[Sinopsis K-Drama] History of The Salaryman Episode 10
Anak buah Peng Wol selesai menghitung, Peng Wol memberi aba-aba untuk menyerang. Yoo Bang tak gentar. Keduanyapun memulai peperangan antara pasukan Peng Wol dan karyawan Incheon.
Pertempuran semakin sengit, karyawan Incheon kalah kuat. Bun Kwae dan Yoo Bang berusaha menyelamatkan kepala pabrik, namun Yoo Bang menerima pukulan tepat dikepala. Dia ambruk, berkali-kali mendapat pukulan.
"Aku suka wanita tahu!"sengit Hang Woo. Kau mengetesnya? Yeo Chi langsung berkata tajam, "kau bukan tipeku ok?!". Hang Woo sekilas melihat Woo Hee memperhatikan dirinya, saat dirinya kepergok Hang Woo buru-buru pergi.
"Jorok, kenapa? Ini champagne yang harganya lebih dari $1000 sebotol! Kapan lagi aku bias menikmatinya, OK ?"
"Kau sungguh cewe matre. Kau suka barang-barang mahal, kan?"
"Daripada barang murahan!"balas Woo Hee sengit dan mengusirnya dirasa mengganggu pekerjaanya. Tak disangka Hang Woo mengkelin kemejanya. Membantu Woo Hee mencuci piring.
Hang Woo menyindir Woo Hee yang tak mengucapkan terimakasih. "Yang harusnya bilang terimakasih. Bukan aku, tapi anda, Direktur. Aku adalah ilmuwan riset. Kau sudah kubantu bersih-bersih diluar jam kerja".
"Terimakasih"pungkas Hang Woo tulus.
Telepon Woo Hee berdering. Bun Kwae mengabarkan bahwa Yoo Bang di rumah sakit, terluka. Woo Hee yang kaget langsung pergi dimana Yoo Bang berada.
"Preman tolol!"umpat Hang Woo emosi.
Beom Jeung berusaha menenangkan Hang Woo untuk tak merasa cemas, karena bagaimanapun yang memenangkan projek bakalan mereka.
"Yoo Bang telah disingkirkan?"
"Dia terluka dan dibawa ke RS. Dia bilang akan mempertahankan pabrik, lalu lari menerjang para preman itu"
"Aku tak tahu dia bodoh atau nekat. Kalau begitu kita bisa kirimkan surat PHK-nya tanpa dia harus datang ke kantor", senyum kemenangan menghias Hang Woo.
Dengan langkah tergesa-gesa Yeo Chi memasuki rumah sakit. Dia bertemu dengan Bun Kwae yang memasang muka sedih. Yeo Chi makin panik. Saat hendak membuka pintu terdengar suara Woo Hee wajah Yeo Chi berubah kecut,
"Sudah kubilang, kalau pabrik ditutup sekarang, itu adalah bencana. Kau mau melakukan apa di kantor?"tanya Woo Hee yang cemas karena Yoo Bang memaksa ke Chun Ha.
"Kita butuh sedikit lagi waktu dan bisa menyelamatkan pabrik. Aku harus cepat memberitahu Presiden", Yoo Bang tertatih berjalan kelaur.
Yeo Chi membuka lebar pintu, "Sepertinya kau sudah sembuh. Kau begini karena kau takut dipecat kalau pabrik ditutup? Aku kan bisa menyelamatkanmu".
"Para pekerja pabrik...Bisakah kau selamatkan mereka semua? Termasuk keluarganya, semuanya 500 jiwa. Bisakah kau menyelamatkan mereka?"
Balasan Yoo Bang menohok Yeo Chi, "kenapa aku harus menyelamatkan mereka?". Yoo Bang tetap melangkah pergi.
"Hei Yoo Bang! Kau pikir dengan penampilan begitu, kau bisa menemui Presiden? ". Yeo Chi yang sebenarnya punya niat tulus membantu Yoo Bang, mungkin karena rasa suka?
"Sebenarnya tidak seserius itu. Hanya saling memberi motivasi"sanggah Jang Ryang yang merasa diujung tanduk.
"Bicaralah. Kau mau menyelamatkan harga dirimu, demi jabatanmu? Atau merelakan jabatanmu demi harga dirimu?"balas Hang Woo yang merasa menang mampu mendepak Jang Ryang.
