidak bisa.
"Ganmo, apa yang kau lakukan?" Kohei kesal. "Apa dia sudah sampai?"
Kohei melanjutkan larinya.
"Ya, kau urus mobilnya,"kata Takanabe yang berjalan sambil menggandeng Ren dan Sumire yang kelelahan. (kayak bapak hehehe...)
"Pertama, kau harus memanggil Triple A..." Junkichi mengarahkan.
"Takanabe Yamato tidak boleh ketahuan menelepon Triple A karena kehabisan bensin,"potong Takanabe. "Junkichi, kau lakukan sesuatu." Takanabe lalu mematikan telepon.
"Taka-Takanabe-san?" Yunkichi kesal.
"Ada apa?"tanya Hijin. "Makanan di sini lezat semua."
"Maaf ada keperluan mendadak (NB: Kinkyuu = keperluan mendadak),"kata Junkichi sambil melepaskan mantel kamarnya.
Hijin salah dengar. "Kau ingin menciumku dengan cepat? (NB: Kyuu ni Chuu = ciuman dengan cepat) Tapi ini masih siang,"kata Hijin dengan senang.
Di tempat Emiko.
"Observatorium?" Naoko terkejut. "Betulkah?"
"Kelihatannya di pergi untuk wawancara hari ini. Yuna tidak mengatakan apa-apa?"kata Emiko sambil meletakkan makanan.
"Yuna tidak... Lalu bagaimana dengan perjanjian 99 hari-nya?"tanya Naoko.
"Aku minta maaf!" Emiko menundukkan kepala dalam-dalam. "Tapi, ayolah. Bahkan Kaktus juga memiliki mimpi. Aku rasa aku harus mendukungnya,"kata Emiko membujuk Naoko.
"Mimpi, aku mengerti. Sebenarnya, ada seorang gadis yang mirip yang muncul di depanku hari ini. Yang mengejutkan, dia memiliki keberanian. Aku mengubah pendapat tentang dia, sedikit. Apa mimpimu, sensei?"tanya Naoko pada Emiko. "Menjadi cendekiawan yang terkenal?"
"Aku tidak tahu..."kata Emiko sambil tertawa.
"Sebelum mengambil pekerjaan ini, mimpiku adalah... menjadi seorang penyanyi!"kata Naoko (kayaknya mulai mabuk nih..)
Naoko kemudian mulai menyanyi dan memegang botol minuman seakan-akan mikrofon.
Sementara itu, Taesung bekerja sebagai pekerja bangunan malam hari.
Yuna berbaring sambil memandang bintang-bintang.
"Wah, persis yang Kohei katakan! Benar-benar seperti bintang jatuh ke atasku,"kata Yuna dengan gembira.
Tiba-tiba terdengar gemeresik pohon. Yuna langsung bangun dan melihat pohon di dekatnya bergerak.
Yuna ketakutan dan berusaha lari, namun terjatuh karena kakinya terkilir.
Tiba-tiba muncul sesosok bayangan muncul, Yuna berteriak ketakutan...
Ternyata yang muncul adalah pemburu yang membawa senapan.
"Hah? Ternyata manusia?", pemburu itu heran.
"Kau mengagetkanku.."kata Yuna sambil memegang dadanya.
Dari kejauhan terdengar suara orang yang mengatakan bahwa dia menemukan beruang.
"Baru-baru ini, ada beruang berkeliaran, segeralah pulang ke rumah,"pesan pemburu itu lalu berlari pergi.
"Beruang?" Yuna kaget dan ketakutan. "Tu-tunggu.." Tapi pemburu itu sudah pergi.
Yuna mendengar suara pohon yang bergerak lagi. Dia ketakutan dan langsung menelungkupkan badan saat muncul bayangan lagi. "Aaaaa!"teriaknya.
Dan ternyata... Kohei yang muncul dengan daun-daun di tubuhnya (kasian sampe berantakan nyari Yuna...)
"Yuna?"tanya Kohei.
Yuna langsung bangun dan memeluk Kohei. "Kohei!"
"Apa yang kau lakukan di sini?"tanya Kohei namun Yuna diam saja sambil terus memeluk Kohei. "Yuna-san?"
Yuna tersadar dan langsung melepaskan pelukannya. Dia merasa malu dan bertanya ketus, "Kenapa kau berada di luar?"
"Apa yang kau katakan? Bahaya berada di luar sendirian,"bantah Kohei.
"Kohei, kau bukan pengawalku lagi. Ini bukan urusanmu lagi,"kata Yuna dengan nada memerintah.
