HPK

mesothelioma survival rates,structured settlement annuity companies,mesothelioma attorneys california,structured settlements annuities,structured settlement buyer,mesothelioma suit,mesothelioma claim,small business administration sba,structured settlement purchasers,wisconsin mesothelioma attorney,houston tx auto insurance,mesotheliama,mesothelioma lawyer virginia,seattle mesothelioma lawyer,selling my structured settlement,mesothelioma attorney illinois,selling annuity,mesothelioma trial attorney,injury lawyer houston tx,baltimore mesothelioma attorneys,mesothelioma care,mesothelioma lawyer texas,structered settlement,houston motorcycle accident lawyer,p0135 honda civic 2004,structured settlement investments,mesothelioma lawyer dallas,caraccidentlawyer,structured settlemen,houston mesothelioma attorney,structured settlement sell,new york mesothelioma law firm,cash out structured settlement,mesothelioma lawyer chicago,lawsuit mesothelioma,truck accident attorney los angeles,asbestos exposure lawyers,mesothelioma cases,emergency response plan ppt,support.peachtree.com,structured settlement quote,semi truck accident lawyers,auto accident attorney Torrance,mesothelioma lawyer asbestos cancer lawsuit,mesothelioma lawyers san diego,asbestos mesothelioma lawsuit,buying structured settlements,mesothelioma attorney assistance,tennessee mesothelioma lawyer,earthlink business internet,meso lawyer,tucson car accident attorney,accident attorney orange county,mesothelioma litigation,mesothelioma settlements amounts,mesothelioma law firms,new mexico mesothelioma lawyer,accident attorneys orange county,mesothelioma lawsuit,personal injury accident lawyer,purchase structured settlements,firm law mesothelioma,car accident lawyers los angeles,mesothelioma attorneys,structured settlement company,auto accident lawyer san francisco,mesotheolima,los angeles motorcycle accident lawyer,mesothelioma attorney florida,broward county dui lawyer,state of california car insurance,selling a structured settlement,best accident attorneys,accident attorney san bernardino,mesothelioma ct,hughes net business,california motorcycle accident lawyer,mesothelioma help,washington mesothelioma attorney,best mesothelioma lawyers,diagnosed with mesothelioma,motorcycle accident attorney chicago,structured settlement need cash now,mesothelioma settlement amounts,motorcycle accident attorney sacramento,alcohol rehab center in florida,fast cash for house,car accident lawyer michigan,maritime lawyer houston,mesothelioma personal injury lawyers,personal injury attorney ocala fl,business voice mail service,california mesothelioma attorney,offshore accident lawyer,buy structured settlements,philadelphia mesothelioma lawyer,selling structured settlement,workplace accident attorney,illinois mesothelioma lawyer

Menu Navigasi

[Sinopsis] Saikou no Jinsei no Owarikata ~Ending Planner~ Episode 4


Saikou no Jinsei no Owarikata ~Ending Planner~ Episode 4

"Haruka, Happy birthday"ucap Kento diseberang telpon. Haruka terkejut mendengarnya begitu juga Masato dan yang lainnya.

"gomen na, aku tidak bisa merayakannya bersamamu"ucap Ken kemudian.

"arigato. Ken niichan selalu merayakan untukku"ucap Haruka sambil terisak. Hayato dan Momoko mendekati Haruka berusaha menguping ucapan Ken, dan meminta Haruka untuk menanyakan keadaan Kento. Di seberang sana, Ken mendengarkan dengan seksama suara-suara penasaran adik2nya. Ia terdiam kemudian berkata, " semuanya merayakannya untukmu, itu bagus"

Haruka merasa terganggu dengan ketidak sabaran adik2nya, ia pun menjauhkan telpon dan berteriak, "kalian sangat ribut". Ketika ia kembali mendegarkan HP nya, Kento sudah mematikan hpnya. Haruka pun terkejut. Masato yang dari tadi hanya berdiri terperangah segera mendekati Haruka dan mengambil alih Hp, mencoba menghubungi Kento, namun sayang Hp sudah non aktif.

Mereka pun melanjutkan acara makan2 namun kali ini dengan kondisi tidak bersemangat.

"Ken niichan tidak ada di sini, jadi tidak mood lagi"ucap Momoko.

"apa yang sedang ia lakukan, kapan ia pulang, kenapa ia mematikan Hp nya"ucap Haruka lirih.

"mungkin ia habis baterai"ucap Hayato tertunduk.

"ah, ini sudah lama sekali, kita tidak pernah makan bersama"ucap Haruka mencairkan suasana.

"ah, aku yang membuat nabe ini"ucap Momoko.

"kamu hanya mengiris sawinya, lihatlah irisannya seperti ini"ucap Hayato sambil mengangkat sawi yang masih menjuntai panjang karena irisannya tidak sempurna.

"hentikan itu, chibi"ucap Momoko menanggapi Hayato.

"aku akan pindah apartemen lusa"ucap Hayato pada Haruka.

"ha? Kenapa kau kembali? Bukannya kau benci rumah ini?"ucap Haruka.

"hentikan"bisik Haruka. Sementara Masato hanya terdiam kesal sambil menikmati makanannya.