"Permainan belum selesai!"teriak Yoo Bang datang dengan tertatih-tatih. "Aku yang mengundangnya. Kenapa? Kenapa, ada yang keberatan?"sengit Yeo Chi saat Beom Jeung melarang Yoo Bang masuk.
Yoo Bang memohon sambil berlutut kepada Presdir Jin, mengagetkan semuanya atas tindakan Yoo Bang. "Mohon tunda penutupan pabrik. Sekarang ini, orang-orang pabrik sedang mengembangkan produk baru. Ketika selesai, pabrik Incheon bisa mendapatkan keuntungan lagi".
"Jangan dengarkan, Presiden. Bajingan itu... Dia harus membuat surat pengunduran diri bersama Direktur Jang!"balas Beom Jeung penuh semangat.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya orang baru di sini. Tapi pekerja pabik telah bekerja sepanjang umur pabrik. Presiden, beri kami kesempatan"pinta Yoo Bang.
"Kau pikir perusahaan ini adalah kapal untuk menyelamatkan pengungsi? Perusahaan harus memotong anggota tubuhnya agar bisa berkembang lagi" ujar Hang Woo tajam.
Presdir Jin mengusir Yoo Bang keluar, Yoo Bang berusaha berontak memohon kesempatan sekali lagi karena produk baru hampir selesai. "Dasar pengemis...membuatku keringatan saja". Presdir kesal sekali. Yeo Chi tak percaya pada sikap kakeknya.
Belum berhenti sampai di situ, Presdir Jin juga menyuruh Jang Ryang untuk membuat surat pengunduran diri. Taruhan tetap taruhan. Direktur Jang Ryang pucat pasi.
"Tutup segera pabrik itu dan segera jadikan gudang". Perintah Presdir Jin kepada Hang Woo. Beom Jeung tak menyembunyikan senyum senang setelah Presdir Jin pergi, Jang Ryang harus menerimanya.
"Sejak petama kerja di Chun Ha Group. Aku selalu kerja tanpa istirahat. Syukur aku bisa sampai jabatan ini, lebih tinggi dari rekan seangkatanku. Tapi sebagai balasannya, aku kehilangan yang lebih berharga. Aku ke sini untuk membahagiakan anak dan istriku. Tapi sepertinya bukan ini yang diinginkan istriku. Setelah bekerja keras, Aku harus meninggalkan kantor ini..."ungkap Jang Ryang dengan suara serak.
"Maafkan aku, Direktur."
"Ini salahku tidak bekerja dengan benar"
Bun Kwae datang dengan tergopoh-gopoh. Tak menyangka Direktur Jang harus mengundurkan diri. Lantas bagaimana dengan mereka? Bun Kwae merasa cemas jika ikut terdepak dari Chun Ha. "Hang Woo akan mementukan nasib kalian".
Lagi, Yoo Bang menyanyikam lagu kebangsaan kampungnya. Semangat Gunung Daegal, memberi semangat. Bun Kwae tak serta merta mengikuti.
"Terserah apa katamu, carilah solusi, brengsek !"seru Bun Kwae kehilangan kesabaran.
"Solusi? Hanya ada satu cara"pungkas Yoo Bang memicingkan mata, jelas memiliki ide.
"Kuncinya adalah Kepala pabrik. Kalau dia bisa kita keluarkan, masalah akan segera bisa diselesaikan"ucap Yoo Bang memohon.
Dia bahkan berlutut dihadapan Hang Woo, Bun Kwae mengikuti jejak Yoo Bang. Tentunya risih bagi Hang Woo dilihat karyawan lain. "Akan kulakukan apa yang kau mau. Merayap ditanah pun aku besedia. Tolong Direktur. Tolonglah kami. Apa untungnya bagimu memecat orang seperti kami ? Takkan kulupakan kebaikan hatimu. Sekali ini saja".
Baik Bun Kwae dan Yoo Bang saling memeluk erat kaki Hang Woo. Pada akhirnya Hang Woo memberikan kesempatan sekali lagi.
Walaupun Hang Woo terpaksa tak jadi memecat mereka, dia akan melakukan dikesempatan mendatang tentunya.
Bun Kwae kegirangan karena dirinya merasa selamat. Hanya perlu memohon walau itu cukup memalukan. Sekarang hanya perlu menyakinkan kepala pabrik. Keduanya berjalan bersama, namun Yoo Bang diam seribu bahasa, sorot matanya mendadak tajam.