Kohei kesal dan bertanya, "Apakah gan.. Takanabe sudah sampai?"
"Takanabe-san? Untuk apa dia ke sini?"tanya Yuna heran.
"Ke mana sih dia?" Kohei kesal. Kemudian kotak makanan Yuna yang tadi terjatuh.
"Ayo kita pulang,"katanya. Kohei mulai berjalan, tapi lalu sadar kalau Yuna tidak mengikutinya.
Kohei membalikkan badan dan memperhatikan kaki Yuna. Yuna memegang kakinya yang kesakitan.
"Protes karena aku berada di sini? Bagaimana kau akan pulang dengan kakimu seperti ini?"kata Kohei sambil membebat kaki Yuna.
Yuna tidak menjawab. "Bintangnya benar-benar indah. Yang bisa kau lihat adalah langit dan bintang. Benar-benar cantik." Yuna lalu membaringkan badan lagi. "Bisakah kita tinggal sedikit lebih lama? Kita jarang melihat pemandangan seperti ini."
"Tapi..." Kohei bingung.
"Ayolah.. Berbaringlah di sini. Melihat ke atas benar-benar menyenangkan,"bujuk Yuna.
"Baiklah. Hanya sebentar.." Kohei lalu berbaring di samping Yuna dan memandang langit.
"Meskipun kita bergerak dengan kecepatan cahaya, kita membutuhkan waktu ribuan tahun untuk mencapai bintang-bintang itu. Dari sudut pandang bintang, siklus hidup kita sangat singkat, tapi kita justru meributkannya. Menemukan bintang baru dan memberinya nama kelihatannya mimpi yang besar, tapi pada kenyataannya itu hanyalah mimpi kecil. Tapi tetap saja aku merasa dengan menemukan bintang aku akan men-sah-kan keberadaanku,"cerita Kohei.
Yuna bangun dan duduk lalu memandang Kohei. "Mimpimu tidak kecil."
Kohei tertegun lalu tersenyum. Kohei merasa salah tingkah, lalu berangkat berdiri. "Sepertinya sudah saatnya kita pulang."
Kohei lalu mengambil barang-barangnya dan Yuna, kemudian berjongkok dan menawarkan punggungnya, "Naiklah."
Yuna diam saja. "Kenapa? Kau tidak bisa berjalan kan?"tanya Kohei.
Yuna lalu menaiki punggung Kohei.
Sambil berjalan, Kohei mengucapkan terima kasih atas makan siang dari Yuna.
"Di bekal itu ada bintang dan kaktus. Betulkah kau kemari hanya untuk makan bekal itu sendirian?"tanya Kohei.
"Apa?" Yuna kaget, namun langsung menutupinya. "Tentu saja! Tapi bekalku berantakan."
"Tidak, rasanya enak,"kata Kohei.
"Betulkah?" Yuna merasa senang.
"Sebenarnya sedikit hambar (bland).." (kurang tahu apa kata-kata Kohei, yang pasti Yuna ga ngerti..)
"Apa? Apa arti kata-kata itu?"
"Maksudku enak.."
Kohei sebenarnya merasa bekal itu sedikit hambar, tapi dia menutupinya. (ntar Yuna marah kalo jujur ^^)
Tiba-tiba ada yang memanggil Kohei, "Senpai!"
Ternyata itu adalah Kuma.
"Kuma? (NB: Kuma = beruang)"tanya Yuna.
Kuma berlari-lari dengan membawa senter.
"Apa yang terjadi? Katamu kau membutuhkan aku secepatnya?"senter Kuma menyoroti Yuna. "Apakah dia...?"
"Senang bertemu denganmu. Namaku Han Yuna,"kata Yuna memperkenalkan diri.
"Ah, sama-sama.. Apa?" (ternyata Kuma baru sadar itu Han Yuna sang artis..)
"Aku tidak tahu kalau kau adalah pengawal Han Yuna. Membuatku terkejut,"kata Kuma sambil berjalan menuju mobil. "Mungkin bukan tawaran yang bagus, tapi silakan tidur di tempatku malam ini."
"Tentu saja. Terima kasih,"kata Yuna.
Kohei kemudian menurunkan Yuna dan membukakan pintu belakang mobil Kuma.
"Ini salahmu. Kau yang memberitahuku tentang tempat ini,"kata Yuna pada Kohei.
"Kau yang memaksa kemari. Aku sudah memberitahumu untuk pulang," Kohei tidak terima disalahkan.