Di kafenya, Kento terdiam, ia melihat daftar miscol di Hp nya yang semua berasal rumahnya. Masato membaca selebaran iklan pemakaman Ihara buatan Haruka, Masato memuji Haruka, Haruka dan Tanaka pun tersenyum puas. Mereka segera menyebarkan selebaran tersebut ke setiap tempat. Haruka juga ikut menyebarkan. Ketika ia hendak membagikan selebaran di sebuah tempat, ia melihat punggung laki2 yang mirip dengan teman onlinenya sedang menempel sebuah poster usaha pemakaman bernama 'THE SUN', ia terdiam membisu. Kemudian pria itu membalikkan badannya, melihat sepintas ke arah Haruka, kemudian pergi melewatinya.

Masato mendatangi sebuah kedai, ia meletakkan selebarannya di sana lalu memesan teh, ia mendengar sebuah percakapan 2 orang pelanggan lainnya.

"kenapa kau tidak mengerti aku"ucap pria berkacamata.

"semua ini bisa selesai kalau kamu membiarkannya pergi"ucap pria tua

"sudah saya bilang ini tidak mudah"ucap pria berkacamata ngotot. Pria tua itu membelalakkan matanya, "kalo gitu pakai saja asuransiku untuk menyelesaikannya"ucap si pria tua.

"jangan mengatakan hal seperti itu. Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya"ucap si kacamata. Masato masih menguping pembicaraan itu dengan seksama.

"aku sudah menuliskan semuanya dalam wasiatku, hanya bagian pemakaman, aku ingin kau melakukannya dengan baik."ucap pria itu kemudian pergi.

Pelayan kafe menanyakan kondisi si pria tua, namun si pria mengatakan ia baik2 saja. Pria berkacamata ikut bangkit dan membayar minuman mereka. Ia mengambil selebaran pemakaman Ihara dan membacanya. "bisnis ini mengharapkan kematian seseorang?"ucap si pria berkacamata.

"sumimasen?"ucap Masato kemudian bangkit mendekati si kacamata.

"jangan melakukan promosi pemakaman di sini. Membawa kesialan"ucap pria kacamata. Masato pun terdiam dan mengangguk menanggapinya.

Telpon rumahnya berdering, dengan segera Masato mennghampirinya, "haik...haik,,,"ucapnya sambil meraih gagang telpon. "ya, salon pemakaman Ihara di sini"

"Masapyon, ada sebuah kecelakaan di pinggir sungai Kamiogi. Bisakah kau ke sini untuk mengambil jasadnya?"ucap Yuki dari seberang telpon.

Masato dan Tanaka segera pergi ke sungai Kamiogi. Nagamie segera mengalihkan tugas pada kepolisisan Koenji. Yuki membuka kain menutup mayat dan menunjukkan wajah mayat tersebut. Betapa terkejutnya Masato, karena yang ia lihat adalah wajah pria tua yang di temuinya di kedai tempo hari.

"ia adalah Okabe Keisuke, 80 tahun. Dia adalah presiden dari grup Okabe, sebuah perusahaan konstruksi dari Higashi Koenji. Waktu kematiannya berkisar antara jam 5-7 sore ini. Penyebab kematiannya adalah serangan jantung. Teman memancingnya menghubungi kami setelah mengetahui ia hilang. Dan setelah kami telusuri, tubuhnya ditemukan di dalam sungai"jelas Yuki pada Masato. Masato terdiam sambil mengingat momen pertemuannya dengan si pria tua dan pria kacamata.

Tim kepolisian membawa jasad ke kamar mayat, tidak berapa lama, pria berkacamata datang.

"tuan Okabe, mereka adalah salon pemakaman yang memindahkan tubuhnya"ungkap Nagamie kepada pria kacamata yang dipanggil Okabe.

"kami dari salon pemakaman Ihara, mohon gunakan jasa kami untuk mengurus pemakaman ayahmu"ucap Masato dan Tanaka sambil membungkuk kemudian menatap Okabe. Masato kaget karena ternyata putra Okabe adalah pria berkacamata itu, begitu pun sebaliknya.

"ah, pria ini"lirih Masato

"saya Okabe Hideaki. Seperti yang saya katakan, ini membawa kesialan (maksudnya iklan Masato tempo hari)"ucapnya sambil menatap tajam Masato.

"mohon izinkan kami mengurus pemakamannya"ucap Tanaka

"aku tidak ingat pernah mengizinkanmu untuk mengurus pemakaman ini"ucap si Hideaki. Masato dan Tanaka terdiam. Yuki dan Nagamie merasa aneh dan saling pandang.

Lalu masuklah seorang pria berjaket biru bersama seorang wanita, dengan langkah gontai ia mendekati Hideaki, dari arah berlawanan tampak pria muda berkacamata (dugaan Saa dia adalah teman OL Haruka, Ichinose)

"ah, orang dari salon pemakaman"seru pria berjaket biru yang tak lain adalah Tsuyoshi (adik Hideaki), pria muda berkacamata itu berdiri tepat disamping Masato dan memperkenalkan diri sebagai Salon pemakaman 'The Sun' yang akan mengurus pemakaman Okabe.

Tsuyoshi menjelaskan kepada Hideaki Okabe, "ketika kau meminta mencarikan salon pemakaman, aku segera menghubunginya, karena ia bisa diandalkan"

"terimakasih telah menghubungiku"seru pria The Sun. Masato hanya bisa tersenyum kecut. Sementara Hideaki memandang tak enak pada Masato.

"apakah kamu tahu? Dia adalah seseorang yang diperkenalkan oleh Mr Takeda yang engkau pecat, nii-san (kakak)."bisik Tsuyoshi.