"Kau tahu kalau mereka sedang menciptakan produk baru?" tanya Hang Woo penuh selidik.
"Menciptakan produk baru? Aku tidak tahu. Tapi kau akan kuhubungi kalau aku sudah dapat informasinya"sambut Han Shin jelas berbohong.
Han Shin sengaja berbohong karena kesal Hang Woo yang tak kunjung menepati janjinya untuk menjadikan dia pegawai tetap di Chun Ha. Di sampingnya terdapat blue print produk baru, tanpa mengetahui betapa pentingnya blue print tersebut bagi karyawan pabrik Incheon.
Di ruang lab kecil milik kepala pabrik. "Produk baru itu...Berapa hari bisa selesai?" Yoo Bang segera mendesak kepala pabrik. Tak akan mudah, prototipenya rusak dan blue pritnya hilang.
"Dan masalah terbesarnya adalah aku tak tahu bagaimana memperbaiki 'bug'-nya"balas kepala pabrik putus asa.
"Aku menggantungkan hidupku padamu. Kau juga begitu, kan?"sengit Yoo Bang mencoba membangkitkan semangat kepala pabrik. Dia berjanji akan mengulur waktu sampai produk baru selesai dirakit.
Lain halnya dengan niat Bun Kwae yang memaksa kepala pabrik menyerah dan meninggalkan pabrik. "Jangan dengarkan dia!"sanggah Bun Kwae.
"Kalau aku mau pergi. Aku sudah pergi dari dulu. Aku tak bisa meninggalkan teman-temanku hanya untuk keselamatan pribadi"
Amarah Bun Kwae memuncak, dia berniat pergi. "Penghianat. Aku pergi saja!", Yoo Bang menahannya. "Siapa yang penghianat? Kau yang penghianat. Kalau kau pergi, Setelah Direktur Jang Ryang juga pergi, kau pikir mereka akan memikirkanmu? Kalau kau punya otak, dipakai dong! Dipakai!"
"Ya ampun! Hidupku hancur berantakan!"erang Bun Kwae.
Bum Jeung yang di dekatnya merasa mereka membuang waktu saja. "Kenapa tak langsung menyingkirkan mereka?", Hang Woo berfikir keributan besar tidak akan menghasilkan apa-apa. "Seperti yang dia bilang, kalau wartawan datang dan laporannya negatif, ini akan merusak project kita".
"Alasan kau kalah sewaktu kompetisi, adalah karena kemarahan itu telah hilang. Kalau kau pendam amarahmu, maka korbannya adalah dirimu sendiri. Dan itu...Hadiah terakhirku untukmu."
Tak terasa air mata mengalir di pipi Jang Ryang. Dia berbalik dan memberikan penghormatan terakhir untuk Presdir Jin.
Beom Jeung dan Hang Woo mendatangi pabrik Incheon. Masa negosiasi 5 hari telah selesai. Beom Jeung mulai cemas. Peng Wool berjanji akan menambah pasukannya untuk membubarkan masa.
"Hentikan pasokan listrik dan air. Mulai saat ini makanan dan minuman dilarang masuk"perintah Hang Woo.
Penghentian pasukan air dan listik sudah diduga Yoo Bang, kepala pabrik menyuruh menyalakan generator di gudang rahasia. Kini mereka bertumpu pada banyaknya minyak di pabrik. Bun Kwae mulai cemas kembali, gimana kalau pengembangan produk baru tak jadi-jadi?
"Tak perlu kuatir soal minyak. Akan kami belikan!"saut Yoo Bang meyakinkan.
Karena anak buang Peng Wol tak tahu langkah licik Yoo Bang, dan mengira Yoo Bang di pihak sama maka mereka membiarkan keduanya keluar masuk tanpa kendala.
Hal ini dijadikan kesempatan Yoo Bang untuk membeli kebutuhan pokok dan minyak.
"Tentu saja. Aku mempertaruhkan hidupku karena itu juga"
Namun Woo Hee sedikit pesimis mengingat waktu pennyelesaian yang memakan waktu lama. "Sudah hampir selesai. Tapi ada penjahat yang mencurinya"
Woo Hee pun simpati dan menawarkan bantuan kakak kelasnya yang dibidangnya untuk membantunya. "Kalau aku yang minta tolong, aku yakin dia akan bersedia.Waktu di kampus dulu dia naksir padaku. Setelah menikahpun sampai sekarang, dia masih.....", Woo Hee langsung menghentikan omongannya.