"Aku sudah bermaksud pulang kalau saja keretanya ada,"bantah Yuna.
"Dan kau tidak bisa menunggu sebentar saja?! Kau benar-benar tidak sabaran."
"Berani sekali kau! Dasar kaktus!" (yah, debat lagi..)
Kohei kesal dan langsung menutup pintu belakang.
Kuma mendengarkan perdebatan itu dengan diam. (cemburu nih kayaknya...)
Saat Kohei sudah masuk mobil, dengan ceria Kuma berkata, "Baiklah. Kita berangkat."
Momo sampai di kontrakan Kohei tapi kondisi rumah gelap. "Mereka tidak di rumah?"
Momo membuka pintu yang tidak terkunci dan langsung masuk ke dalam. "Sumire? Ren?"panggilnya dengan panik.
Tiba-tiba muncul beruang putih. "Aaaaa!!!"teriak Momo lalu terjatuh.
"Yes! Aku mengagetkanmu! Aku mengagetkanmu! Fiuh, panas sekali di sini." Saat dibuka ternyata itu adalah ibu Momo mengenakan kostum beruang kutub.
"Ibu! Apa yang kau lakukan mengenakan kostum itu?! Dan apa tujuanmu?"bentak Momo dengan marah.
Yukiko menyerahkan bagian kepala kostum ke Momo. "Aku ingin memberi kejutan kalian, tapi kalian semua pergi,"kata Yukiko kemudian mengangkat sebuah kartu.
"'Kami pergi dengan Paman Takanabe untuk membawa Kohei kembali'?"baca Momo.
"Aku menunggu memberi kejutan kepada kalian selama berjam-jam. Ini hadiah dari Rusia,"kata Yukiko dengan tanpa rasa bersalah.
"Apa kau bodoh?"tanya Momo dengan sinis.
"Siapa Paman Takanabe ini?"tanya Yukiko.
Mobil Takanabe tiba di rumah Kuma.
"Akhirnya sampai..."kata Sumire. "Kohei-san!" Sumire dan Ren langsung memeluk Kohei.
"Ini benar-benar buruk.."kata Takanabe dengan muka lelah.
Kamera menyorot muka Junkichi yang merengut. (hahaha... lucu... ngamuk sama Takanabe ya?)
"Enak! Makanan ini benar-benar bland!"kata Yuna dengan keras. Semua langsung terdiam.
Kohei langsung menutupi dengan mengatakan, "Maksudnya makanan ini sangat enak!"
"Ah, begitu. Untunglah..."kata Kuma.
Ibu Kuma sangat senang karena bisa bertemu dengan Takanabe dan Yuna. "Benar-benar kejaiban!"katanya.
"Nyonya, mari bersulang untuk keajaiban ini!"kata Takanabe.
"Aku benar-benar terkejut karena bertemu denganmu di sini,"kata Yuna pada Takanabe.
"Aku bermaksud mengantarkan anak-anak untuk bertemu Kohei. Tidak kusangka justru bertemu denganmu," Takanabe mulai merayu Yuna. "Mungkinkah kita ditakdirkan satu sama lain?"
Yang lain tertawa karena menganggap Takanabe bercanda.
Kohei terperangah sedangkan Junkichi menghembuskan nafas kesal.
"Ada apa Junkichi? Ada yang salah?"tanya Takanabe polos.
"Tidak ada,"kata Yunkichi singkat.
"Paman Takanabe, kau benar-benar tidak berperasaan,"kata Sumire. "Semua orang ingin melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan saat hari libur."
"Misalnya?"tanya Ren.
"Sebuah kencan!" Sumire bersemangat.
Junkichi kaget dan terbatuk-batuk.
"Ah, kencan.. aku mengerti.. Kau secara rahasia mendapatkan "Love Love Fire',"kata Takanabe.
"Kau masih muda dan sudah punya pacar, aku sangat iri. Anakku ini hampir 30 dan yang dia pikirkan hanyalah bintang,"kata ibu Kuma.
Semua kecuali Kuma langsung memandang Kohei. "Apa?"tanya Kohei.
Dan lalu mereka memandang Kuma. "Ada yang salah?"tanya Kuma.
"Aku hanya berpikir kalian berdua mirip,"kata Takanabe.
"Apa? Kau belum menikah kan, Mr. Namiki?"tanya ibu Kuma.
"Saat ini belum.."jawab Kohei.
"Bagaimana menurutmu? Apa pendapatmu tentang putriku?"tanya ibu Kuma.
"Hentikan, Bu.." Kuma salah tingkah.