"aku tahu"ucap Hideaki.

"bisakah kau beri kami daftar harga?"ucap Hideaki.

"baik, aku akan mengirimkannya"ucap pria The Sun.

"maaf... bisakah kami juga mengirimkan daftar harga kepadamu?"ucap Tanaka.

"bisakah kalian berdua mengiriminkannya pada ku? Aku ingin membandingkan"ucap Hideaki.

Sesampainya di rumah, Masato dan Tanaka segera menyiapkan daftar harga dibantu dengan Yuko dan temannya.

"Ini merupakan persaingan berat"ucap Yuko

"Grup Okabe... hubungan keluarga mereka complicated"ucap Yayoi.

"eh?"ucap Masato kaget kemudian segera mendekati Tanaka dkk

"Hideaki adalah anak tertua, dia telah bekerja di perusahaan lain sejak 5 tahun lalu. Tapi sekarang, karena krisis, Grup Okabe kelihatannya memiliki masalah. Setelah ayahnya memberitahukan perihal ini, ia segera resign dari perusahaan dan kembali ke rumah. Sebenarnya ia tidak terlalu dekat dengan ayahnya"

"sungguhkah?"ucap Masato. (haik..haik.. ceritanya hampir sama dengan Masato yaa)

"Hideaki adalah anak dari istri Okabe dan mantan suaminya. Setelah ia menikah dengan Okabe, ia memiliki anak kedua bernama Tsuyoshi.

"itu artinya Hideaki tidak memiliki hubungan darah dengan ayahnya?"ucap Masato sambil berfikir.

"itu benar. Kemungkinan, ini akan diwariskan kepada anak kedua. Tapi tiba-tiba anak tertua yang tidak memiliki hubungan darah kembali. Sudah pasti orang2 membantah, terutama karena hubungan darah"

Tanaka mencium aroma tidak enak, ia pun berdehem memberi isyarat agar dua wanita ini berhenti bergosip.

"ah ini keluar dari topik"ucap Yayoi merasa tak enak.

"tapi Ken sangat dekat dengan semua orang. Tapi kamu masih belum tahu di mana dia berada sekarang?"ucap Yuko kepada Masato. (hahaha #kompor, bukannya diam, malah to the point nih si Yuko)

"hemmm,,, tapi aku akan melakukannya"ucap Masato dengan wajah ditekuk tujuh.

Di kediaman Okabe, baik Ihara maupun The Sun masing2 menyerahkan daftar harga.

"berbeda 2 juta yen?"ucap Hideaki kepada Masato. "aku akan menyerahkan pemakaman kepada Ihara"ucapnya kemudian.

"baiklah, terimakasih"ucap Masato semangat. Sementara pria The Sun tampak kecewa.

"kami sangat terkenal dikalangan usaha pemakaman. Bagaimana dengan Ihara? aku yakin kau membutuhkan pertolongan"ucap pria The Sun. Masato tampak berfikir.

"tidak masalah. Tidak peduli jenis pemakamannya, kami akan melakukan yang terbaik"seru Masato bersemangat.

"kami menyerahkannya padamu"ucap Hideaki.

"aku membuat pilihan berdasarkan harganya, kurasa kau tidak keberatan"ucap Hideaki pada Tsuyoshi.

"pada akhirnya, kau bergantung pada harga"

"Aku telah katakan sebelumnya, di dunia ini, kamu tidak akan bisa menjalankan perusahaan berdasarkan simpati atau persahabatan. Untuk penghematan, bukankah gaji karyawan di kurangi?"ucap Hideaki

"Mr Takeda adalah ayah partner yang telah membantu selama ini"

"tentu saja aku tahu"

"lalu apa untungnya menolak mereka jadi kita bisa bertahan. Ini akan berarti bila kita bisa kembali bersama mereka!"

"kata-kata yang naif"

"ayah juga tidak setuju dengan pendapatmu. Jika perusahaan gagal atau bangkrut, kita akan kesulitan."

"ayah masih ada dalam ruangan ini"teriak Hideaki sambil memukul meja. Masato terkejut.

"baiklah"ucap Tsuyoshi kemudian menghadap ke pria The Sun.

"aku minta maaf. Aku akan mengizinkan kakakku untuk mengatur pemakaman ayah"ucap Tsuyoshi kemudian membungkuk. Pria The Sun pun mengerti dan mohon pamit.

"jadi, bolehkah saya tahu, siapa yang akan memimpin pemakaman?"ucap Tanaka pada Hideaki.

"pemimpin pemakaman adalah tuan rumah dari perusahaan pemakaman."bisik Tanaka kepada Masato.

"bila ada wasiat dari almarhum, kami akan memenuhi permintaannya"ucap Tanaka

"tidak ada wasiat"ucap Hideaki. Masato terkejut, ia teringat percakapan almarhum di kedai beberapa hari lalu, almarhum mengatakan ia telah menulis semuanya dalam wasiat.

"mengenai itu..."ucap Masato terpotong

"tidak ada wasiat sama sekali"tegas Hideaki. Masato pun terdiam.

"jadi, sebagai anak tertua, maka Mr. Hideaki yang akan menjadi pemimpin pemakaman?"ucap Tanaka

"tidak"ucap Hideaki, "biarkan adikku, Tsuyoshi yang menjadi pemimpin pemakaman"

"ehhh, kenapa?"ucap Tsuyoshi heran, Tanaka dan Masato pun heran.