"Wah kau pasti popular sewaktu kuliah dulu"puji Yoo Bang. Woo Hee tersipu malu sekaligus masam. Lantas kenapa dia selalu ditinggalkan?. "Apakah menurutmu wajahku membosankan?", Woo Hee mengajukan wajah ke Yoo Bang sedekat mungkin. "Apakah menurutmu wajahku membosankan ?
"Ya ampun, Woo Hee. Aku masih mengidap efek samping obat baru itu. Kalau kau menggodaku seperti ini...Aku takkan sanggup...Menahan..." Yoo Bang menjadi nervous.
Memajukan bibirnya siap mencium Woo Hee sambil menutup matanya. Selanjutnya Woo Hee melepaskan sepatunya. Hah?
"Aku mau mengecek, kalau kau tetawa setelah kupukul, berarti kau benar"
"Tidak, aku sudah tidak apa-apa. Aigo, pikiranku sudah lurus sekarang"ujar Yoo Bang nyengir.
"Hey Yoo Bang!"teriak Yeo Chi mendekati mereka. Yoo Bang langsung tawar.
Yeo Chi dan Yoo Bang mulai bertengkar lagi, Yoo Bang kesal karena Yeo Chi selalu menelepon dia setiap malam hanya untuk mengantarkan Yeo Chi pulang ke rumah. Betapa malunya Yeo Chi. Tak disangka Yoo Bang, pemilik apartemen Yoo Bang menelepon untuk mengeluarkan barang-baranagnya karena telat membayar.
Yoo Bang mendesah, "Pemilik kamar kos yang kusewa. Sudah beberapa hari aku tak membayar uang sewa kamar...semua barangku dikeluarkan dari kamar".
"Bawa saja ke tempatku dulu"usul Woo Hee.
Yoo Bang tersenyum lega pada Woo Hee, sedang Yeo Chi mati-matian menahan rasa kesal bercampur cemburu.
Hang Woo menanyakan keadaan pabrik, Yoo Bang menjelaskan mereka semakin lemah karena pasokan air dan listrik sudah diputus.
Tiba-tiba, Hang Woo menyadari seharusnya kan Yoo Bang di pabrik?. "Setelah makan malam, tentu saja aku akan kembali ke pabrik". Yoo Bang tentu saja bermaksud makan dengan Woo Hee saja.
"Dengan siapa kau akan makan malam?" tanya Hang Woo penuh selidik.
Woo Hee kembali tegang, Yeo Chi menyerobot mengusulkan makan bersama saja. Aku sedang ngiler membayangkan daging barbeque.
Sepertinya Yoo Bang kembali santai, sedang Yeo Chi makin jeles begitu juga Hang Woo. Ketiganya memutuskan makan bbq.
Padahal Woo Hee dan Yeo Chi sudah membuka mulut mereka mengira akan diberikan kepada mereka. Woo Hee memuji Yoo Bang yang pandai memanggang daging, membuat darah Hang Woo kembali mendidih, dia seenaknya mengambil daging dan memanggang. Dihardiknya oleh Yoo Bang. Hang Woo kesal. "Ah, memangnya penting bisa memanggang?".
Kembali ke acara memanggang daging. "Kau keren sekali pandai memanggang daging. Aku suka dengan pria yang pandai memanggang daging". Woo Hee kembali memuji. Yoo Bang tertawa sumringah, Hang Woo rasanya mungkin ingin memanggang Yoo Bang hidup-hidup.
Keesokan harinya, Yoo Bang membawa senior Woo He ke pabrik dengan dalih dia keponakan kepala pabrik. Han Shin yang memata-matai Yoo Bang menginformasikan kepada Hang Woo yang datang ke pabrik. Yoo Bang berpihak kepada mereka? Hang Woo akhirnya yakin.
Dengan penuh kemarahan karena ditipu Hang Woo menelepon Yoo Bang, "Bagaimana perkembangannya?"
"Ya, dia memintaku 3 hari lagi"balas Yoo Bang.