Yuna agak cemburu.
"Bagaimana dengan pria itu?"tanya ibu Kuma ke Kuma.
"Pria itu?" Yuna penasaran.
"5-6 tahun yang lalu saat bekerja di Observatorium Kiyosato ada yang disukai oleh Kuma.."jawab ibu Kuma, namun langsung dihentikan oleh Kuma.
"Kohei, bukankah kau berada di sana saat itu?"tanya Sumire.
"Mungkinkah pria itu Kohei?"tanya Ren dengan semangat.
"Tidak mungkin,"kata Kohei sambil memukul kepala Ren. "Iya kan?"
"Apa? Tentu saja tidak.. bukan.."jawab Kuma tergagap. (kayaknya iya deh...)
Yang lain lalu melanjutkan makan. Yuna memandang dari Kuma ke Kohei dengan pandangan aneh.
Di kontrakan Kohei.
"Dasar Kohei bodoh. Kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku? Kenapa dia pergi tanpa mengatakan apapun?"tangis Mitsuya saat Momo dan Yukiko makan di kedainya.
"Aku rasa dia tidak berpikir sampai situ,"jawab Momo.
"Kami hidup bersama selama 5 tahun. 5 tahun! Apa bintang begitu penting? Lebih penting dari aku? (ya iyalah...) Apakah dia pria seperti itu?"tangis Mitsuya semakin keras.
"Semua pria memang seperti itu! Dasar Alexander bodoh!" Yukiko menangis juga.
"Dasar Kohei bodoh!"
"Kakak,"kata Mitsuya.
"Mitsy,"kata Yukiko.
Mitsuya dan Yukiko kemudian berpelukan sambil menangis.
"Mereka berdua ditolak,"kata Momo sambil melanjutkan makan.
"Hutan itu dikenal sebagai 'Hutan Tempat Nyawa Menghilang'. Ketika kau pergi ke sana secara berkelompok, teman seperjalananmu.. satu.. demi satu... seakan ditelan oleh kegelapan, mereka menghilang. Satu orang yang tersisa tidak bisa membedakan antara dunia nyata dan dunia roh dan terus mengembara.. Sampai dia menubruk seorang wanita dengan rambut panjang..."
"Aaaaaa!!!"teriak Yuna, Sumire, dan Ren.
"Kalian mudah sekali ditakuti,"kata Takanabae sambil menyalakan lampu. "Ya kan, Yuna?"
"Ya, Sumire dan Ren benar-benar penakut.."
"Tapi Paman Takanabe benar-benar menakutkan,"kata Sumire dan Ren menyerang Takanabe.
"Seandainya sekarang musim panas, kita akan melakukan uji keberanian,"kata Takanabe.
"Uji keberanian?"
"Itu tes untuk menguji keberanian seseorang dengan menuju tempat paling gelap dan melihat siapa yang paling berani,"terang Takanabe.
Yuna memikirkan sesuatu, "Ayo, kita lakukan,"katanya.
"Apa?"
"Kita lihat siapa yang paling berani,"kata Yuna.
"Tapi, Yuna, kakimu.."
"Tidak apa-apa, aku sudah bisa berjalan. Lihat.. Ayo... Ayo.."
Takanabe mendatangi kamar Junkichi dan membisikkan sesuatu.
"Kau mengerti?"tanya Takanabe.
"Ya,"jawab Junkichi.
"Bagus," Takanabe lalu menampar Junkichi. (tanda senang kok sampe nampar?)
Junkichi meringis.
Takanabe lalu keluar kamar, "Ini akan menyenangkan."
"Aku tidak ingin berperan sebagai monster, menyebalkan!" Junkichi merana. "Hijin, kau pasti merasa sendirian sekarang," Junkichi mengirim pesan ke Hijin.
Hijin justru tertidur pulas. (hahaha.. merana sendirian si Junkichi..)
"Kau berbohong,"kata Kuma.
"Apa?" Kohei tidak mengerti.
"Kotak bekal ini alasan kau menolak undangan makan siangku kan?"
"Ya,"jawab Kohei sungkan.
"Jadi, kau memiliki seseorang yang membuatkan bekal untukmu."
"Tidak, ini hanya tanda terima kasih,"bantah Kohei.
"Mungkinkah... Yuna-san?"tanya Kuma.
"Bukan, bukan!"elak Kohei.
"Ah, betul juga. Tidak mungkin bintang sebesar Yuna membuatkan bekal untuk pengawalnya.." Kuma melihat Kohei yang terdiam. "Dia mungkin akan membuatkan.." koreksi Kuma.