"Tsuyoshi, kamu akan menjadi presiden dari grup Okabe"

"kenapa?"

"aku akan membantumu seperti biasa. Kamu harus menjadi pemimpin pemakaman. Ini demi kebaikan grup Okabe"ucap Hideaki pada Tsuyoshi. Masato hanya bisa mengamati mereka sambil berfikir apa yang sebenarnya terjadi.

Di kantor polisi, Nagamie sedang membaca sebuah kertas, "asuransi premium senilai 100 juta yen". Yuki yang mendengarnya terkejut dan segera menghampiri Nagamie dan mengambil kertas itu.

"di ajukan 5 tahun lalu? Bersamaan dengan anak tertuanya Hideaki masuk ke Grup Okabe. Dan penerimanya adalah anak tertua Hideaki dan adiknya Tsuyoshi"ucap Yuki heran.

"ini mencurigakan"ucap Nagamie.

Hideaki memasuki ruangan kerjanya terburu2 tanpa menghiraukan karyawan. Ia membuka laci meja dan melihat sebuah amplop di dalamnya kemudian menutup laci dan menguncinya.

"tapi kenapa tiba-tiba menyuruhku menjadi pemimpin pemakaman? Apakah ia sibuk dengan hal lain?"keluh Tsuyoshi pada Masato.

"kenapa?"ucap Masato

"kakak adalah anak tertua, meskipun ayah dan kakak tidak pernah akur."ucapnya seraya memandang jasad ayahnya. Masato pun ikut memandang jasad Okabe.

"baiklah, aku akan melakukan yang terbaik menjadi pemimpin."ucap Tsuyoshi bersemangat. Masato pun ikut bersemangat dan mengiyakannya.

"sebagai referensi untuk pemakaman. Tolong katakan pada kami jika kau memiliki kisah memorabel bersama ayahmu"ucap Masato.

"baiklah..."

"bagaimana dengan kisah anak2"ucap Masato sambil menyiapkan kertas.

"aaaaah kapsul waktu..."seru Tsuyoshi bersemangat.

"kapsul waktu?"tanya Masato sambil menuliskan ucapan Tsuyoshi.

"hmmm, ketika aku lahir, rumah ini baru saja dibangun. Ayahku menanam 2 tanaman di belakang. Satunya milikku, satu lagi milik kakakku. Dan kami menguburkan kapsul waktu di bawah pohon itu. Beberapa waktu lalu kami mengeluarkannya, dan kemudian kami memutuskan untuk membuat satu. Yaitu YOYO, mainan atau sejenisnya. Kami melepaskan keboringan ke dalamnya. Kakak selalu menguburkan itu bersama kami pada saat itu."ungkap Tsuyoshi dengan bahagia sambil mengenang masa lalu. Masato pun tersenyum bahagia menanggapinya.

"bukankah ini harga yang sangat murah? Kita bisa mengalami kerugian"ucap Tanaka membaca daftar harga.

Lalu Hayato pulang, Haruka menyapanya. Namun Hayato segera naik ke atas tanpa menoleh sedikitpun pada Haruka, Masato, maupun Tanaka.

"akan lebih baik bila kita memiliki 1 atau 2 orang yang akan membantu"ucap Tanaka.

"oke, kekuatan keluarga, katakan pada Hayato dan Momoko untuk membantu kita"ucap Masato bangkit dari duduknya. Namun suara keras Momoko mengagetkan mereka,

"apa yang terjadi padamu, ini kelihatan buruk"ucap Momoko mengamati Hayato.

"hentikan, menjauh dariku"hardik Hayato. Namun Momoko masih saja mengamati Hayato.

Masato segera naik dan membalikkan tubuh Hayato, "Hayato apa yang terjadi?"

Haruka segera mengobati luka di wajah Hayato. Hayato mengaduh kesakitan, namun Haruka menghiraukannya.

"apa yang terjadi Hayato?"tanya Masato

"aku diserang preman"

"kenapa tidak telp polisi?"

"tidak, aku tidak mengenal mereka. Ah, aku telah memindahkan semua barang2ku dari apartemen"ucap Hayato mengalihkan pembicaraan.

"benarkah? Oh ya, kami memiliki sesuatu yang hal penting saat ini. Aku ingin Hayato dan Momoko meminjamkan tangan kalian untuk menolong kami"seru Masato sambil bangkit mendekati Momoko kemudian menepuk pundak Momoko.

"tidak, aku masih smu"elak Momoko.

"tidak masalah, kamu akan tahu bagaimana melakukannya"ucap Masato menyemangati Momoko.

"aku akan menolongmu, Momoko ayolah bantu kami juga"ajak Hayato.

"eh? Kenapa?"seru Momoko terkejut. Haruka dan Masato pun heran.

"terimakasih pada pemakaman kita bisa tumbuh besar seperti sekarang dan kita bisa sekolah karena ini. Bila kita tidak membantunya ini akan mempengaruhi jatah kita"ucap Hayato sambil mengompres luka nya. Haruka memicingkan mata tanda mencium gelagat mencurigakan. Momoko masih keheranan.

"lihatlah, sepertinya ia merencanakan sesuatu"batin Masato sambil mengunyah makanan.