"Hey, kau pikir aku ini apa ?! Setelah ini, kami akan mendobrak masuk. Kalau kau tak membubarkan mereka sekarang, kau akan ditangkap sebagai pemimpin demo!"ancam Hang Woo.
Yoo Bang langsung menutup hubungan dengan Hang Woo. Hang Woo sudah mencium gelagat kita. Di luar Hang Woo meminta Peng Wol memanggil polisi untuk membubarkan paksa karyawan.
Namun Hang Woo merasa ada yang janggal. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan Yoo Bang? Apa mungkin...mereka sedang menyelesaikan produk baru itu? Hang Woo semakin yakin. Sedang Beom Jeung berpendapat lain, walau Yoo Bang berusaha menyelesaikan produk baru tidaklah mudah.
"Aku pernah berada di departemen riset. Aku yakin itu tidaklah mudah.Walaupun mungkin, dengan melakukan di pabrik seperti itu...Bagaimana bisa ? Tak usah kuatir"jelas Beom Jeung menenangkan Hang Woo.
Hang Woo menyuruh Han Shin untuk mencari tahu. "Si tolol Yoo Bang... berani dia menipuku ?"
Di Seoul, direktur Jin, sekretaris Mo dan Yeo Chi menyaksikan siaran tv mengenai ricuh demo di anak perusahaan Chun Ha di Inceon.
-Pabrik Farmasi Chun Ha di Incheon jatuh ke dalam labirin yang dalam. Serikat buruh pabrik telah memberikan pernyataan mereka sore tadi. Menuntut penghentian penutupan pabrik dan penempatan kembali pekerja lepas- Reporter menjelaskan.
Lalu muncul kepala pabrik, "Kenapa pabrik kami harus ditutup ? Kami sudah bekerja setengah mati. Kenapa kami harus dibuang ke jalan? Dan barang yang kami produksi, mengapa dikirim ke Vietnam tanpa penjelasan terlebih dahulu. Presiden Jin Shi Hwang harus datang sendiri dan menjelaskasn kepada kami!"
Presdir Jin tak senang mendengarnya dan menyuruh untuk mematikan siaran tersebut. Berhenti! Cegah Yeo Chi saat melihat aksi mogok makan Yoo Bang disiarkan.
"Si kutu kupret itu... kenapa dia ada di sana?"tanya Presdir Jin tak menyangka.
Di siaran Yoo Bang mulai diwawancara, Yoo Bang memperlihatkan otobiografi Presdir Jin, "Lihatlah, kau bilang korporasi adalah SDM di dalamnya. Alasan Chun Ha Group menjadi perusahaan besar hari ini, Adalah karena pengorbanan para pekerjanya. Anda sendiri menulis di sini, mengingatnya saja anda berlinang air mata"
Mendengar suara Yoo Bang Yeo Chi langsung tersenyum.
"Kutu kupret ! Hey, apa benar aku menulis seperti itu? Juru tulis yang menuliskannya!". Presdir Jin keceplosan dihahadapan cucunya dan sekretarisnya.
Yoo Bang kembali melanjutkan orasinya, "Gaji para buruh adalah periuk nasi mereka. Kalau perusahan hidup mereka tetap hidup. Kalau perusahaan mati, mereka juga mati. Kita ini satu keluarga. Aku bukan apa-apa bagi perusahaan. Tapi tidak bijaksana memberhentikan orang-orang yang rajin ini. Dengan kekuatanmu membubarkan mereka, energimu itu dapat kau gunakan untuk mencari cara agar kita semua bisa hidup. Bapak Presiden, sekali ini saja"
Presdir Jin menyuruh untuk mematikan siaran. Adakan rapat penting segera!
Namun dewan direksi berpendapat jika mereka menggunakan kekerasan maka berita akan mejadi buruk untuk Chun Ha.
"Kalian ini aneh. Aku tanya karena aku penasaran. Kenapa kalian tidak bicara langsung pada mereka? Bukankah itu yang mereka inginkan? Kalian tak berani keluar dan bertemu mereka?"sela Yeo Chi.
Yeo Chi kembali mencerocos karena dia pikir Chun Ha yang mempekerjakan mereka namun Chun Ha juga yang mengusir, tak mau berbagi keuntungan! Beom Jeung menjelaskan bahwa kerugian pabrik Incheon sudah parah jadi ditutup ada jalan yang terbaik.