"Akan aneh. Bukan maksudku, akan aneh, tapi dia adalah orang yang melakukan sesuatu yang gila dan spontan. Kau tidak bisa membayangkan..." karena terlalu bersemangat, tangan Kohei tidak sengaja menyemprotkan busa ke wajah Kuma. Splash!
"Maaf," Kohei bingung lalu justru mengelapkan spons bersabun di tangannya ke wajah Kuma.
Kuma lalu membalas mengusapkan spons ke wajah Kohei.
Saat bercanda, Yuna datang untuk mengajak uji keberanian dan melihat adegan itu.
"Ah, ada permainan uji keberanian. Aku akan ikut,"kata Yuna lalu keluar.
Sumire, Ren, Takanabe, dan Yuna berjalan di kegelapan. Takanabe merasa bahwa Yuna kurang bersemangat.
"Ada apa Yuna? Apakah pergelanganmu sakit?"tanya Takanabe.
"Ah, tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan.."
Mereka melanjutkan perjalanan.
Saat di tengah perjalanan, Yuna menyuruh Sumire dan Ren kembali untuk memberi kesan Sumire dan Ren ditelan kegelapan.
Takanabe lalu menoleh, "Di mana anak-anak?"
Yuna pura-pura tidak tahu. "Mungkinkah...?"
"Tidak. Tidak. Tidak. Itu hanya cerita karanganku? Mungkinkah mereka kabur? Mereka kembali ke rumah?" Takanabe lalu menoleh ke Yuna. "Ah, apa yang harus kita lakukan? Akan membosankan kalau hanya kita berdua."
"Ayo kita lanjutkan.. Ayo kita uji keberanian kita,"ajak Yuna.
"Baiklah! Ayo kita lanjutkan!"jawab Takanabe semangat.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan. "Baiklah, Yuna. Kalau kau ketakutan, kau bisa bersandar ke aku.." kata Takanabe.
Takanabe menoleh ke belakang, namun ternyata Yuna menghilang.
"Hah? Yuna? Yuna?"
Tiba-tiba muncul sesosok wanita berambut panjang yang ternyata adalah Yuna.
"Aaaa!" Takanabe berlari dan bertemu dengan Junkichi yang berpura-pura jadi hantu.
"Aaaaa!!!" Takanabe kaget dan terjatuh.
"Takanabe-san, bagaimana mungkin justru kau yang ketakutan?"tanya Junkichi kesal.
"Aku yang menang!"kata Yuna semangat. "Karena itu, aku bisa sendirian. Aku akan baik-baik saja,"kata Yuna pelan seakan pada dirinya sendiri.
Kohei menyelimuti Sumire dan Ren.
"Aku cinta Yuna," Ren berbicara dalam tidur.
Kohei teringat perkataan Yuna bahwa perjanjian mereka selama 99 hari dan akan berakhir saat malam Natal. Kohei juga teringat saat Yuna berkata bahwa mimpinya tidak kecil.
Kohei tidak mau mengingat lagi dan berusaha tidur tapi tidak bisa.
Di luar, Yuna duduk sambil memandang bintang.
"Jadi ini adalah hari terakhir?" Yuna bicara sendiri.
"Tidak bisa tidur?", Tiba-tiba Kuma datang.
"Ketika aku sampai di Tokyo, aku tidak akan bisa melihat bintang,"kata Yuna.
"Menakjubkan kan? Bintang-bintang itu seakan-akan jatuh ke arah kita. Kita hidup di dunia yang luas tapi kita mengkhawatirkan hal-hal kecil. Aku memikirkan tentang hal itu tiap kali aku memandang bintang,"kata Kuma.
Yuna tersenyum. "Dia juga mengatakan hal yang sama."
"Hmmm?"tanya Kuma.
"Kau pasti menikmati pekerjaanmu. Aku tidak mengerti bintang,"kata Yuna.
"Yuna-san... Mungkinkah kau menyukai Kohei?"
"Hah? Tidak mungkin,"jawab Yuna kaget.
"Senpai orangnya berkulit tebal. Jadi bila kau tidak mengatakannya, dia tidak akan mengerti. Dengan seseorang yang berpengalaman sepertiku, aku mudah mengerti,"kata Kuma dengan penuh teka-teki.
"Mempunyai pengalaman?"
"Bagaimanapun, jangan menyesal. Aku akan mendukungmu,"kata Kuma lalu berdiri dan berjalan masuk.
"Bagaimana kau memberi semangat seseorang dalam bahasa Jepang?"tanya Yuna.