Pagi harinya, di ruangan kerja, tampak Yuko dan Yayoi menyerahkan copyan list harga. Masato minta izin untuk mengunjungi keluarga Okabe. Yayoi menghampiri Masato dan menanyakan keadaan Haruka. Masato heran, "kenapa dengan Haruka"

"bukankah dia sedang berkencan? Aku melihatnya dihari ultahnya, ia memakai pakaian sangat cantik dan terlihat seperti menunggu seseorang. Apakah ia sedang jatuh cinta?"

"cinta?"ucap Masato sambil geleng2 kepala.

"lebih baik perhatikan dia, jangan sampai tergoda dengan pria buruk"ucap Yuko

"betul, aku takut ia akan terluka karena ia adalah gadis yang serius"ucap Yayoi. Masato terlihat stress, ia mencoba menghentikan ucapan kedua wanita ini.

Masato mengunjungi rumah Okabe, tampak di halaman belakang Hideaki sedang memandang pohon.

"selamat pagi,"sapa Masato

"ah, terimakasih atas kerja kerasmu"ucap Hideaki menoleh ke arah Masato kemudian kembali memandang pohon. Masato menghampiri Hideaki,

"ah, apakah ini brother trees? Terlihat sangat indah."ucap Masato

"aku benci pohon ini sejak kecil"ucap Hideaki meninggalkan pohon itu kemudian duduk tapi masih tetap memandang pohon tadi.

"kenapa?"

"Khasnya, pohon memori ini sebaiknya di tanam sesaat setelah kami lahir. Aku dibawa ibuku setelah ia menikah kembali dan melahirkan Tsuyoshi. 2 pohon ini ditanam bersamaan. Jadi memiliki tinggi yang sama. Faktanya kami meiliki perbedaan usia 6 tahun"

"tapi kau telah menguburkan kapsul waktu bersama tuan Tsuyoshi ketika masa anak2"

"siapa yang bisa mengingat masa kanak2 dengan jelas?"ucap Hideaki tertawa.

Tiba-tiba datang istri Hideaki, "sayang, polisi datang mencari mu"

"polisi?"

Nagamie dan Yuki datang untuk mendoakan almarhum dan menanyakan beberapa hal penting.

"sesuai dengan catatan, dugaan kematian ayahmu antara jam 5-7 sore hari tanggal 1 fFbruari. Bolehkah kami tahu di mana kau selama periode waktu itu?"ucap yuki

"kami kemari untuk mendapatkan bukti bahwa ia meninggal karena kecelakaan. Jadi kami menanyakan hali ini kepada keluarga dan temannya."ucap Nagamie.

"aku bersama istriku dan belanja bersama, di supermarket ujung jalan"ucap Tsuyoshi

"kamu bisa menanyakan hal ini pada karyawan supermarket"ucap istri Tsuyoshi.

"bagaimana dengan mu Hideaki-san?"tanya Yuki

"aku tidur di rumah"

"kenapa tidur begitu awal?"

"aku sedang flu"

"apakah ada orang di rumah?"

"tidak"

"aku pergi ke kelas Hula dance"ucap istri Hideaki.

"jadi pada tanggal 1 Februari, tidak ada yang menyaksikan Hideaki-san di rumah, benar khan?"

"ya"

"bisakah kami undur jadwal pemakaman Okabe-san? Ihara-san aku mengizinkanmu untuk menghandle jasadnya"ucap Nagamie pada keluarga Okabe kemudian Masato. Tsuyoshi tampak kaget.

"oke"ucap Masato masih dengan kondisi bingung.

"kenapa"gumam Hideaki dengan wajah panik. Masato selalu memperhatikan mimik wajah Hideaki.

Masato membawa jasad Okabe ke rumahnya dan memasukkannya ke dalam peti es.

"kenapa harus menjadi seperti ini?"ucap Tsuyoshi.

Haruka menuruni anak tangga dengan terseok-seok, "permisi, aku ingin bicara dengan Tsuyoshi-san yang menjadi pemimpin pemakaman mengenai hal-hal selanjutnya. Tsuyoshi pun mengikuti Haruka meninggalkan ruangan.

Yuki, memasuki ruangan dengan terengah2, "Nagamie senpai..."

"ada apa?"ucap Nagamie sambil memeriksa beberapa dokumen.

"Okabe grup memiliki banyak hutang. Dan akhir tahun kemarin menjadi masalah serius dengan mencapai 60juta yen "

"motif nya sudah jelas sekarang"

"ya"ucap Yuki masih dengan terengah-engah.

"aku juga memiliki saudara tiri lain ibu. Dia adalah kakak tertuaku"ucap Masato pada Hideaki.

"apakah ia juga bekerja di pemakaman?"

"dia melakukannya di masa lalu. Tapi sekarang ia meninggalkan rumah. Ia selalu menghilang tiba-tiba. Ia orang yang sangat ceria. Tapi saat ini ia menghilang begitu lama. Dan ayah juga sudah meninggal. Dia belum mengetahuinya. Memikirkannya saat ini, kami sebenarnya saudara, tapi kami sepertinya tidak mengenal satu sama lain. Merasa seperti sendirian. Lalu..."ucap Masato dengan wajah sedih kemudian memandang Hideaki.

"ada apa?"tanya Hideaki yang dari tadi mengamati Masato.

"pertama kali aku bertemu Hideaki-san, aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan ayahmu, ayahmu meninggalkan wasiat"selidik Masato.

"apa yang kamu bicarakan?"