"Kalau memang kerugiannya parah, kenapa gaji kalian terus naik setiap tahun? Kenapa dividen pemegang saham terus naik?"sindir Yeo Chi.
Yeo Chi pikir mengurangi gaji eksekutif yang gila tingginya bisa jadi jalan. Sayang Presdir Jin memaksa Yeo Chi untuk keluar.
Mereka melanjutkan rapat. Hang Woo menyarankan untuk menunggu sampai musuh kelelahan, karena ada blokade energi ke pabrik. "Kalau kita desak secara psikologis,
kurasa mereka akan lebih cepat lelah. Serang ke pusat ketika energi mereka habis". Jelas Hang Woo ada rencana untuk memukul mereka. "Pay day, hari yang mengembirakan sekaligus kelemahan mereka".
Di luar pintu gerbang, para ibu dan istri para pekerja mencoba merangsek masuk untuk memberikan makanan dan minuman, terlihat Woo Hee juga mencoba untuk menemui Yoo Bang. Yeo Chi punya niat sama rupanya, namun dia masih di dalam mobil.
"Kau begitu setia. Deputy Cha, apa yang kau harapkan dari pria ayam sayur itu..Tapi itu bukanlah urusanku"ucap Yeo Chi menutupi rasa cemburunya.
Dia bahkan mengelak dari tuduhan Woo Hee bahwa dia datang untuk bertemu Yoo Bang. Untuk kepentingan perusahaan sebagai cucu pemilik Chun Ha, demikian alasannya.
Maka inilah yang diinginkan Hang Woo dan lainnya, memukul pada sasarannya. Sebagian karyawan memilih untuk berhenti dan menerima tawaran, mereka cukup lelah. Beberapa orang mencoba menahan mereka.
Namun sebagian sudah terlalu lelah, dan karena mereka takut jika diusir malah tak mendapat kompensasi. Teriakan para keluarga karyawan pabrik makin keras. Hentikan! teriakan kepala pabrik menghentikan mereka. "Yang mau tinggal, tinggal. Yang lainnya silakan pergi! Itu lebih baik daripada bertengkar antara kita sendiri".
Kepala pabrik tahu, mereka hanya ingin melindungi keluarga mereka. Namun dia tetap bertahan di pabrik, berjuang sampai darah titik penghabisan. Bahkan dia tak menghiraukan ajakan istinya yang mengabarkan ibunya sakit. Karena dia tahu, tanggung jawab kepala pabrik untuk bertahan.
Sekretari Mo dan direktur Beom Jeung semakin dekat, mereka berada ditempat fitnes bersama. Mo Ga Bi heran bagaimana Beom Jeung mampu menaklukan Hang Woo.
"Aku tahu siapa ayah Choi Hang Woo"beber Mo Ga Bi.
"Apakah Presiden tahu hal ini?"tanya Beom Jeung sedikit cemas
"Aku tak memberitahukannya"
Keduanya kini sama-sama mempunyai ambisi yang besar.
Yoo Bang menutup mulutnya. Kepala pabrik dan senior Woo Hee merasa kelelahan karena belum berhasil. "Aku sudah mengerti semuanya tapi tapi 'bug' yang kau katakan, agak sulit kuatasi. Kalau aku bisa lihat blueprintnya,aku yakin bisa menyempurnakannya".
Dan keadaan semakin mengkhawatirkan karena generator pabrik hanya mampu menyuplai listrik 2 hari. Han Shin mengawasi keduanya dari jendela luar.
Yeo Chi bersama Jang Ryang. Mewanti-wanti agar jati diri cucu Presiden Chun Ha agar tidak bocor karena bisa bahaya bagi Yeo Chi yang mencoba masuk pabrik. "Aku tak menyangka kau tertarik kepada orang miskin dan orang menderita". Keduanya masuk ke dalam pabrik.
Hang Woo syok ketika diberi kabar bahwa Yeo Chi pergi ke dalam pabrik.
Beom Jeung dan Bun Kwe mengeluarkan bahan pokok dan obat-obatan yang dibawanya bagi karyawan.
"Kau tak melihatku. Kau hanya melihat Deputy Cha"
"Apa maksudmu? Kau yang kulihat pertama kali"seloroh Yoo Bang.