"Memberi semangat?"
Yuna masuk dengan diam-diam ke kamar Kohei dan anak-anak.
Dia duduk di samping Kohei yang tertidur, "Aku orang yang paling berani. Aku akan baik-baik saja sendiri. Aku akan memberi semangat dalam mimpimu. Semoga kau bisa menemukan bintangmu sendiri. Hooray Hooray Kohei. Hooray Hooray Kohei," Yuna menangis.
Yuna sadar dia menyukai Kohei. Dia memandangi wajah Kohei yang tertidur.
"Selamat tinggal Kohei," lalu Yuna keluar kamar.
Setelah Yuna keluar, Kohei membuka matanya namun dia hanya diam.
Keesokan paginya, Kohei dan yang lain berpamitan pada Kuma dan ibunya.
Kohei akan masuk ke mobil Takanabe. "Tunggu, kau bisa pulang naik kereta setelah hasil wawancaramu keluar,"kata Takanabe.
"Itu, wawancaraku tidak berjalan mulus,"kata Kohei.
Semua terkejut.
"Senpai, apakah itu berarti.." Kuma bertanya.
"Maaf, padahal kau sudah berusaha keras demi aku. Masalah mulai muncul saat dia menanyakan mengapa aku keluar dari pekerjaanku sebelumnya. Dia baru saja menelepon untuk mengabarkan berita buruk itu."
Kuma dan Takanabe merasa aneh. Yuna tersenyum senang.
Sumire dan Ren sangat senang.
"Sepertinya, aku akan menjadi pengawalmu lagi Yuna-san,"kata Kohei sambil membungkukkan badan.
Yuna pura-pura tidak senang. "Ah, padahal aku pikir kemarin hari terakhir kita bertemu. Jadi kau menjadi pengawalku lagi? Aku rasa hal ini tidak bia dihindari. Kaktus, kalau kau tidak memiliki tempat untuk dituju, maka aku akan menerimamu." Yuna lalu tersenyum lagi,namun tidak dengan Takanabe.
"Ya, terima kasih,"jawab Kohei.
Pada akhirnya, Sumire, Ren, dan Junkichi naik kereta pulang ke Tokyo.
"Kenapa kita harus naik kereta?"tanya Sumire.
"Dua orang itu harus syuting, jadi mereka yang mendapatkan prioritas,"jawab Junkichi.
"Lalu kenapa Kohei harus ikut mereka?"tanya Ren.
"Dia juga. Dia adalah pengawal Yuna,"jawab Sumire.
"Kalian akan naik kereta menuju Tokyo?"tanya petugas kereta. "Kereta tidak akan datang sampai dua jam lagi."
"Apa? 2 jam?"
(hahaha.. kasian amat Junkichi.. menderita banget...)
Di mobil, Yuna tertidur.
"Kohei, kau bohong kan? Kau mendapatkan pekerjaan itu tapi kau menolaknya kan? Kau mudah ditebak. Sejak kecil, tiap kali kau berbohong, kau akan menggaruk hidungmu. Itu sudah menjadi kebiasaanmu. Tapi apa kau akan baik-baik saja? Bukankah bekerja di observatorium menjadi impianmu sejak kecil? Apakah kau akan menyerah semudah itu?"tanya Takanabe.
"Aku tidak menyerah. Aku akan memenuhi mimpiku. Aku yakin,"jawab Kohei.
"Lalu kenapa? Kenapa kau tidak menerima pekerjaan itu?"
"Aku harus memenuhi janji 99 hariku."
"Lalu kenapa? Ada banyak pengganti.."
"Tidak ada yang bisa menggantikanku,"potong Kohei.
"Hah?" Takanabe melirik ke Yuna. "Hah?! Kau?!"
"Ah! Kuma! Kuma!"
"Mana? Mana?" Takanabe panik. "Kau bohong kan?"
"Ganmo.. ganmo.."goda Kohei.
"Jangan menyebutku 'ganmo'!"
Bagaimanakah kelanjutan hubungan mereka? Masih ada 59 hari lagi...
Image by Ari @PelangiDrama.Net
Shared by PelangiDrama.Net
Don't Repost to Other Site!!!!
Author_blog 28 Feb, 2012
-
Source: http://www.pelangidrama.net/2012/02/sinopsis-j-drama-boku-to-star-no-99_28.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com Share on Facebook
























