"tolong jelaskan pada kami"ucap Yuki yang tiba-tiba muncul bersama Nagamie.

Hideaki mendatangi kantornya, diikuti Masato, Yuki, Nagamie, dan pengacara keluarga Okabe. Ia membuka laci meja dan mengeluarkan amplop. Para karyawan berkumpul menyaksikan semuanya, Tsuyoshi menyeruak dari kerumunan karyawan, " baru sekarang kau menunjukkan wasiat. Apa maksudnya ini? Apakah di dalamnya tertulis hal mengenaimu? Katakan sesuatu! Kenapa kau menyembunyikan wasiat?!"teriaknya pada Hideaki kemudian menyerang Hideaki. Nagamie dan Masato menarik Tsuyoshi dan menenangkannya. Sementara Hideaki hanya terdiam.

Pengacara Keluarga Okabe membuka surat wasiat, Hideaki terdiam dengan wajah pucat, sementara Tsuyoshi masih dengan wajah kesalnya. Setelah membukanya pengacara segera menyerahkan kepada Yuki. Yuki terkejut membaca isi wasiat tersebut dan menjadi serba salah, "tidak ada yang tertulis di sini"ucap Yuki sambil meletakkan wasiat diatas meja.

Hideaki tampak lega, Masato tetap memperhatikan Hideaki. Tsuyoshi segera meraih kertas itu,"tidak ada yang tertulis di sini. Kita tidak bisa mengetahui apapun"ucap Tsuyoshi kesal.

"kita kembali ke point utama"bisik Nagamie pada Yuki.

Hideaki tampak ketakutan, berulangkali ia terlihat menelan ludah dan tertunduk, Masato tidak pernah lepas memeperhatikannya.

Yuki, Nagamie, dan Masato meninggalkan kantor, Masato menuju mobilnya, sementara Nagamie menuju mobilnya, Yuki tiba2 meminta izin sebentar kemudian berlari mengejar Masato, "berhenti Masapyon"seru nya seraya meraih tubuh Masato dan mencengkram leher Masato, "kau sudah mengetahui perihal wasiat, kenapa kau tidak memberitahuku". Masato tidak bisa berkata apa2, ia mengaduh, Yuki pun melepaskan cengkramannya.

"maafkan aku"ucap Masato

"aku selalu membantumu, Shizuoka, Karuizawa, aku selalu menemanimu"seru Yuki kesal.

"aku benar2 minta maaf. Aku tidak berniat menyembunyikannya darimu"ucapnya dengan wajah sedih. Sehingga Yuki pun melembutkan suaranya.

"jadi kenapa? Jelaskan padaku"

"Hideaki-san terlihat seperti kakakku"

"Masapyon, kamu punya kakak?"

"kakak tiri. Aku berfikir dia mungkin seperti Hideaki-san. Mungkin ia khawatir mengenai hubungan darah? Mungkin ini menjadi masalah baginya?"

"aku iri padamu"

"eh??!!"

"aku anak tunggal. Lupakan itu, lain waktu kau harus membantuku. Kau harus mengatakan padaku apapun yang kau ketahui"

"baik"

Masato duduk merenung sambil memainkan anjingnya. Dari belakang tampak Iwata-san muncul. Masato yang sedang sibuk berfikir sangat terkejut hingga hampir terjatuh melihat Iwata-san sudah duduk disana memainkan tanaman hias. Masato menceritakan perihal kasus keluarga Okabe. Iwata-san meminta Masato supaya tidak menyesalinya.

Di dalam rumah, Haruka sedang online, ia melihat ada satu pesan untuknya, ia pun langsung membukanya. –apa yang terjadi padamu? Tidak ada update blog dan tidak ada kontak setelah kejadian terakhir, aku sangat khawatir- Haruka pun mengingat kejadian janjiannya tempo hari. Tiba2 terdengar suara Masato memanggilnya, Haruka segera menutup laptopnya.

"sudah berapa lama kau membantu bisnis?" anya Masato sambil berdiri di sudut pintu memandangi Haruka.

"kenapa? Kenapa kau bertanya hal ini tiba2? Baru 4 tahun"jawab Haruka sambil pura2 mengecek berkas2.

"tidak ada. Hanya berfikir bahwa kamu bekerja terlalu keras dan tidak ada waktu istirahat.

"eh?"

"jika terjadi sesuatu, kamu harus memberitahu aku"

"seperti apa?"

"contohnya jika kamu menyukai seseorang..."

Haruka terkejut mendengarnya, "apakah kau melihatnya?"teriaknya pada Masato, sehingga Masatopun terkejut.

"bukan aku. Tapi YaYoi-san"

"kenapa Yayoi-san melihat komputer orang lain?!"

"komputer?"tanya Masato makin bingung.

"bukan apa2. Apapun itu, tolong jangan ikut campur privasi orang lain"

Malam harinya, saat makan malam, Hayato menyanyakan janji Haruka perihal warisan. Momoko yang mendengarnya segera tertawa. Sehingga Hayato pun sadar kalau ia tertipu oleh Haruka.

"itu karena kau tidak akan pulang, kalau kami tidak menipumu"ucap Haruka dengan ekspresi dingin.

"aku tidak ingin melakukan ini, aku ingin keluar."ucap Hayato

"bukankah kau mencuri uang dari loker?"ucap Masato

"aku tidak peduli! Aku butuh pekerjaan dengan bayaran besar"ucap Hayato kemudian bangkit.