Woo Hee menjelaskan bahwa mereka datang dengan membawa bantuan, ini semua berkat Yeo Chi. "Buat orang yang tak makan beberapa hari, kau kelihatan baik-baik saja. Karena sedang mogok makan,kau tak boleh makan"ujar Yeo Chi setengah kesal.
"Sekarang kau yang paling cantik, Yeo Chi"puji Yoo Bang.
"Gombal...Kau sadar kalau kau sudah tak makan selama beberapa hari?"
Keduanya sama-sama tersenyum.
Yeo Chi kembali manyun dan cemburu melihat Yoo Bang malu-malu ketika akan diperiksa oleh Woo Hee.
"Apakah kau cucu presiden? Kaukan Direktur Chun Ha Group".
"Benar! Dia cucu presiden!"saut para karyawan yang menyambangi Yeo Chi yang sedang berkunjung ke kantin memberikan bahan pokok. Jang Ryang berusaha mengelak.
"Benar, terus kenapa?!"lantang Yeo Chi tak merasa takut. Caci maki tak pelak tertuju pada Yeo Chi. "Kau membuat kami kelaparan lalu membawa beberapa roti,kau bilang mau menolong kami? Kudengar kau terkenal busuk dan kejam kepada orang lain. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya".
Yeo Chi mendapat lemparan telur bertubi-tubi akan tetapi tetap tak bergeming. Jang Ryang, Bun Kwae bahkan Woo Hee syok tak menyangka demikian. Tepat disaat itu Yoo Bang muncul, kemarahannya memuncak melihat keadaan Yeo Chi. Lantas membawanya keluar..
Sekitar November tahun lalu, Batam mencekam untuk 3 hari. Ribuan pekerja dari penjuru Batam, terutama pekerja industri (Mostly dari Industri Muka Kuning, Industri terbesar di Batam) mengadakan demo besar-besaran di depan gedung Wali Kota. Berjalan kaki sekitar 7-8 km, berbondong-bondong. Tujuannya hanya satu, memprotes kenaikan UMK 2012, dimana kenaikannya yang tidak layak dan tidak sesuai dengan KHL, berkisar 55rb. Trust me, jika kau hidup di sini, kenaikan 55rb setahunnya hampir tidak ada artinya dibandingkan tingkat inflasi di Indonesia. Dan percayalah, mereka tidak akan anarkis jika mereka didengarkan, mereka hanya ingin didengarkan pendapat mereka..
Perjuangan mereka sedikit tak sia-sia, pemerintah merevisi keputusan mereka dan menaikan sekitar 4x lipat dari rencana semula walau tidak sesuai dengan tuntutan para buruh..
Seandainya saja para pengusaha mencoba mengerti, karyawan/pegawai/buruh merupakan partner mereka dalam bekerja.. :D
It's my story..
Suatu hari di siang ketika sibuk bekerja, seorang karyawan perusahaan saia bekerja datang menghampiri mejaku. Menyerahkan berkas perpanjangan Jamsostek. Aku pikir bapak ini kenapa harus jauh-jauh dari Galangan ke kantor pusat untuk menyerahkan ini? bukannya bisa pakai kurir kita? Tersenyum, tidak apa-apa mbak..maka kami mengobrol sejenak. Bapak ini hanya seorang satpam, berfikir tanpa jamsostek dia tahu akan sulit jika harus berobat dengan uang sendiri. Berkeluh kesah dengan gaji dia, kehidupan sehari-hari dia.
Betapa tak adilnya aku pikir, 10 tahun mengabdi namun salary yang standar dengan karyawan yang baru masuk? ya..saia tahu gaji setiap karyawan, karena saya yang menghitungnya setiap bulan. Miris selalu, kesal kadang melihatnya..namun saia bukan orang yang bisa mengambil keputusan mengenai mereka. Ketika atasan tak peduli dengan nasib bawahan, maka kami benar-benar kecewa..miris ketika protesku hanya disambut seperti kicauan burung. :Lol
You khow, sometimes being the salaryman is'nt great at all..
HarleQueen 28 Feb, 2012
-
Source: http://www.pelangidrama.net/2012/02/sinopsis-k-drama-history-of-salaryman_28.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com Share on Facebook
















