"kamu hanya melakukan ini karena uang khan?"seru Masato ikut bangkit. Hayato memandang marah ke Masato ia pun segera menyerang Masato. Dan battle Ihara brother pun terjadi. Momoko dan Haruka menyingkir dari meja makan, menyaksikan perkelahian dua saudaranya.

"apa salahnya kalau aku melakukannya demi uang?!!"

"apa yang kau lakukan bajingan"

"jangan berakting seperti orang baik! Padahal sebelumnya kau tidak pernah peduli rumah. Ken niichan juga! Hanya melakukan apa yang dia suka, iya khan?"

"tidakkah kau fikir, buruknya mencuri uang!"

"aku tidak peduli!

Haruka segera membuka teko dan menyiramkan isinya ke arah Masato dan Hayato, "hentikan!!!!". Masato dan Hayato terdiam, mereka saling melepaskan cengkraman dan terduduk.

Masato duduk berdoa di depan meja pemujaan ayahnya,

"bajingan itu hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi aku juga tidak pulang ke rumah selama 4 tahun, mengejutkan bahwa aku tidak memahami mereka. Kapan Ken-niichan ada di sini, bagaimana keadaannya? Ayah".

Di kafe tempat Ken bekerja, seperti biasa Taizo and friend selalu menjadi pengunjung setia.

"Apakah ayahmu baik di Tokyo?"tanya Taizo

"ya"jawab Ken sambil membersihkan gelas2.

"bagaimana dengan adik2mu?"

"sangat bahagia. Karena mereka penuh energi"

"berapa jumlah mereka?"

"eh? Jumlah mereka?"

"ehhh, hehehe, kamu melakukannya lagi. Lebih baik kau katakan pada kami."

"mereka lebih muda dan lebih cute"

"bukan dari ibu yang sama?"

"ya, itulah kenapa mereka sangat cute"

"tapi itu sangat membahagiakan, hidup bersama keluarga besar. Tidakkah kau merasa kesepian saat tidak bersama mereka?"

"hemmmm, itu benar"

Masato membuka kembali wasiat ayahnya, ia membacanya, hal ini selalu ia lakukan bila ia sedang galau. Di tempat lain, Hideaki sedang memandangi wasiat kosong peninggalan ayahnya.

Keesokan harinya, Hideaki duduk termenung memandangi pohon kenangan, Masato datang mengunjunginya, Ia menanyakan kenapa Hideaki-san tidak melihat ayahnya. Ia juga memiliki suatu pertanyaan penting untuk Hideaki-san,

"apa yang tertulis dalam wasiat ayahmu?"tanya Masato serius. Hideaki kaget.

"apa yang kau katakan? Seperti yg kau lihat, itu hanya sebuah kertas kosong"

"aku rasa, Hideaki-san mengetahuinya. Kertas putih itu berisi fikiran ayahmu"

"kamu tidak tahu apa2. Jangan bicara yang tak masuk akal"

"perasaan ayahmu..."

"seolah-olah kamu mengetahui segalanya??!"

"aku tahu ayahmu hanya meninggalkan wasiat kepadamu Hideaki-san. Mungkin itu sulit bagimu, tapi ayahmu, tidakkah ia meninggalkan wasiat yang hanya kau mengerti? Karena ketika kau melihat kertas kosong itu, hatimu bergetar. Ketika ayahku meninggal, dia mengatakan untuk menutup usaha pemakaman, ia juga munulis dalam wasiatnya, tapi mungkin yang sebenarnya ayahku inginkan adalah ia ingin kami melanjutkan usahanya. Itulah yang aku tangkap. Setelah ia meninggal, barulah aku mendapatkan beberapa pelajaran. Bukankah Hideaki-san juga sama? Kertas putih itu, bukan sekedar kertas putih biasa, iya khan?"ungkap Masato berkaca-kaca. Hideaki terdiam. Ia segera mengambil sendok penggali dan mulai menggali tanah di sekitar pohon memori. Masato memperhatikannya dengan seksama.

"katakan pada semua orang untuk datang ketempat ayahku"ucap Hideaki.

Nagamie, Yuki, Tushiyo, Masato, dan Hideaki berkumpul di depan peti es Okabe. Hideaki membuka kapsul waktu yang tadi ia galih.

"yang tertulis dalam wasiat ayah adalah ini"ucapnya sambil mengeluarkan tumpukan surat dari kapsul waktu.

"ketika aku berusia 6 tahun, ibuku membawaku ke rumah Okabe. Saat itu ayahku sedang membangun rumah dan Tsuyoshi lahir. Ayah menanam pohon di halaman belakang. Ia mengatakan bahwa pohon itu adalah untuk bayi yang baru lahir dan Hideaki. Aku memiliki usia 6 tahun lebih tua, tapi aku memiliki usia yang sama dengan pohon bayi. Itulah kenapa aku membencinya. Kemudian ayah berkata, kalau ia juga ayah Hideaki sejak saat itu. Ia berjanji akan menulis banyak surat untukku. Dia mengatakan, ia akan memberikan surat baru dan ia memintaku mengatakan kehidupanku 6 tahun sebelumnya. Sejak saat itu ayah selalu menulis surat untukku dan aku juga selalu membalasnya. Apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka. Apa yang aku takutkan dan apa yang membuatku bahagia. Aku tulis semua dalam surat yang ayah berikan padaku. Kemudian kertas kosong setelah 6 tahun itu muncul. Sejak saat itu hidupku dan ayah dimulai. Walaupun waktu berlalu dan saya semakin dewasa, karena keegoisan dan keimaturan, aku kehilangan hal penting. Pelajaran ini telah diajarkan oleh ayahku. Ini menjadi pelajaran bagiku setelah kematiannya. Perasaan ayah, tidak pernah berubah"ucap Hideaki sambil terisak.

"Tsuyoshi,,, aku berbohong. Mengenai keberadaanku saat ayah meninggal. Aku sedang dalam pertemuan proyek ilegal pembangunan stadium di area lokal, tapi aku tidak melakukannya. Grup Okabe tidak akan bertahan lama. Ayah selalu berkata untuk menjual rumah, tapi aku ingin melindungi rumah itu, di sana terdapat banyak kenangan masa anak2. Dan juga tempat kita kakak-beradik dibesarkan. Aku ingin menjaga rumah itu. Tapi aku salah. Tsuyoshi, maaf. " cap Hideaki pada Tsuyoshi. Tsuyoshi hanya memandangi Hideaki dengan seksama.

Upacara pemakaman pun dilangsungkan, Yuko dan Yayoi sibuk menyiapkan bunga. Sambil berbincang2, "aku dengar Grup Okabe terlibat dalam proyek ilegal. berita itu telah menyebar ke banyak orang, sepertinya tidak akan ada yang datang ke upacaranya"ucap Yayoi.

"oh, ini akan menjadi pemakaman yang sunyi"ucap Yuko.

Tanaka dan Masato menyusun kursi2, Tsuyoshi berjalan gontai mendekati peti Okabe. Dia membuka kacanya dan memandangi ayahnya. Hideaki memandang iba ke arah Tsuyoshi, kemudian pintu terbuka, ternyata Hideaki diantar Yuki dan Nagami, memasuki ruang upacara. Masato terkejut, begitu juga Tsuyoshi.

"kami harus kembali secepatnya"ucap Yuki.

"ayah, ia hanya meninggalkan wasiat yang hanya dimengerti oleh kakak. Aku rasa itu karena, ia ingin kau menjadi penerusnya."ucap Tsuyoshi sambil memandangi ayahnya,

"Tsuyoshi?"lirih Hideaki

"tidak peduli, apa yang aku pahami, bukan karena semua ini, tapi aku menunggumu. Sekali lagi. Memulai yang baru, mari kita bekerja bersama, kakak!"ucap Tsuyoshi sambil membalikkan badannya menghadap Hideaki. Hideaki terkejut, ia ingin menangis namun ia tahan. Masato tersenyum mendengarnya. Kemudian berdatanganlah karyawan Okabe Grup untuk mengikuti upacara pemakaman. Hideaki dan Tsuyoshi saling tersenyum dan memandang wajah ayah mereka.

Hideaki mengucap terimaksih kepada Masato, Masato terharu dan bahagia. Yuki tersenyum melihat semuanya. Upacara pemakaman pun dimulai.

Masato membawakan minuman untuk Iwata-san yang sedang duduk di halaman rumahnya. Iwata heran melihat minuman yang dibawa Masato, sehingga Masato juga jadi heran.

"suatu hari, saat aku bertemu kakak, aku ingin bicara padanya, mungkin kami akan bertengkar" ucap Masato

"bertengkar? Kamu?"ucap Iwata heran. Masato pun tersenyum menanggapinya.

Untuk ayah, wasiat yang ayah tinggalkan, mungkin bukan karena ia tahu akan mati. Tetapi karena di dalam hatinya, banyak memikirkan tentang kami. Hanya penglihatan ayah yang bisa melihat, kami tidak pernah mengetahui tentang kakak. Aku ingin tahu apa yang ayah lihat? Di dalam hatiku, aku sungguh ingin bertemu dengan kakak sekarang. Dan merasakan perasaan bahwa kami bersaudara. Ah, hanya bercanda semuanya...

Masato menerima telpon yang memberitahukan bahwa Hayato ditangkap Polisi. Sementara itu Momoko seperti biasa menjadi simpanan gurunya, ia terkejut melihat screenhp foto si guru bersama wanita dan anak kecil. Haruka masih sibuk menanggapi pesan teman onlinenya. Di tempat lain, Ken chan sedang berdiri di bawah terang lampu, memandang hitamnya langit. Masato segera berlari ke kantor polisi untuk menemui Hayato.

Author's note: Aku begitu terhanyut dengan polemik persaudaraan Ihara. Masato, walaupun terlambat, ia lebih dulu mendapatkan pelajaran berharga dari kematian ayahnya. Ia mencoba menjadi pengganti ayahnya dan Ken dalam menghandle kondisi rumah. Namun sayangnya, sebagai orang yang pernah melakukan kesalahan (meninggalkan rumah), Masato tidak mendapat kepercayaan dari adik2nya, ia pun tersadar kalau ternyata ia tidak memahami satu persatu adiknya. Aku penasaran, bagaimana nantinya Masato menyatukan keluarganya...

See you next episode


Written: Saa @pelangidrama.net
Image: Ari @pelangidrama.net

DON'T SHARE TO OTHE SITE !!!

さくら21Saa 26 Feb, 2012


-
Source: http://www.pelangidrama.net/2012/02/sinopsis-saikou-no-jinsei-no-owarikata_26.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com Share on Facebook